Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alfin Nur Ridwan

Kunang-Kunang yang Hilang dan Obrolan yang Kita Anggap Remeh

Ulas Dulu | 2025-11-22 18:27:16
Ilustrasi: AI

Jika kalian berjalan dari arah Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ke arah Jalan Rajawali Raya, maka ketika sebelum sampai di ujung jalan, tepatnya sebelah kiri jalan, berdiri sebuah kafe sederhana bernama Sagara. Tidak ada yang istimewa dari bangunannya; meja kayu sederhana, bangku panjang, dan aroma mie goreng yang menguar seperti warung burjo pada umumnya.

Tapi, seperti banyak tempat yang tampak biasa, justru di situlah sesuatu yang tak biasa sering tumbuh. Sagara bukan sekadar tempat makan murah meriah yang buka 24 jam. Buatku dan kawan-kawan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan, ia adalah semacam ruang antara tempat singgah ketika dunia kampus terasa terlalu gaduh, dan tempat pulang ketika tugas mengejar tanpa ampun.

Kami datang dari berbagai jurusan, latar, dan usia. Ada yang semester tua yang mulai diganggu oleh tugas akhir, ada yang baru masuk kuliah dan masih kikuk memegang laptop, ada pula yang datang hanya untuk numpang wifi dan berakhir ikut diskusi panjang sampai larut malam.

Tapi di meja kayu Sagara, semua itu cair; batas-batas identitas seperti tak penting. Di sana kami ngobrol tentang isu-isu sekitar kampus, kadang tentang majalah yang harus segera naik ke percetakan, kadang tentang politik nasional dengan gaya sok-sok kritis, dan lebih sering tentang hal-hal yang menurut orang mungkin sama sekali tidak penting, atau setidaknya, tampak tidak penting.

Dan justru dari obrolan-obrolan ringan itulah ada sesuatu yang tumbuh: rasa dekat. Rasa menjadi bagian dari sebuah rombongan kecil yang sedang belajar yang kawanku sebut sebagai “dasar-dasar berkehidupan”. Kadang aku merasa, yang menyatukan kami bukanlah idealisme jurnalistik atau kesamaan visi organisasi, melainkan kebiasaan untuk membahas hal-hal receh yang tak perlu diperdebatkan, tapi perlu dirasakan.

Suatu malam, di antara bising mereka yang berteriak-teriak karena game onlinenya, aku melempar sebuah pertanyaan sederhana yang bahkan aku pun tak tahu alasannya keluar begitu saja:

“Kapan terakhir kali kalian lihat kunang-kunang?”

Seketika meja itu hening. Hening yang aneh, seperti semua orang sedang membongkar laci kenangan yang sudah bertahun-tahun tak dibuka. Seorang kawan menyengir sambil berkata, “Kayaknya pas SD ” Yang lain menatap ke atas, mencoba mengingat apakah pernah melihat cahaya kecil itu menyala di rerumputan belakang rumah neneknya. Bahkan di lain pertemuan, seorang mahasiswa baru justru berkata ia belum pernah melihat kunang-kunang sama sekali.

Obrolan itu berlangsung singkat, ringan, receh. Kami tertawa kecil, saling mengejek betapa kami terdengar seperti orang-orang yang terlalu sentimental untuk ukuran malam itu. Setelah itu, bahkan pembahasan kerap sedikit melenceng dan nyeleneh. Seperti dari mana sumber listrik dari cahaya yang dihasilkan kunang-kunang, atau celetukan tentang kunang-kunang yang kini tinggal menjadi kenang-kenang.

Tapi beberapa hari kemudian, aku melihat sebuah postingan Instagram dari Mongabay: “Kian Sulit Temukan Kunang-Kunang, Dampak Krisis Iklim?” Dan entah kenapa, aku sedikit tersenyum. Rasanya seperti menemukan jembatan yang menghubungkan obrolan receh kami dengan isu besar yang sedang mengguncang dunia.

Ternyata apa yang kami anggap hanya sebagai nostalgia masa kecil, atau bahan bercanda tengah malam, justru merupakan gejala dari sesuatu yang jauh lebih serius. Kunang-kunang semakin jarang muncul bukan hanya karena kita tumbuh besar, bukan karena kita jarang main keluar rumah, tetapi karena habitat mereka rusak, cahaya artifisial semakin mendominasi malam, dan pola iklim berubah dengan liar.

Dan dari situ aku tersadar: obrolan-obrolan ringan di Sagara itu bukan sekadar cara menghabiskan waktu. Ia adalah cara paling manusiawi untuk belajar tentang sebuah kepekaan. Banyak hal besar justru bermula dari hal kecil, dari sebuah pertanyaan iseng yang membuat satu meja hening, dari rasa penasaran yang muncul tanpa rencana, dari tawa yang kemudian berubah jadi kesadaran.

Masalahnya, di era sekarang ruang seperti ini semakin langka. Banyak orang terlalu sibuk menunduk ke layar, tenggelam dalam notifikasi yang tak ada ujungnya. Yang lain terlalu sibuk tampil serius; membahas filsafat dengan wajah tegang, seolah percakapan hanya layak dihargai jika berat dan berkonsep.

Kita sering lupa bahwa obrolan ringan bukan tanda kurang intelektual, ia justru fondasinya. Sebab sebelum kita bisa memahami dunia, kita perlu bisa ngobrol tentang hal-hal kecil yang membentuk pengalaman hidup kita.

Di meja-meja Sagara, aku belajar bahwa kesadaran sosial tak selalu lahir dari forum resmi, seminar kampus, atau diskusi yang penuh kutipan teoritis. Kadang ia lahir dari tawa di antara gelas-gelas es teh dan kopi, dari kejujuran kecil saat kita mengaku rindu masa kecil, dari kenyataan bahwa kita hidup di dunia yang berubah terlalu cepat bahkan untuk sekadar mempertahankan keberadaan kunang-kunang.

Obrolan itu mungkin terdengar receh bagi orang lain, tapi bagi kami, itu menjadi titik kecil yang membuka pintu ke percakapan lain. Tentang krisis iklim, kota yang semakin panas, cahaya lampu yang menutupi bintang, dan tentang bagaimana kita sebagai anak muda mau tidak mau harus belajar peduli.

Dan betapa indahnya menyadari bahwa kami menemukannya bukan di ruang akademik, melainkan di sebuah kafe sederhana bernama Sagara, tempat hal-hal besar sering menyamar menjadi obrolan receh. Tempat di mana kunang-kunang yang jarang terlihat justru hadir lewat percakapan, membuat kami ingat bahwa dunia ini luas, rapuh, dan layak dibicarakan, bahkan dimulai dari pertanyaan paling sederhana.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image