Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hibrida Anfazha Ali Hasan

Menyelamatkan Cita-Cita Emas: Stunting sebagai Ujian Utama Kualitas SDM 2045

Eduaksi | 2025-11-19 18:17:44

Angka Optimisme yang Disambut Peringatan

Visi Indonesia Emas 2045 adalah mercusuar harapan kita—sebuah masa di mana Indonesia berdiri sebagai negara maju dengan pendapatan per kapita tinggi, didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Namun, optimisme ini disambut oleh satu tantangan struktural yang sunyi namun mematikan: stunting.

Laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang menunjukkan penurunan prevalensi stunting menjadi 19,8% (hampir mencapai batas toleransi WHO 20%) memang patut diapresiasi. Ini adalah bukti kerja keras pemerintah pusat, daerah, dan kader kesehatan. Namun, angka ini tidak bisa menjadi euforia sesaat. Angka 19,8% tetap berarti bahwa hampir satu dari lima anak balita Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan kronis. Ini adalah krisis yang mengancam fondasi SDM yang kita harapkan pada tahun 2045.

Stunting: Bukan Sekadar Tinggi Badan, Tapi Kualitas Otak

Stunting adalah kegagalan gizi kronis dalam periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya bukan sekadar fisik; ia adalah kerusakan permanen pada perkembangan kognitif dan otak. Anak yang mengalami stunting memiliki potensi akademik dan kemampuan belajar yang lebih rendah.

Persoalan Disparitas Data dan Realitas Lapangan . Angka agregat 19,8% masih menunjukkan disparitas signifikan. Masih ada provinsi-provinsi di kawasan Timur Indonesia, bahkan beberapa di Jawa, yang memiliki prevalensi di atas 30%. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang berhasil di satu daerah belum tentu dapat direplikasi di daerah lain karena perbedaan konteks sosial-ekonomi. Tanpa pendekatan yang tailor-made dan fokus intensif pada wilayah berkasus tinggi, target 14% akan sulit tercapai.

Ancaman Nyata terhadap Indonesia Emas 2045

Jika kita melihat ke depan, anak-anak yang lahir hari ini akan menjadi tenaga kerja produktif pada tahun 2045. Jika satu dari lima calon angkatan kerja kita memasuki masa emas tersebut dengan kemampuan kognitif yang terganggu, bagaimana Indonesia bisa bersaing di panggung global?

1. Ancaman terhadap Bonus Demografi: Kita akan mencapai puncaknya bonus demografi menjelang tahun 2045. Jika sebagian besar penduduk usia produktif kita tidak optimal secara intelektual, bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi. Kita akan memiliki banyak penduduk, namun minim kualitas dan daya saing.

2. Kerugian Ekonomi Jangka Panjang: Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi akibat stunting bisa mencapai 2% hingga 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun. Angka ini setara dengan ratusan triliun rupiah yang hilang setiap tahun karena produktivitas yang menurun. Selain itu, individu eks-stunting memiliki risiko kronis kesehatan yang lebih tinggi saat dewasa, yang pada membebani sistem kesehatan negara. Menginvestasikan dana untuk pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang yang paling menguntungkan bagi perekonomian nasional.

Kunci Sukses: Integrasi dan Akuntabilitas Lintas Sektor

Penurunan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh Kementerian Kesehatan. Kunci penyelesaiannya terletak pada integrasi dan intervensi sensitif lintas sektor:

· Sanitasi dan Air Bersih: Infeksi berulang akibat sanitasi buruk (BABS) adalah penyebab utama kedua stunting. Oleh karena itu, percepatan penurunan stunting juga harus menjadi tugas Kementerian PUPR.

· Pendidikan dan Pola Asuh: Literasi gizi ibu dan pola asuh yang benar-benar penting. Program edukasi gizi dan makanan bergizi harus menjadi bagian integral dari program PKK dan pendidikan dasar.

· Akuntabilitas Daerah: Meskipun BKKBN memimpin Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S), keberhasilan program sangat ditentukan oleh Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, Wali Kota). Mereka harus menjadi panglima terdepan, memastikan alokasi Dana Desa dan APBD tepat sasaran untuk intervensi stunting di tingkat akar rumput, bukan hanya program seremonial. Komitmen politik di tingkat lokal adalah penentu keberhasilan

 Momentum Sekarang, Dampak 2045

Penurunan stunting dari 37% menjadi di bawah 20% adalah perjalanan panjang yang patut dibanggakan. Namun, untuk mencapai target ambisi di bawah 14% sebagai pemenang Indonesia Emas 2045, kita tidak boleh berpuas diri.

Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur atau peningkatan PDB, tetapi tentang menciptakan generasi yang cerdas dan sehat. Tugas kita saat ini adalah memastikan bahwa setiap anak yang lahir memiliki 1000 hari pertama kehidupan yang optimal, bebas dari ancaman stunting.

Jika kita gagal dalam ujian stunting hari ini, kita sesungguhnya sedang menggadaikan cita-cita Indonesia Emas 2045. Momentumnya ada sekarang; dampaknya akan terasa 20 tahun lagi. Mari jadikan pencegahan stunting sebagai Gerakan Nasional yang mewajibkan seluruh elemen bangsa bertanggung jawab atas masa depan SDM kita, demi mencapai bangsa yang cerdas, sehat, dan kompetitif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image