Bahaya Mengonsumsi Es Teh Pinggir Jalan : Manis di Awal, Risiko di Belakang
Gaya Hidup | 2025-11-19 15:57:21Minuman es teh yang dijual di pinggir jalan memiliki daya tarik yang cukup kuat dan sulit untuk dilewatkan. Dengan rasa manis yang khas, harga yang terjangkau, serta ketersediaannya yang melimpah, minuman ini disukai banyak kalangan. Namun karena popularitasnya yang umum, seringkali kita mengabaikan bahwa secangkir kecil minuman ini dapat membawa berbagai dampak lain, khususnya terkait aspek kesehatan.
1. Kadar gula yang kelewat tinggi lebih manis dari yang kita kira
Bayangkan jika 1cup es teh ditambahkan 2-3 sendok makan gula . Kalau dihitung, satu sendok makan gula setara sekitar 8–10 gram. Artinya, satu gelas es teh bisa mengandung 25–40 gram gula, bahkan beberapa pedagang menambahkan sirup tambahan yang membuat angkanya bisa melonjak hingga 45 gram.
Padahal WHO sudah menetapkan batas aman konsumsi gula harian hanya 25 gram. Jadi ketika kita minum es teh pinggir jalan, kita sering “makan jatah gula” seharian hanya dalam beberapa teguk.ini bukan soal angka saja ,tetapi kesehatan jadi taruhan.
2. Lonjakan resiko diabetes
Minuman yang manis diawal seperti es teh “super-manis” ini bukan hanya bikin segar, tapi juga bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berbergula 1 gelas/hari dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 20–26%. Risiko itu bisa semakin tinggi jika:
· Konsumsi lebih dari satu kali sehari
· Tidak mengonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna
· atau punya riwayat keluarga yang sensitif terhadap gula.
3. Kualitas udara yang “gaming banget”
Yang sering jadi PR besar bukan hanya gulanya, tapi air yang digunakan. Banyak pedagang memakai:
· air mentah
· air isi ulang yang belum tentu lolos uji
· atau es balok industri rumahan yang dibuat dari udara non-steril.
Kalau udara tersebut mengandung bakteri seperti E. coli atau Salmonella, gejala seperti diare, kram perut, atau demam bisa muncul dalam hitungan jam. Dan konsumen tak pernah tahu, karena minuman biasanya terasa sama saja.
4. Teh curah kualitas rendah
Modal kecil untung besar, jika pedagang es menggunakan curah hujan yang murah,maka akan timbul risiko;
· kandungan debu teh lebih banyak dari daun teh,
· memakai pewaena sin tesis di beberapa varian
· Teh yang diseduh terlalu lama bisa memicu pertumbuhan mikroorganisme.
Hasilnya: minuman terlihat menggugah, tapi tidak selalu aman.
5. Proses pembuatan yang kurang higienis
Peralatan yang dipakai berkali-kali tanpa dicuci bersih dapat menumpuk:
· sisa teh basi,
· minyak dari gelas,
· Bahkan serpihan gula karamel yang sudah lama menempel.
Selama periode penjualan yang sibuk, pembersihan peralatan seringkali dilakukan secara minimal. Selain itu, teko penyimpanan teh yang dibiarkan hangat sepanjang hari menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bakteri.
Konsumsi teh di pinggir jalan kadang-kadang tidak dilarang. Namun, jika hal ini menjadi kebiasaan sehari-hari, risiko yang terkait akan meningkat, mulai dari tingginya kadar gula, potensi penyakit diabetes, hingga kekhawatiran mengenai kebersihan udara dan perlengkapan yang digunakan.
Pada dasarnya, tepi jalan memang memiliki rasa yang lezat, namun bukan berarti bebas dari segala risiko. Pilihlah penjual dengan cermat, perhatikan proses penyajiannya, dan hindari dijadikan sebagai konsumsi rutin. Kesehatan Anda di masa mendatang akan sangat terbantu dengan keputusan ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
