Mengatur Asumsi: Nasi Putih Bukan Musuh Diet
Gaya Hidup | 2025-11-19 11:31:56
AI Generated Picture" />
Sebagai mahasiswa gizi, saya sering dihadapkan pada pertanyaan klasik, terkait diet sehat yang tepat. Dikarenakan pandangan bahwa nasi sebagai penyebab utama kenaikan berat badan masih menjadi topik hangat di masyarakat. Banyak individu yang diet menghindari nasi dengan asumsi bahwa hal tersebut dapat mempercepat penurunan berat badan. Namun, persepsi tersebut perlu diluruskan. Meskipun nasi merupakan sumber karbohidrat utama di Indonesia faktor kenaikan maupun penurunan berat badan yang sebenarnya lebih kompleks, melibatkan total kalori harian dan aktivitas fisik.
Sebagai makanan pokok nasi memang menyediakan karbohidrat yang berperan sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua jenis beras memiliki efek yang sama terhadap gula darah. Sebuah penelitian dalam jurnal kesehatan menyoroti bahwa indeks glikemik (IG) beras bervariasi tergantung varietas padi, kandungan amilosa, dan proses pengolahan. (Septianingrum & Kusbiantoro, n.d.) Produk beras dengan IG rendah hingga sedang dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dan tepat bagi mereka yang memperhatikan gula darah.
Selain itu, penelitian intervensi di Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia menemukan bahwa konsumsi beras merah dapat berpengaruh positif terhadap indeks massa tubuh (BMI) serta lingkar pinggang pada pasien diabetes tipe 2. (Permatasari et al., 2022) Hal ini menunjukkan bahwa pergantian nasi putih dengan jenis nasi yang lebih kompleks secara glikemik bisa menjadi strategi diet sehat dan berkelanjutan, terutama bagi populasi yang rentan terhadap lonjakan gula darah.
Mitos seputar diet juga menegaskan nasi sebagai musuh utama penurunan berat badan. Padahal, dengan pemilihan jenis nasi yang tepat dan pengaturan porsi konsumsi nasi bisa tetap terjaga tanpa menggagalkan diet. Pendekatan ekstrem seperti menghilangkan nasi sama sekali justru bisa menurunkan asupan energi ataupun pola makan tidak seimbang yang nantinya dapat berimbas pada kurangnya pemenuhan gizi pada tubuh manusia.
Sebagai contoh lain yang lebih inovatif, sebuah studi di Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia menemukan bahwa kue tradisional berbahan dasar “nasi aking" memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan dengan nasi putih, sehingga dapat menjadi alternatif karbohidrat selain nasi putih. (Indriasari et al., 2025) Hal ini memperlihatkan bahwa modifikasi tradisional bahan pangan lokal dapat memberi solusi alternatif yang lebih ramah metabolisme tanpa harus sepenuhnya meninggalkan identitas kuliner nasi.
Dalam konteks diet sehat, kunci sebenarnya terletak pada keseimbangan kandungan gizi makanan yang diperoleh oleh tubuh. Dengan memilih jenis karbohidrat yang tepat mengatur porsi dan mengkombinasikan dengan protein tanpa lemak serta sayuran berserat, diet sehat dapat dilakukan tanpa menyiksa tubuh. Strategi ini jauh lebih efektif dan berkelanjutan daripada larangan total terhadap nasi. Dengan pemahaman dan edukasi yang baik masyarakat dapat menjaga identitas kuliner sekaligus menjalani diet yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kesehatan jangka panjang.
Indriasari, R., Khuzaimah, A., Najamuddin, U., Studi, P., Gizi, I., Masyarakat, F. K., Hasanuddin, U., Aking, N., Glikemik, I., & Gizi, Z. (2025). ANALISIS INDEKS GLIKEMIK DAN KOMPOSISI GIZI KUE PUTU NASI AKING SEBAGAI PANGAN PENCEGAH DMT2 ANALYSIS OF GLYCEMIC INDEX AND NUTRITIONAL COMPOSITION OF PUTU CAKE MADE FROM RECYCLED DRIED RICE AS AN ALTERNATIVE FOOD TO PREVENT TYPE 2 DIABETES. 14(1), 22–37.
Permatasari, D. I., Sutjiati, E., & Sulistyowati, E. (2022). Indonesian Journal of Human Nutrition.
Septianingrum, E., & Kusbiantoro, B. (n.d.). Review Indeks Glikemik Beras : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Keterkaitannya terhadap Kesehatan Tubuh Rice Glycemic Index : The Factors Affecting and The Impact on Human Health. 1–9.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
