Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image nirina noor

Diet Keto: Cepat Kurus, Tapi Apa Tubuhmu Siap Menanggung Risikonya?

Gaya Hidup | 2025-11-18 09:56:11

Banyak orang yang ingin menurunkan berat badan dengan cepat telah menggunakan istilah "diet keto" selama beberapa tahun terakhir. Tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga beberapa orang yang dikenal publik merasakan efek diet keto. Salah satu contohnya adalah Kim Kardashian dan Halle Berry, yang mengklaim bahwa mereka melihat hasil yang lebih baik setelah mengadopsi pola makan ini. Tya Ariestya menjadi terkenal di Indonesia karena keberhasilannya dalam program penurunan berat badan keto. Kisah-kisah sukses ini, bagaimanapun, seringkali membuat orang lupa bahwa setiap tubuh memiliki respons yang berbeda. Apakah diet keto benar-benar efektif atau hanya gaya hidup sementara yang mungkin memiliki efek samping berbahaya?

Apa sih Diet Keto itu?

Diet Ketogenetik atau yang biasa dikenal dengan diet keto adalah suatu pola makan yang tinggi lemak, rendah karbohidrat dan protein. Tujuannya adalah mencapai keadaan metabolisme yang disebut dengan ketosis, dimana tubuh memproduksi badan keton dari lemak untuk digunakan sebagai energi alternatif. Diet ini telah mendapatkan banyak perhatian karena memiliki manfaat untuk menurunkan berat badan.

Bagaimana Diet Keto Membantu Menurunkan Berat Badan?

Diet keto bekerja dengan cara yang kompleks, namun intinya berpusat pada perubahan sumber energi utama tubuh. Saat asupan tubuh dibatasi, tubuh beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar utama, menghasilkan senyawa yang disebut keton. Kondisi ini dikenal sebagai ketosis. Dalam keadaan ketosis, tubuh meningkatkan produksi keton dan mempercepat oksidasi asam lemak, yaitu pembakaran lemak menjadi energi. Akibatnya jaringan lemak dalam tubuh berkurang, dan inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa berat badan turun.

Selain itu, diet keto juga mempengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Hormon ghrelin (pemicu lapar) menurun, sementara hormon satiety (pemberi rasa kenyang) meningkat. Hal ini membuat seseorang merasa kenyang lebih lama dan otomatis mengurangi jumlah makan yang dikonsumsi. Proses ini turut menekankan pembentukan lemak baru (lipogenesis) dan mengurangi peradangan dalam tubuh.

Dari sisi energi, diet keto juga meningkatkan thermogenesis, yaitu kemampuan tubuh menghasilkan panas dan membakar kalori lebih banyak, bahkan saat berisitirahat. Sementara itu dari sisi metabolik, pola makan rendah karbohidrat ini membantu meningkatkan sensitivitas insulin, membuat tubuh mengatur kadar gula darah dan penyimpanan energi.

Gabungan dari semua proses ini akhirnya membuat hasil yang utama yaitu penurunan berat badan.

Namun, sayangnya tidak semua orang cocok menjalani diet keto. Ketika tubuh mengalami adaptasi dan kekurangan karbohidrat, maka terdapat efek yang dikenal sebagai "keto flu". Keto flu ini terjadi beberapa minggu pertama setelah memulai diet keto. Gejala tersebut meliputi sakit kepala, pusing, kelelahan, lesu, "kabut otak", penurunan kapasitas olahraga, perubahan suasana hati, konstipasi, kram otot, diare, dan halitosis. Terdapat juga laporan emesis, mual, hipoglikemia, asidosis, batu ginjal, dan ruam kulit. Diet keto juga memiliki potensi buruk untuk tubuh. Salah satu dampak paling signifikan adalah peningkatan konsumsi lemak, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diabetes dapat menyebabkan dislipidemia, yaitu kondisi dengan kadar lipid abnormal yang merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung.

Jadi, dari hal ini kita perlu menyikapi tren dengan bijak, sebelum mengikuti suatu tren, kita perlu menggali informasi lebih dalam untuk mengetahui apakah tren itu beresiko atau tidak. Diet keto memang terlihat menarik, namun tubuh kita perlu kesehatan jangka panjang, bukan hanya sekadar angka dalam timbangan. Jika ingin mengikuti diet keto, sebaiknya perlu pengawasan seorang ahli gizi ataupun dokter, untuk meminimalisir hal buruk yang terjadi pada tubuh kita. Lebih baik ubah pola mkan secara perlahan dan realistis seperti kurangi makanan yang mengandung gula, makanan olahan, serta cukupi kebutuhan tubuh dengan makan sayur, buah, dan protein sehat. Karena pada dasarnya tubuh manusia butuh keseimbangan, bukan pembatasan ekstrem.

Diet keto bukan musuh, tapi bukan juga solusi ajaib. Ia bisa berhasil pada sebagian orang, namun juga bisa beresiko pada sebagian yang lain. Sebelum mengikuti tren, sikapilah tren dengan bijak. Sebab, pada akhirnya, kesehatan bukan tentang siapa yang paling cepat kurus, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga tubuh tetap sehat dan bahagia.

referensi:

Aronica, L., Volek, J., Poff, A., & D’Agostino, D. P. (2020). Genetic variants for personalised management of very low carbohydrate ketogenic diets. Dalam BMJ Nutrition, Prevention and Health (Vol. 3, Nomor 2, hlm. 363–373). BMJ Publishing Group. https://doi.org/10.1136/bmjnph-2020-000167

Borrego-Ruiz, A., & Borrego, J. J. (2025). Therapeutic effects of ketogenic diets on physiological and mental health. Dalam Exploration of Foods and Foodomics (Vol. 3, Nomor 1). Open Exploration Publishing Inc. https://doi.org/10.37349/eff.2025.101079

Iahtisham-Ul-Haq, Saleem, K., Iftikhar, H., & Abdi, G. (2025). Nutritional ketosis as therapeutic regimen for metabolic disorders: Perspectives and challenges. Dalam Journal of Agriculture and Food Research (Vol. 21). Elsevier B.V. https://doi.org/10.1016/j.jafr.2025.101981

Öztürk, E., Aslan Çin, N. N., Cansu, A., & Akyol, A. (2025). Ketogenic diet as a therapeutic approach in autism spectrum disorder: a narrative review. Dalam Metabolic Brain Disease (Vol. 40, Nomor 1). Springer. https://doi.org/10.1007/s11011-024-01506-5

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image