Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Anton Widyanto

Teriakan 'Sang Nabi'

Sastra | 2025-11-17 01:23:55

Oleh: Anton Widyanto

Sepanjang karir perjalanan hidupnya, Musharrif lebih dikenal sebagai tukang obat keliling. Bak klinik berjalan, obat yang dijual Musharrif macam-macam. Ada obat panu, alergi, kurap, jerawat, sakit gigi, sampai penyembuh jantung dan lever. Kata-kata yang keluar dari bibirnya bagaikan sihir penyair Arab di Pasar ‘Ukaz yang mampu membius banyak orang. Ramuan cap singa, badak, atau buaya, dengan bungkusan tertulis herbal akan laku dijual dengan kemampuannya beratraksi meyakinkan pembeli.

Musharrif memang sosok yang tidak pernah tinggal di satu tempat. Sekali waktu ia muncul di desa A, di lain waktu ia sudah ada di desa B, C, D dan seterusnya. Selalu begitu. Sosoknya bagaikan hantu belau. Muncul tanpa diundang, menghilang tanpa diantar.

Tapi sudah 10 tahun ini, masyarakat desa kami tidak pernah melihat Musharrif . Biasanya di musim hujan begini, dia sudah sibuk menggelar lapaknya di pojok pasar kecamatan. Tubuhnya berisi, tegap dan tinggi laksana pohon asam yang kokoh berdiri. Penampilannya selalu nyentrik dan khas. Ia biasa memakai topi ala koboi, memakai rompi, sepatu boot, plus kumis tebalnya yang melintang membuat orang langsung tanda, itulah Musharrif , Sang Penjual Obat Keliling. Kini riwayat sosok itu telah lenyap. Batang hidungnya yang mancung sudah tidak terlihat lagi.

Di tahun-tahun sebelumnya warga desa kami sempat terpikir, bahwa Musharrif pasti sedang menggelar lapak di tempat lain. Tapi hari sudah berganti bulan, dan bulan sudah berganti tahun. Telah 1 dasawarsa sosok Musharrif hilang bak ditelan bumi. Kemanakah dia? Apakah dia sudah pensiun? Apakah dia sakit? Ataukah justru dia sudah meninggal? Pertanyaan-pertanyaan itupun menggelantung tanpa jawaban. Kalaupun ada jawaban, jawabannya hanya “Wallahu a’lam”. Masyarakat, bahkan pasar pun, akhirnya terbiasa tanpa kehadiran sosok Musharrif . Kisah tentang sang penjual obat misterius itu sudah ditulis dengan titik. Tamat.

***

Lembaran kisah hidup baru yang lain mulai dibuka. Suatu hari, masyarakat desa kami kedatangan tamu asing. Ada seorang laki-laki berjas hitam, memakai sorban di bahu, berjambang dan berkumis lebat. Di kepalanya tersemat kopiah hitam dan di dadanya terpasang sebuah dasi, lebih mirip tampilan pejabat di TV. Lelaki tersebut terlihat pertama kali saat shalat maghrib di masjid kami. Posisinya di shaf pertama, dekat mimbar. Kami sempat berbisik mempertanyakan siapa sosok manusia itu. Selepas shalat maghrib, kami melihat sosok berjas hitam itu masih tetap saja duduk, sambil memegang tasbih. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit. Mungkin sedang berzikir. Kami yang mau mendekat, menjadi segan. Akhirnya satu per satu jamaah yang penasaran, kembali pulang ke rumah masing-masing, tapi aku tidak. Aku menunggu dengan setia sampai shalat Isya tiba, hitung-hitung sekalian i’tikaf.

Saat shalat Isya’ tiba, laki-laki berjas hitam itu masih duduk di shaf pertama, persis di dekat mimbar. Herannya, dia tidak berdiri menjadi makmum kali ini. Tidak seperti shalat maghrib tadi. Dia tetap duduk sambil berkomat-kamit mulutnya. Para jamaah tak ada yang berani bertanya, menegur, atau sekadar menepuk bahunya mengingatkan dia untuk shalat. Mungkin semua sama-sama menyimpan pertanyaan yang sama dalam benaknya baik saat berdiri, rukuk, maupun sujud. Entahlah.

Selepas shalat isya’ dan bersalam-salaman, lelaki berjas hitam itu masih juga duduk. Beberapa orang jamaah yang jumlahnya lebih sedikit dari shalat maghrib, sempat berbisik-bisik.

“Siapa sih dia?”.

Kok tidak ikut shalat?”

“Jangan-jangan dia tertidur?”

“Sssst...Jangan-jangan dia penyebar aliran sesat?”

Pertanyaan-pertanyaan itu cuma terbang sesaat. Tanpa jawaban.

Tak lama Imam Masjid mencoba mendekati lelaki berjas hitam itu. Beliau mengambil posisi di sampingnya.

“Assalamu’alaikum,” sapa Imam Masjid .

Tidak ada jawaban.

Lelaki berjas hitam itu seperti tidak mendengar apa-apa. Mulutnya tapi tidak berhenti berkomat-kamit sambil memainkan tasbih satu per satu dengan mata terpejam.

“Assalamu’alaikum”, sapa Imam Masjid kedua kali.

Tetap tidak ada jawaban.

Tapi bibir lelaki berjas hitam itu masih setia berkomat-kamit.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, sapa Imam Masjid ketiga kali dengan suara agak sedikit dikeraskan.

Kali ini lelaki berjas hitam itu membuka matanya. Sambil mengembangkan senyum dia menjawab, “Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Imam Masjid terlihat sedikit lega, karena akhirnya mendapat tanggapan. Dia julurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi sayang, laki-laki berjas hitam itu tidak menyambut uluran tangannya.

“Ada apa Ustadz?”, suara lelaki itu terasa berat.

“Kalau boleh tahu, Ustadz ini darimana?”, tanya Imam Masjid .

Lelaki berjas hitam itu hanya tersenyum.

“Apa itu penting Ustadz?”, lelaki berjas hitam tersebut balik bertanya.

“Ya penting, biar kita saling kenal”, jawab Imam Masjid .

“Kalau cuma alasan pengen kenal, tidak perlu tahu saya darimana. Yang jelas kita sama-sama dari bumi Allah”, ucap lelaki berjas hitam.

Para jamaah Isya’ yang penasaran akhirnya ikut mendekat dan mengelilingi lelaki berjas hitam itu.

“Kalau boleh tahu, nama Ustadz siapa?”, tanya Imam Masjid lagi melanjutkan perbincangan.

“Apa itu penting Ustadz?”, lelaki berjas hitam tersebut balik bertanya lagi.

“Ya penting juga, biar kita saling kenal”, jawab Imam Masjid .

“Kalau cuma alasan pengen kenal, tidak perlu tahu nama saya. Yang jelas kita sama-sama mahkluk Allah, keturunan Adam dan Hawa”, jawab lelaki berjas hitam.

Kami yang mendampingi Imam Masjid mulai terpancing geram melihat sikap si lelaki berjas hitam yang sepertinya tetap setia dengan kemisteriusannya. Tapi sikap Imam Masjid yang tenang dan menenangkan, meredakan kegeraman kami.

“Kenapa Ustadz tadi tidak ikut shalat Isya’ berjamaah?”, kali ini Anwar temanku menyela untuk bertanya.

Lelaki berjas hitam itu hanya tersenyum, tanpa sepatah kata jawaban keluar dari bibirnya.

“Iya. Kenapa Ustadz tadi tidak ikut shalat berjamaah bersama kami”, pertanyaan yang sama ditanyakan si Doles.

Lelaki berjas hitam itu sejenak menghela nafas. Kemudian memejamkan mata sambil mengkomat-kamitkan mulutnya lagi. Tanpa sepatah kata jawaban.

“Aneh”, ujar Karim geram.

“Sombong”, sahut Firman.

“Dasar”, sambut Usman.

Imam Masjid kulihat berdiri. Beliau menghela nafas perlahan, menggeleng, dan kemudian mengajak kami semua untuk pulang. Tinggallah laki-laki berjas hitam itu sendiri di dalam masjid.

***

Esok hari saat shalat Jum’at tiba, khatib yang dijadwalkan tidak bisa datang. Biasanya, Imam Masjid yang langsung bertindak sebagai pengganti. Tapi entah bagaimana ceritanya, Imam Masjid meminta kepada pria berjas hitam untuk menjadi khatib Jum’at. Dengan tegas, pria yang senang duduk di dekat mimbar itu menyatakan kesediaannya.

Setelah mengucap salam, duduk, mendengar azan, kemudian berdiri lagi, laki-laki berjas hitam itu mematung. Ia terdiam seribu bahasa. Tanpa ekspresi. Awalnya para jamaah masih terlihat biasa saja. Tapi suasana kali ini memang berbeda. Karena baru kali ini kami melihat khatib tampil dengan penampilan seperti pejabat di tv.

Sudah 15 menit berjalan, laki-laki itu masih dipenjara dalam diam. Jamaah mulai gelisah. Imam Masjid resah. Ada apa gerangan?

Jarum panjang jam dinding masjid sudah menunjukkan menit ke-25 sejak laki-laki itu berdiri di mimbar. Tanpa suara. Tanpa kata. Dia hanya berdiri sambil berkomat-kamit. Matanya tajam menyapu ke semua jamaah Jum’at, seakan-akan ia sudah berkhutbah dengan bahasa pandangannya.

Di menit ke-30, tiba-tiba laki-laki itu mulai berkata-kata.

“Sidang jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.”

Sejenak laki-laki itu menghela nafas kecil. Tapi karena terdapat mike dan keheningan suasana, helaan nafasnya yang lemah terdengar juga oleh jamaah .

“Kita hidup di zaman penuh kemusyrikan. Fir’aun-Fir’aun baru telah bermunculan menjadi pejabat. Kejahatan dan kemaksiatan berubah semakin canggih. Manusia tidak punya lagi rasa malu, bahkan lebih buruk dibanding zaman jahiliyah dulu. Yang haram malah disukai, yang halal justru dibenci,”.suara laki-laki itu begitu keras. Tangannya mengepal. Jamaah yang tadi resah, kini berubah hening.

“Berapa banyak dari orang yang shalat sekarang ini tapi justru tidak memahami bacaan shalatnya?!”.

“Berapa banyak orang yang sudah naik haji tapi justru peci hajinya dijadikan kain pel. Diinjak-injak dengan keserakahan, kesombongan dan kezaliman?!”.

Suara laki-laki itu bergetar. Sambil menyapu ujung telunjuknya ke muka para jamaah.

Para jamaah menunduk. Merasa tidak enak sendiri karena seperti terdakwa.

“Oleh sebab itu, hari ini, detik ini, saat ini juga, saya Musharrif , mengumumkan diri sebagai Nabi dan Rasul setelah Muhammad!”

Jamaah Jumat menjadi ribut, bahkan banyak yang terpancing untuk berdiri dan mendekat ke mimbar.

“Turun!”

“Pembohong!”

“Sesat!”

“Nabi palsu!”

“Seret!”

“Penjual obat kok ngaku Rasul!”

“Sinting!”

Suasana shalat Jumat yang biasanya hening dan khidmat, kini menjadi gaduh. Ramai sekali. Musharrif , laki-laki yang dulu penjual obat dan kini tiba-tiba muncul mengaku nabi itu wajahnya terlihat pucat pasi. Dia ketakutan. Orang-orang seperti melihat sosok maling yang berdiri di atas mimbar masjid, bukan khatib. Tanpa dikomando ada yang menarik tangannya untuk turun dari mimbar.

“Kalau kalian mengimaniku, kalian tidak perlu shalat! Kita masih hidup di zaman jahiliyah! Kita harus hijrah”, teriak Musharrif .

Tak ada yang peduli. Ia tetap dipaksa turun dari mimbar.

“Kalau kalian mengimaniku, kujamin kalian masuk sorga. Akulah Sang juru Selamat!”, sambung Musharrif lagi serak.

Teriakannya tenggelam dalam lautan teriakan jamaah.

Imam Masjidberusaha melerai jamaah yang terlanjur murka. Dan Musharrif , hanya bisa pasrah dalam diam. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa tahu kemana dia selanjutnya akan dibawa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image