Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jeje Zaenudin

Nelayan Karawang Menggugat: Pembangunan Tanpa Keadilan Adalah Pengkhianatan

Politik | 2025-10-10 11:37:57
(Nelayan Karawang — Sumber: Radar Karawang)

Oleh: Jeje Zaenudin Kader GMNI UBP Karawang

Ratusan nelayan di pesisir Karawang kini menggugat sebuah perusahaan pembangkit listrik (Pt Jawa Satu Power) yang beroperasi di wilayah laut mereka. Sejak proyek energi tersebut berjalan, hasil tangkapan ikan menurun drastis. Laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ruang industrial yang asing bagi mereka.

Fenomena ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga cermin dari arah pembangunan bangsa yang kerap lebih berpihak pada modal besar daripada rakyat kecil. Ketika nelayan kehilangan lautnya, sesungguhnya kita sedang menyaksikan bagaimana pembangunan kehilangan jiwanya.

Pembangunan Harus Berpihak pada Manusia

Sebagai kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), saya meyakini bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang memerdekakan manusia, bukan yang menindasnya. Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno menempatkan rakyat kecil sebagai subjek utama pembangunan, bukan korban dari kebijakan ekonomi yang timpang.

Nelayan Karawang hari ini adalah potret nyata dari ketimpangan itu. Mereka tidak menolak kemajuan, melainkan menuntut agar kemajuan tidak membunuh penghidupan mereka. Laut bagi nelayan bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga ruang hidup, warisan budaya, dan simbol kemerdekaan ekonomi rakyat kecil. Saat laut dikuasai oleh korporasi besar, yang dirampas bukan hanya ikan, tapi juga martabat dan kedaulatan rakyat itu sendiri.

Dalam Penyambung Lidah Rakyat, Bung Karno pernah menulis,“Aku adalah kepunyaan rakyat. Aku harus melihat rakyat, aku harus mendengarkan rakyat dan bersentuhan dengan mereka.”

Kutipan singkat itu menjadi cermin moral yang tajam: bahwa pembangunan sejati hanya bisa hidup jika ia berangkat dari denyut kehidupan rakyatnya sendiri.

Suara Nelayan Adalah Suara Bangsa

Keadilan sosial bukan sekadar wacana dalam pidato atau seminar. Bagi nelayan, keadilan sosial adalah soal apakah mereka masih bisa melaut esok hari atau tidak. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya ingin laut yang bersih, hasil tangkapan yang layak, dan kebijakan yang berpihak pada kehidupan mereka.

Perjuangan nelayan Karawang hari ini adalah peringatan bagi seluruh bangsa bahwa pembangunan tanpa keberpihakan hanya akan melahirkan jurang antara yang kuat dan yang lemah. Negara tidak boleh berdiri di sisi pemodal, tetapi di sisi rakyat.

Sudah saatnya pembangunan di negeri ini kembali kepada nilai dasarnya: memerdekakan manusia, bukan menindasnya. Sebab pembangunan tanpa keadilan sejatinya adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.

Perjuangan nelayan Karawang bukan sekadar perjuangan mencari ikan, tetapi perjuangan menjaga martabat bangsa dari arus kapitalisme yang kian deras.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image