Jangan Jadi Budak, Allah Telah Menciptakanmu Merdeka
Eduaksi | 2025-08-16 16:27:25
Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi & Kebudayaan
Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL
Pagi itu sebuah pesan singgah di grup WhatsApp. Sahabat lama menuliskan kutipan indah dari Khalifah Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah:
“Janganlah engkau menjadi budak orang lain, padahal Allah telah menciptakanmu merdeka.”
Singkat, padat, namun menusuk ke relung hati. Membuat jari terhenti, dan pikiran seketika bertanya: apakah aku benar-benar merdeka?
Ataukah masih tertawan oleh rutinitas yang mencekik waktu? Masih tunduk pada bayangan semu bernama kesuksesan—harta, tahta, mahkota—yang tak jarang justru menawan batin?
Merdeka yang Hakiki
Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari kolonialisme bangsa asing. Ia adalah kebebasan terdalam: merdeka dari belenggu nafsu, merdeka dari rasa takut, merdeka dari kelupaan terhadap Allah.
Firman-Nya mengingatkan:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19).
Rasulullah SAW pun bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
Maka merdeka sejati adalah penguasaan diri. Tidak diperbudak syahwat, tidak dipasung ambisi, tidak dijajah oleh kemalasan.
Api Proklamasi
Tujuh belas Agustus 1945 adalah puncak gelombang doa dan perjuangan. Bung Karno mengumandangkan proklamasi bukan sekadar membebaskan bangsa dari penjajah, melainkan menyalakan api cita-cita: bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan penindasan harus dihapuskan dari bumi.
Bung Karno pernah berkata: “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan kepentingan rakyat banyak. Kita harus mewariskan api, bukan abu.”
Api itulah yang harus tetap menyala dalam dada generasi kini—agar tak padam oleh arus globalisasi yang sering menipu dengan kilau semu.
Generasi Muda, Pewaris Amanah
Bung Hatta mengingatkan: “Kemerdekaan hanya dapat dicapai dengan perjuangan, dan dipertahankan dengan perjuangan.”
Kini perjuangan tidak lagi dengan senjata bambu runcing, melainkan dengan ilmu, akhlak, kreativitas, dan teknologi. Pemuda merdeka adalah ia yang berani berkata tidak pada korupsi, intoleransi, dan kerusakan alam; serta lantang berkata ya pada keadilan, keberagaman, dan kebaikan.
Merdeka bukan hanya soal kebebasan berpendapat, tapi juga keberanian menjaga integritas. Bukan hanya soal bebas memilih, tapi juga berani bertanggung jawab atas pilihan.
Merawat NKRI, Merawat Alam
Kemerdekaan adalah bunga yang harus dirawat setiap hari. Bila abai, ia akan layu. Bila lalai, ia bisa tumbang.
NKRI tegak di atas fondasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Merawatnya berarti menolak perpecahan, menegakkan keadilan, menghidupkan gotong royong.
Namun, jangan lupa: kemerdekaan juga milik alam. Hutan, laut, sungai—semua menuntut dijaga dari kerakusan. Memerdekakan alam berarti memastikan kehidupan lestari bagi generasi yang akan datang.
Merdeka Adalah Kehidupan yang Layak
Merdeka sejati adalah ketika petani bahagia karena tanahnya subur, nelayan pulang tersenyum karena lautnya aman, guru dihargai karena ilmunya, murid bangga karena masa depannya dijaga.
Merdeka sejati adalah bebas dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Merdeka sejati adalah ketika kita bersujud hanya kepada Allah, menghormati sesama, menjaga bumi, dan membangun negeri dengan cinta.
Dari Jiwa ke Semesta, Dari Aku ke Indonesia
Indonesia kini mendekati usia delapan puluh tahun kemerdekaan. Usia matang bagi sebuah bangsa, usia yang menuntut lompatan besar. Namun kemerdekaan bukanlah garis akhir. Ia adalah doa yang terus diperbarui, amanah yang terus dijaga, perjuangan yang tak pernah selesai.
Merdeka sejati berawal dari jiwa, menjelma menjadi semesta. Dari aku, menuju kita. Dari kita, menuju Indonesia. Dari Indonesia, menuju dunia.
Dirgahayu Indonesiaku. Merdeka!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
