Lorong, Anak-anak, dan Harapan Kemerdekaan
Kisah | 2025-08-18 14:30:22
Oleh : Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi & Kebudayaan
Kemerdekaan Indonesia selalu dirayakan dengan gegap gempita: bendera berkibar, lomba di lapangan, musik rakyat di jalanan. Namun ada wajah lain dari kemerdekaan, yang sering terlewat dari sorotan: wajah sederhana rakyat kecil di lorong-lorong sempit dan perkampungan di atas bukit. Di situlah makna merdeka diuji—apakah ia hanya perayaan simbolik, atau sungguh hadir dalam denyut hidup sehari-hari.
Dalam pencarian makna itu, Dr. H.M. Jamal Amin, M.Si., dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Mulawarman, menapaki sebuah perjalanan kecil namun sarat makna. Pada suatu pagi, sekitar pukul sembilan, ia joging menyusuri jalan setapak menuju Gunung Rumbia di Samarinda, gang 2 Jalan Rumbia, kawasan Kompleks Unmul. Jalan sempit berkelok itu menanjak hingga dua ratus meter. Di kiri-kanannya berdiri rumah-rumah warga Buton yang sejak puluhan tahun lalu menetap di sana.
Di puncak kecil itu, ia bersua dengan Wa’ Munda, perempuan berusia senja. Lahir di Buton pada 1957, merantau ke Samarinda sejak 1976, ia telah menghabiskan hidupnya di gunung ini. Saat pertama datang, wilayah itu masih hutan rimba. Dengan tangan sendiri, bersama para perantau lain, ia menebas semak, membuka jalan, menanam kehidupan di tanah asing. Kini, di usia tuanya, Wa’ Munda menatap cucu-cucunya tumbuh dalam suasana yang jauh berbeda.
“Bagi saya, merdeka itu sederhana,” ucapnya pelan. “Anak-anak bisa sekolah, bisa mengaji, bisa hidup aman. Kami dulu harus berjuang keras di hutan. Tapi asal anak cucu tidak susah seperti kami dulu, itulah merdeka.”
Kesaksian Wa’ Munda memperlihatkan bagaimana rakyat kecil memaknai kemerdekaan bukan sebagai slogan besar, tetapi sebagai kesempatan nyata untuk hidup lebih baik.
Tak jauh dari rumahnya, Dr. Jamal mendapati anak-anak keturunan Buton tengah merayakan 17 Agustus dengan sukacita. Mereka bernyanyi, membawa bendera kecil, dan bermain riang meski dengan fasilitas terbatas. Ada kesederhanaan, ada kekurangan, namun ada pula cahaya harapan yang menyala.
Dr. Jamal lalu bertanya kepada mereka: “Nak, apa cita-citamu?”
Satu menjawab ingin jadi dokter, yang lain tentara, ada pula polisi, guru, dan bidan. Semua mengalir dengan penuh keyakinan.
Ia pun tersenyum, memberi pesan singkat namun penuh makna: “Rajin belajar ya, jangan lupa shalat dan mengaji. Semoga cita-cita kalian tercapai.” Kata-kata itu adalah doa yang sederhana, tapi bisa menjadi bekal besar bagi anak-anak yang tengah menatap masa depan.
Di titik inilah makna kemerdekaan kembali menemukan wajahnya. Kemerdekaan adalah ruang bagi anak-anak bangsa untuk bermimpi, berjuang, dan mendapat kesempatan yang adil. Jika di puncak kecil Gunung Rumbia anak-anak masih punya asa menjadi dokter, guru, atau tentara, itu artinya api kemerdekaan belum padam.
Namun sekaligus, perjalanan ini juga menyadarkan kita: negara masih punya tanggung jawab besar. Lorong-lorong dan bukit-bukit seperti di Rumbia menuntut kehadiran nyata negara—dalam pendidikan, kesehatan, akses ekonomi, dan keadilan sosial. Jika janji kemerdekaan hanya berhenti di kota-kota besar, maka rakyat kecil di kampung-kampung hanya akan menjadi penonton sejarah.
Wa’ Munda menutup percakapan dengan kalimat yang begitu sederhana namun menggugah: “Saya tidak minta banyak. Kalau anak-anak bisa sekolah tinggi, bisa kerja baik, bisa hidup layak, itu sudah cukup. Itulah merdeka buat kami.”
Suara itu adalah gema hati rakyat kecil, yang tak pernah berhenti berharap. Dari lorong-lorong dan jalan setapak Gunung Rumbia, kita diingatkan bahwa kemerdekaan bukan selesai pada 17 Agustus 1945. Ia adalah pekerjaan yang terus berlangsung—pekerjaan menghadirkan keadilan dan harapan di setiap sudut negeri.
Gunung Rumbia hanyalah satu titik kecil di peta Indonesia. Tapi dari sanalah kita belajar, bahwa makna kemerdekaan sejati tumbuh di hati rakyat kecil, di tawa anak-anak yang bermimpi, dan di doa orang tua yang ingin melihat masa depan yang lebih terang bagi generasi berikutnya.
---
Catatan :
Dr. H.M. Jamal Amin, M.Si. adalah dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Mulawarman, Samarinda. Ia dikenal aktif melakukan riset dan pendampingan sosial, terutama di bidang pembangunan masyarakat dan demokrasi lokal. Perjalanan kecilnya menapaki lorong-lorong kehidupan rakyat adalah bagian dari komitmennya membaca denyut nadi kemerdekaan di tengah rakyat, jauh dari gedung-gedung akademik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
