Ketika Cinta Menggadaikan Iman: Cerita Mangu Dalam Kitab Klasik
Kisah | 2025-08-05 09:59:44
Beberapa waktu yang lalu, viral sebuah lagu berjudul “Mangu”, lagu ini menceritakan dua insan yang saling mencintai tapi terhalang perbedaan iman. Tapi tahukah kamu, jauh sebelum lagu ini rilis, ternyata kisah tentang “Mangu” sudah ditulis dalam kitab yang ditulis ulama klasik. Kisah ini bukan hanya tentang patah hati, tapi juga patah iman.
Syekh al-Jurdani dalam kitab Jawahir al-Lu’luiyah menghikayatkan, ada seorang lelaki muslim yang jatuh cinta pada seorang perempuan Nasrani. Cinta nya bukan cinta biasa. Ia bukan sekadar suka, tapi sampai pada level obsesif, terpikir siang malam, menetap di benak, dan menetap juga dalam angan-angan. Tapi sayangnya mereka tak pernah bisa bersama.
Sampai suatu hari, sang pria jatuh sakit keras. Ia terbaring lemah diatas ranjang nya, seolah sedang menunggu ajal menjemput. Tapi cinta masih saja berkecamuk di dadanya. Ia berpikir, “di dunia ini aku tidak bisa bersatu dengannya. Jika aku mati tetap dalam Islam, maka aku tak bisa bersamanya di akhirat.”
Persis di ujung hayat, logikanya kacau. Cintanya menutupi cahaya. Ia memilih jalan untuk meninggalkan Islam demi bisa bersama walau hanya dalam harapan. Ia meninggal dalam keadaan murtad.
Beberapa waktu kemudian, perempuan yang ia cintai juga jatuh sakit. Ia diliputi rasa takut, berkata dalam hati, “dia mencintaiku tapi kami tak pernah bersama. Jika aku mati dalam agamaku sekarang, aku takkan pernah bertemu dengannya kelak di akhirat”, ia memeluk islam, lalu meninggal.
Kisah keduanya berakhir tragis. Mereka tak bersama di dunia juga di akhirat. Kisah ini bukan kisah biasa, bukan soal siapa yang salah, tapi soal bagaimana cinta bisa menggiring kita pada pilihan yang menentukan akhir.
Seringkali, orang jatuh cinta tanpa menyadari iman mereka ikut jatuh. Dibutakan oleh rasa ingin memiliki, sampai lupa bahwa tidak semua cinta harus dipeluk. Karena terkadang, ada cinta yang harus dilepas, agar tidak menjadi racun yang melukai.
Namun pertanyaannya, kenapa cinta bisa sekuat itu? Jawabannya, karena cinta bukan hanya rasa, tapi juga ikatan jiwa. Dan jika tidak dijaga, cinta bisa menjadi candu. Itulah kenapa dalam Islam, cinta bukan sekadar urusan rasa, tapi juga urusan arah. Harus jelas ke mana cinta dibawa. Sebab cinta tanpa arah hanya akan menyesatkan.
Ulama dulu mencatat kisah ini bukan untuk menghakimi, tapi sebagai pelajaran agar umat sadar bahwa iman adalah pegangan utama, bahkan dalam urusan perasaan. Ketika cinta memaksa untuk menggadaikan iman, saat itu kita sedang bermain-main di jurang yang gelap.
Dari cerita ini, kita belajar bahwa sejatinya kita hanya berjalan di arus takdir. Kita bertemu dan berpisah dengan orang-orang yang sudah ditentukan. Nyatanya, walau sudah saling menyimpan rasa, tapi jika takdir sudah berkata tidak, tidak ada satu pun upaya yang bisa menyatukan. Pada akhirnya, yang bisa dilakukan hanyalah belajar menerima dan berdamai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
