ROJALI dan ROHANA: Apakah Kita Termasuk?
Gaya Hidup | 2025-07-24 13:49:18
Oleh Muliadi Saleh
Di antara riuh pasar dan gemerlap etalase, dua nama bergaung seperti sindiran halus: ROJALI—Rombongan Jarang Beli—dan ROHANA—Rombongan Hanya Nanya.
Mereka hadir beramai-ramai, memuji barang dengan mata berbinar, menanyakan harga dengan senyum yang manis, lalu pergi tanpa jejak, meninggalkan penjual yang diam-diam menahan napas dan doa.
Di balik meja dagangan yang sederhana, ada harapan yang ditenun dari utang modal dan peluh panjang. Setiap orang yang datang tanpa niat membeli ibarat angin yang singgah, menebar debu lalu hilang.
Dan pertanyaan pun menggema, lirih namun menggetarkan: apakah kita pernah menjadi mereka?
Kita teringat sabda Nabi SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Dan firman Allah:
“Tunaikanlah takaran dan timbangan dengan adil...” (QS. Al-An‘am: 152).
Sastrawan Taufik Ismail pernah menulis, “Rezeki orang lain jangan engkau hambat, karena di sana ada doamu yang diam-diam ikut berdesir.”
Begitu pula kata Buya Hamka, “Ikhlas itu memberi, bahkan ketika engkau sendiri sedang kekurangan.”
Maka sebelum kaki kita melangkah lagi ke pasar atau menelusuri lapak daring, mari kita bercermin:
Apakah kita datang untuk menumbuhkan atau justru mematahkan?
Apakah senyum kita membawa doa, atau hanya jejak hampa?
Hidup ini bukan sekadar urusan jual-beli. Ia adalah jalinan saling menghargai.
Mari menjadi pembeli yang jujur, penanya yang tulus, dan saudara yang ikut menjaga rezeki sesama.
Sebab di balik setiap transaksi ada doa yang mengalir,
ada sedekah yang berlipat,
ada berkah yang diam-diam menunggu.
ROJALI dan ROHANA Apakah kita termasuk?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
