Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Desi Nur Cahyasari

Fomo S-Line Jadi Trend! Zina Kok Bangga?

Agama | 2025-07-19 11:36:16

Kalau akhir-akhir ini kamu sering lihat ada foto cowok atau cewek yang di atas kepalanya tergambar garis warna merah menumpuk, itu dia lagi mengikuti trend S-Line. Garis merah itu sebagai tanda sudah seberapa banyak dia melakukan aktivitas seks. Semakin banyak garisnya, semakin banyak pula pengalaman yang dilakukan. Bukannya risi atau malu, trend ini malah jadi kebanggan tersendiri buat memuaskan naluri eksistensi si pemuda pemudi ini. Aneh gak tuh?

Awalnya dari mana sih?

Ide ini muncul dari pengikut drama korea. Memang ada drakor (drama korea) dengan judul S-Line. Di drama itu menceritakan adanya satu orang tokoh yang bisa melihat garis merah setiap manusia yang ditemuinya. Hanya dia yang mampu melihat dengan mata telanjang, sementara lainnya gak bisa. (Sumber: www.idntimes.com)

Kenapa bisa jadi FOMO?

Definisi fomo itu sendiri adalah suatu kondisi psikologis seseorang yang menggambarkan rasa cemas atau takut merasa tertinggal dari pencapaian orang lain. Dan remaja kekinian sangat rentan dengan kondisi ini disebabkan banyak faktor, salah satu terbesarnya adalah media sosial. Harus diakui media sosial memang sudah banyak memberi pengaruh pada cara pandang hidup seseorang bukan? Padahal guys, gadget itu sendiri seperti dua mata pisau yang tajam. Di satu sisi bisa memberikan informasi/ edukasi yang positif, di sisi lain bisa menjerumuskan pada perilaku yang merusak.

Contoh saja fenomena pergaulan bebas seperti trend S-Line ini. Tidak sedikit teman kita yang bangga menunjukkan perilaku maksiatnya. Berhubungan intim dengan pasangan tidak halal (belum menikah). Menormalisasi hubungan tanpa status pernikahan menjadi standart kebanggaan tersendiri bagi mereka. Seolah kalau tidak punya pacar, jadi insecure/ gak laku alias jomblo ngenes begitu banyak orang nilai.

Tetapi di sisi lain, pernahkah teman-teman mendengar kabar seorang artis yang hamil 9 bulan di luar pernikahan. Mentalnya hancur karena merasa terbebani sendiri. Dia merasa bersalah, tertekan seorang diri, cemas hingga takut bertemu orang lain. Tidak sedikit cewek sangat dirugikan dalam hal ini, hingga berujung pada kematian tragis. Pertanyaan buat semua, apakah seperti ini hidup yang kita banggakan?

STOP! Jangan normalisasi pergaulan bebas!

Fomo S-Line dan klarifikasi hancurnya mental artis hamil di luar pernikahan, bagaikan dua sisi kehidupan yang berbeda. Antara “merasa keren” dan “merasa bersalah”. Padahal sama-sama berawal dari perbuatan yang bernama zina. Tentu tidak bisa kita normalisasi sikap seperti itu walaupun banyak manusia yang melakukannya.

Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللّٰهِ

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani).

Kita memang sedang ada di masa orang bangga dengan perzinahan dan malu menjadi orang yang alim (taat beragama). Kalau teman-teman bertanya mengapa banyak orang memiliki cara berfikir seperti ini? Pemikiran rusak pasti datang dari informasi dan pemahaman yang rusak. Pemahaman yang rusak berawal dari cara pandang memaknai hidup yang keliru. Makna hidup yang hanya berstandart pada kesenangan dan kebebasan semata, yaitu paham liberalisme, kapitalisme, sekulerisme.

Padahal sebagai mahluk ciptaan Allah, terkhususnya sebagai seorang muslim. Agama Islam yang Rasulullah bawa telah memberi banyak sekali contoh hidup. Memberi pedoman yang bisa manusia tiru dan terapkan. Pedoman itu ada yang berupa aturan-aturan. Syariat yang jika diterapkan akan membawa manusia pada keselamatan, rasa aman dan teratur tanpa kerusakan.

Standart perbuatan manusia tidak lagi sebatas meraih kesenangan dunia, tetapi juga dalam rangka meraih rido Allah (berdasarkan halal haram). Seperti yang Allah aturkan di sistem pergaulan Islam, di mana yang Allah atur bukan hanya tentang kepentingan pribadi, tapi juga kepentingan bersama. Contoh aturan berpakaian bagi cowok dan cewek, tidak bertabaruj, menjaga pandangan, menjaga pergaulan sosial dengan tidak bercampur baur tanpa kepentingan syari, tidak berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat sepi ataupun ramai. Ada juga pendidikan atau edukasi yang memperkuat iman seseorang seperti kajian taklim maupun kajian pembinaan yang bisa mencetak kepribadian Islam yang beradab.

Itu semua adalah cara Islam menjaga manusia agar tetap pada fitrahnya. Cewek tetap dimuliakan, cowok pun tetap diistimewakan dengan sifat kepemimpinan dan tanggung jawabnya. Sains dan tehnologi juga dibuat hanya untuk hal yang bermanfaat. Bukankah kehidupan seperti ini yang kita idamkan? Sayangnya, itu semua tidak bisa hanya dilakukan oleh seorang diri saja. Namun juga harus ada sinergi antara individu yang bertakwa, masyarakat yang mengontrol dan peran negara yang berkuasa menerapkan hukum.

Allah SWT berfirman di Surat Al-Ma’idah Ayat 50,

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image