Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Puspita Rizky

Dari Kota Kembang ke Tanah Cenderawasih, Rantau Pertama yang Mengubah Cara Pandangku

Pendidikan dan Literasi | 2025-07-15 11:04:03

Kalau dulu ada yang bilang aku bakal menghabiskan beberapa bulan di Papua untuk magang, mungkin aku akan tertawa tak percaya. Tapi begitulah hidup, penuh dengan kejutan. Dari Bandung yang adem, ramai, dan terasa dekat ke mana-mana, aku merantau jauh ke timur Indonesia. Bukan untuk liburan, tapi untuk menjalani magang kuliah. Dari Kota Kembang ke Tanah Cenderawasih, perjalanan enam jam di udara menjadi pintu masuk ke fase baru dalam hidupku, perantauan pertama.

Di awal, aku kira aku akan mudah merasa kesepian atau rindu rumah. Tapi ternyata tidak begitu. Selama di Papua, aku tinggal bersama keluarga dari teman magangku. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang langsung memperlakukanku seperti anak sendiri. Ada “papah”, “mamah” dan “tante” yang selalu perhatian, masakin makanan, dan bahkan sering tanya, “Udah makan, Nak?”. Kehangatan yang sederhana, tapi sangat berarti untuk orang baru sepertiku di tanah yang asing.

Namun, rasa rindu tetap datang dan puncaknya saat bulan Ramadan dan Lebaran. Di hari Lebaran, biasanya rumahku di Bandung penuh dengan suara takbir yang menggema sejak subuh, aroma masakan mama yang khas, dan canda tawa keluarga besar yang berkumpul sejak pagi. Tapi di Papua, semuanya terasa hening. Tak ada suara takbir, tak ada masakan mama, dan tak ada pelukan hangat yang biasa kudapat setiap Lebaran. Saat itu, aku hanya bisa menyaksikan suasana Idulfitri lewat layar ponsel. Melihat keluarga di rumah salat berjamaah, bersalaman, dan makan bersama. Rasanya sangat sepi dan asing, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di tanah rantau, aku benar-benar merasa homesick. Rindu pada mama begitu kuat, bahkan hanya untuk hal-hal sederhana seperti makan sahur bersama atau mendengar beliau membangunkanku. Hari itu bukan hanya tentang Lebaran yang berbeda, tapi tentang kehilangan momen hangat yang biasanya begitu akrab.

Selain itu, aku juga sempat mengalami cultural shock. Nada bicara orang Papua terdengar keras dan tegas, sesuatu yang cukup mengejutkan buatku yang terbiasa dengan kelembutan logat Sunda. Di awal, aku sering salah paham, mengira sedang dimarahi padahal mereka hanya berbicara seperti biasa. Namun lama-lama aku belajar, dan akhirnya paham bahwa di balik nada bicara yang keras, ada kejujuran dan ketulusan yang begitu dalam. Aku juga terkesan dengan kekayaan budaya dan adat yang masih sangat dijaga di sana. Semua itu membuatku lebih menghargai perbedaan, dan belajar untuk tidak cepat menghakimi.

Di tempat magang, suasananya sangat mendukung. Lingkungan kerja yang ramah dan terbuka membuatku cepat beradaptasi. Walaupun aku datang dari luar, mereka tidak pernah membuatku merasa terasing. Sebaliknya, mereka membimbing, mengajak diskusi, dan bahkan berbagi cerita khas Papua yang belum pernah kudengar sebelumnya. Dari mereka aku belajar bahwa keramahan bisa hadir dalam bentuk yang berbeda, tidak selalu lewat kata-kata manis, tapi lewat sikap langsung yang tulus.

Empat bulan di Papua bukan hanya tentang menyelesaikan program magang. Itu adalah perjalanan pembentukan diri. Aku belajar bahwa keluarga tidak selalu harus satu darah, bahwa perbedaan adalah kekayaan, dan bahwa kerinduan akan rumah justru bisa memperkuat hati. Tempat yang awalnya terasa asing itu akhirnya menjadi bagian dari diriku. Rantau ini mungkin yang pertama, tapi jejaknya akan selalu membekas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image