Penyalahgunaan Deepfake AI dan Upaya Pencegahannya
Info Terkini | 2025-07-01 12:43:47Pesatnya kemajuan teknologi membuat masyarakat mudah melakukan segala sesuatu dengan akses yang mendukung, salah satunya kemajuan teknologi AI. Hadirnya AI yang tersebar dapat membantu masyarakat lebih produktif. Sayangnya, tidak semua masyarakat menggunakan AI dalam hal positif. Penyalahgunaan AI mulai terjadi sejak berbagai fitur yang semakin 'canggih' hadir, seperti AI yang dapat digunakan untuk mengedit foto maupun video. Alih-alih membantu, penggunaan fitur editing ini justru disalahgunakan oleh masyarakat.
Penyalahgunaan AI tersebut kerap kita kenal sebagai deepfake, dimana pengguna AI melakukan manipulasi berupa foto, video maupun suara yang tidak nyata dengan aslinya. Hal tersebut tersebar di sosial media secara luas dan memberikan dampak negatif bagi seseorang yang menjadi objek dalam deepfake AI tersebut. Salah satu deepfake yang kini sedang menjadi bahan tayang paling ramai adalah deepfake video dan suara pemerintah yang dimanipulasi.
Banyaknya deepfake AI yang kini semakin beredar membuktikan tidak adanya kesadaran masyarakat bahwa penggunaan tersebut salah. Bahkan masyarakat menganggap hal tersebut sebagai bahan lelucon yang dapat dilakukan oleh siapa saja, dan justru masyarakat menyatukan berbagai komplikasi deepfake AI yang digabungkan menjadi satu dan menyebutnya sebagai "AI CORE".
Tak sampai di situ masyarakat justru kini banyak yang menyebarkan atau bahkan memperjual belikan prompt deepfake AI yang dimanfaatkan sebagai keywords pembuatan deepfake tersebut.
Penggunaan deepfake AI harus dicegah agar masyarakat tidak lagi melakukan manipulasi deepfake AI yang sangat amat merugikan. Seluruh lapisan masyarakat harus ikut andil dalam pencegahan tersebut, pasalnya hal ini merugikan seluruh pihak, terlebih jika masyarakat percaya dengan deepfake tersebut dan berujung menjadi suatu berita hoaks bagi korban.
Sebagai masyarakat yang paham akan bahayanya dampak deepfake, terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah penggunaan deepfake AI, yaitu dengan tidak menyebarluaskan konten deepfake dan tidak mentolerir konten deepfake walau dibuat dalam konteks lelucon. Kita juga harus meningkatkan pemahaman digital karena semakin canggihnya AI terkadang membuat kita menjadi sulit membedakan apakah konten tersebut benar adanya, atau hanya AI belaka. Sebagai orang yang paham akan dampak deepfake AI kita juga dapat mengedukasi keluarga, orangtua, dan teman-teman, agar tidak melakukan deepfake AI dan berhati-hati dalam menerima informasi, karena informasi tersebut bisa saja merupakan hasil deepfake AI.
Tidak hanya masyarakat, pemerintah juga harus tegas dalam mengatasi penggunaan deepfake AI di Indonesia. Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan meningkatkan penegasan hukum karena menggunakan deepfake AI termasuk pelanggaran UU ITE pencemaran nama baik, penyebaran hoax, dan penipuan. Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan platform digital, karena penyebaran konten deepfake diunggah pada media sosial yang dapat menyebar luas dimana saja dan kapan saja. Penyebaran ini sangat mudah dilakukan karena tidak adanya keterbatasan akses yang dilakukan platform digital. Dengan bekerja sama, pemerintah dapat meminta platform digital menghapus secara otomatis konten deepfake AI.
Apabila kita sadar, kemajuan teknologi dan munculnya AI sangat memberikan manfaat bagi kita. Sangat disayangkan banyak masyarakat yang cenderung acuh terhadap manfaat-manfaat tersebut dan justru menjadikan AI sebagai hal yang tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk mencegah, menyadari, dan melakukan pencegahan terhadap hal yang seharusnya tidak dilakukan agar kita dapat tetap mengimbangi manfaat dari kemajuan teknologi di Indonesia saat ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
