
Berenang ala Khalifah Umar RA
Agama | 2025-04-01 11:35:07Anjuran untuk berenang, memanah dan berkuda adalah dari ucapan : “Umar bin Al-Khattab berkata,"Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda."
Walaupun ini bukan hadist akan tetapi ini mempunyai makna yang dalam dimana kala itu Khalifah Umar RA bersemangat untuk mendakwahkan Islam ke seluruh dunia dan beliau paham untuk mempunyai prajurit yang kuat maka mereka harus pandai berkuda, memanah dan berenang.
Berenang sebagai salah satu anjuran Umar RA tentunya masih relevan dengan keadaan sekarang dimana kita perlu "berenang" dari derasnya arus informasi yang ada sekarang ini.Menyaring derasnya informasi di era digital agar mendapatkan kebenaran adalah tantangan besar, terutama dengan maraknya hoaks, misinformasi, dan disinformasi. Berikut adalah strategi praktis dan filosofis untuk menghadapinya, berdasarkan prinsip Islam dan metode modern:
1. Prinsip Dasar dalam Islam untuk Menyaring Informasi
a. Tabayyun (Verifikasi) - QS. Al-Hujurat 49:6 : "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..."
- Aplikasi : Jangan langsung menerima atau menyebarkan informasi tanpa memeriksa sumber dan kebenarannya.
b. Hindari Prasangka (Su’udzon) - QS. Al-Hujurat 49:12 : "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..." - Aplikasi : Jangan mudah terpancing emosi atau prasangka buruk terhadap suatu berita.
c. Prioritaskan Ilmu dan Hikmah - QS. Al-Isra’ 17:36 : "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya..." - Aplikasi : Cari informasi dari sumber yang kredibel dan ahli di bidangnya.
2. Langkah Praktis Menyaring Informasi
a. Cek Sumber - Pastikan informasi berasal dari sumber terpercaya, seperti media mainstream yang diverifikasi, lembaga resmi, atau ahli di bidangnya. - Hindari sumber anonim atau tidak jelas kredibilitasnya.
b. Verifikasi dengan Cross-Check - Bandingkan informasi dengan sumber lain. Jika hanya satu sumber yang memberitakan, kemungkinan besar tidak akurat. - Gunakan platform fact-checking seperti Snopes, *lTurnbackhoax.id, atau Mafindo.
c. Periksa Tanggal dan Konteks - Banyak hoaks menggunakan informasi lama yang diputar ulang tanpa konteks. Pastikan berita tersebut relevan dengan waktu kejadian.
d. Analisis Konten - Waspadai judul sensasional atau provokatif. Bacalah keseluruhan konten, bukan hanya headline. - Periksa foto/video dengan tools seperti Google Reverse Image Search atau InVID untuk memastikan keasliannya.
e. Hindari Bias Konfirmasi - Jangan hanya mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan atau preferensi pribadi. Terbuka pada perspektif lain.
3. Menggunakan Teknologi untuk Mendapatkan Kebenaran
a. Manfaatkan Aplikasi Fact-Checking - Gunakan aplikasi seperti Google Fact Check Explorer atau Hoax Buster Tools untuk memverifikasi klaim.
b. Bergabung dengan Komunitas Literasi Digital - Ikuti grup atau forum yang fokus pada edukasi literasi media, seperti Mafindo atau Cek Fakta.
c. Aktifkan Filter Informasi - Gunakan fitur mute atau block di media sosial untuk mengurangi paparan konten tidak terverifikasi.
4. Membangun Mindset Kritis
a. Jadilah Pembelajar Aktif - Terus tingkatkan pengetahuan tentang isu-isu terkini dan cara kerja media. - Baca buku atau ikuti kursus tentang literasi digital dan berpikir kritis.
b. Ajarkan Literasi Media pada Keluarga - Edukasi anak dan keluarga tentang bahaya hoaks dan cara memverifikasi informasi.
c. Refleksi Diri - Sebelum menyebarkan informasi, tanyakan: 1. Apakah ini benar? 2. Apakah ini bermanfaat? 3. Apakah ini perlu dibagikan?
5. Contoh Praktis dalam Konteks Islam
a. Hadis Palsu (Hoaks Keagamaan) - Banyak hadis palsu beredar di media sosial. Gunakan aplikasi seperti Hadith Collection atau situs Sunnah.com untuk memverifikasi. - Konsultasikan dengan ulama atau ahli hadis jika ragu.
b. Fatwa Online - Pastikan fatwa berasal dari ulama atau lembaga yang diakui, bukan sekadar pendapat pribadi di media sosial.
c. Berita tentang Konflik - Saat membaca berita tentang konflik di Timur Tengah atau isu global, cari sumber yang netral dan diverifikasi.
6. Filosofi Islam tentang Kebenaran
- Kebenaran sebagai Tujuan : "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al-Baqarah 2:147). - Kebenaran adalah nilai tertinggi yang harus dikejar, bukan sekadar informasi yang memuaskan keinginan.
- Keadilan dan Kejujuran : "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah..." (QS. An-Nisa’ 4:135). - Menyebarkan kebenaran adalah bentuk keadilan.
Perlu di ingat :Menyaring informasi di era digital membutuhkan kombinasi kecerdasan intelektual, keterampilan teknologi, dan ketajaman spiritual. Dengan mengikuti prinsip Islam dan metode modern, kita dapat melindungi diri dari hoaks dan menemukan kebenaran yang hakiki.
Ingatlah: "Kebenaran itu berat, tetapi ia akan membebaskan. Kebohongan itu ringan, tetapi ia akan membelenggu."
.

Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook