
Lebaran 2025: Belanja Online atau Pasar Tradisional, Mana yang Lebih Menguntungkan?
Belanja | 2025-03-30 22:23:45“Baju baru, sepatu baru, hati baru. Semua berkat promo besar-besaran sebelum Lebaran!”

Di era digital yang semakin canggih ini, kita diperlihatkan perubahan yang cukup signifikan dalam cara konsumen berbelanja. Salah satu peristiwa yang sangat mencolok ini adalah cara konsumen berbelanja dari pasar tradisional ke belanja online. Seiring berkembangnya teknologi yang memudahkan seseorang dalam memenuhi kebutuhan, belanja online adalah pilihan utama untuk para konsumen beralih dan menganggap belanja online layaknya sahabat digital atau teman belanja.
Menjelang lebaran, konsumen memilih belanja online karena lebih praktis dan efisien dibandingkan harus datang ke pasar tradisional. Dengan belanja online konsumen tidak lagi dipersulit dan bisa kapan saja berbelanja tanpa terikat jam operasional, dengan pilihan produk yang beragam dan kemudahan membandingkan harga dalam satu platform. Diskon yang menarik seperti cashback dan gratis ongkir, menjadi daya tarik tambahan yang mendorong konsumen beralih ke belanja online. Harapan konsumen adalah mendapatkan produk yang berkualitas dengan harga terbaik, tiba tepat waktu sebelum lebaran, melakukan transaksi dengan aman, dan produk yang dipilih sesuai harapan dan ekspektasi konsumen.
Namun, nyatanya, belanja online saat menjelang lebaran tak selalu berjalan mulus. Lonjakan pesanan kerap menyebabkan keterlambatan dalam pengiriman barang. Tak hanya itu, konsumen juga kerap menghadapi masalah terkait kualitas produk yang tidak sesuai dengan foto ataupun deskripsi yang disampaikan. Masalah refund yang terlambat dan belum lagi jika kehabisan produk hal itu juga menjadi tantangan bagi konsumen. Pengalaman belanja online seperti ketidakmampuan untuk mencoba langsung produk atau berinteraksi langsung dengan penjual, membuat sebagian konsumen merasa kurang puas dibandingkan di pasar tradisional. Meski belanja online menawarkan berbagai macam kemudahan, realitas yang dihadapi juga tidak selalu sejalan dengan ekspektasi konsumen.
Mengapa cenderung belanja online saat menjelang lebaran? Perilaku tersebut didorong oleh beberapa faktor utama. Pertama, karena kenyamanan dan efisiensi, bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa harus datang ke tempat. Kedua, adanya promo dan diskon yang menarik, berbagai penawaran spesial tidak bisa ditemukan di pasar tradisional. Ketiga, pilihan produk lebih banyak dan bisa membandingkan produk satu dengan produk lain di platform e-commerce tanpa ribet. Meningkatnya kebutuhan musiman, adanya promo yang menggiurkan, dan kemudahan dalam bertransaksi menjadi faktor utama yang memicu lonjakan aktivitas belanja online.
Gaya hidup modern yang mengutamakan kenyamanan dan kecepatan dalam mendapatkan barang membuat belanja online menjadi solusi yang paling sesuai. Kondisi ini menjadikan belanja online sebagai bagian dari kebiasaan konsumsi masyarakat modern, terutama saat menghadapi momen penting seperti Lebaran.
Dalam budaya konsumtif modern, kepemilikan suatu barang kerap dianggap sebagai simbol status sosial dan bagian dari gaya hidup. Menjelang Lebaran, konsumen tidak hanya berfokus pada kebutuhan dasar seperti pakaian dan makanan, tetapi juga tertarik pada produk bermerek, edisi khusus Lebaran, dan aksesori yang sedang tren di kalangan masyarakat perkotaan. Platform e-commerce memanfaatkan tren ini dengan melibatkan selebritas, influencer, dan tokoh publik untuk mempromosikan produk yang dianggap memiliki nilai status.
Konsumen yang melihat promosi tersebut di media sosial cenderung tergoda untuk ikut membeli, bukan semata-mata karena kebutuhan, melainkan karena keinginan untuk terlihat setara dengan kelompok sosial tertentu atau mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Dorongan psikologis ini memperkuat kecenderungan konsumen untuk mengikuti tren belanja yang sedang berlangsung.
Perilaku konsumen yang beralih ke belanja online menjelang Lebaran dipengaruhi oleh kenyamanan, efisiensi, dan kemudahan dalam membandingkan produk serta harga. Promo menarik seperti diskon dan cashback turut memperkuat dorongan belanja. Meski menawarkan kemudahan, belanja online menghadapi tantangan seperti keterlambatan pengiriman, ketidaksesuaian produk, dan masalah refund yang lambat, sehingga realitas yang dihadapi konsumen tidak selalu sesuai dengan ekspektasi mereka.
Berubahnya pola belanja ini mencerminkan pergeseran budaya konsumsi masyarakat modern. Jika sebelumnya pasar tradisional menjadi pusat aktivitas ekonom menjlasng lebaran, kini e-commerece mengambil alih peran dengan menawarkan pengalaman belanja yang lebih mudah dan cepat. Namun, pasar tradisional masih memiliki daya tarik bagi mereka yang menikmati interaksi langsung dengan penjual dan suasana khas menjelang lebaran. Nyatanya, keberadaan pasar tradisional masih tetap penting dalam ekosistem ekonomi, bagi pedagang kecil yang bergantung pada penjual langsung.
Faktor emosional juga berperan dalam keputusan berbelanja. Menurut sebagian orang, belanja di pasar tradisional menjelang lebaran bukan tentang mendapatkan barang melainkan juga tentang hari raya bersama keluarga dan masyarakat sekitar. Proses tawar-menawar dan interaksi langsung antara pembeli-penjual menjadi aspek yang sulit ditemukan dalam belanja online.
Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa solusi dapat diterapkan. Platform e-commerce perlu meningkatkan kualitas layanan logistik untuk memastikan pengiriman yang tepat waktu, terutama saat lonjakan pesanan menjelang Lebaran. Kedua, transparansi dalam deskripsi produk serta kebijakan pengembalian barang yang lebih jelas dan mudah akan meningkatkan kepercayaan konsumen. Ketiga, edukasi tentang belanja bijak dan literasi keuangan juga penting untuk mencegah perilaku konsumtif berlebihan akibat dorongan promosi yang agresif. Sementara itu, pasar tradisional tetap memiliki daya tarik bagi konsumen yang mencari interaksi langsung dengan penjual dan suasana khas menjelang Lebaran. Dengan keseimbangan antara belanja online dan pasar tradisional, konsumen dapat memperoleh pengalaman belanja yang lebih baik dan memuaskan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook