
Jejak Kejayaan Kesultanan Demak: Pelopor Islam di Tanah Jawa
Sejarah | 2025-03-30 07:47:32
Sejarah Nusantara mencatat Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam dan perlawanan terhadap penjajahan asing. Berdiri pada akhir abad ke-15, Demak tidak hanya menjadi pusat kekuatan politik Islam, tetapi juga mercusuar dakwah yang mengantarkan perubahan besar di tanah Jawa.
Berdirinya Kesultanan Demak
Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah, seorang keturunan Majapahit yang masuk Islam. Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran akibat konflik internal, Raden Patah melihat peluang untuk mendirikan kerajaan baru yang berbasis Islam. Dengan dukungan para ulama dan Wali Songo, terutama Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga, Demak berkembang pesat dan menjadi pusat penyebaran Islam.
Pada masa pemerintahannya, Raden Patah membangun Masjid Agung Demak yang menjadi simbol kejayaan Islam di Jawa. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga tempat berkumpulnya para ulama dan pemimpin yang menentukan arah kebijakan kerajaan.
Masa Kejayaan di Bawah Sultan Trenggana
Puncak kejayaan Kesultanan Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521–1546). Di bawah kepemimpinannya, Demak memperluas wilayahnya hingga ke Jawa Barat dan menaklukkan beberapa wilayah penting seperti Sunda Kelapa (Jakarta saat ini) dari pengaruh Portugis. Penaklukan ini menunjukkan bahwa Demak bukan sekadar kerajaan Islam, tetapi juga kekuatan militer yang disegani.
Sultan Trenggana juga mendorong penguatan syariat Islam di wilayah kekuasaannya. Hukum Islam mulai diterapkan dalam pemerintahan, perdagangan berkembang pesat, dan sistem pertanian ditingkatkan untuk mendukung kesejahteraan rakyatnya. Di masa ini, pengaruh Islam semakin kuat di berbagai daerah di Jawa.
Peran Kesultanan Demak dalam Perlawanan terhadap Portugis
Pada abad ke-16, Portugis mulai menguasai Malaka dan berusaha memperluas pengaruhnya ke Nusantara. Kesultanan Demak melihat hal ini sebagai ancaman bagi kedaulatan dan keberlangsungan Islam di Nusantara.
Dipimpin oleh Fatahillah, seorang panglima perang yang juga seorang ulama, Demak berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada tahun 1527. Kemenangan ini tidak hanya menghalau ancaman asing, tetapi juga memperkuat posisi Islam di Jawa Barat. Sebagai tanda kemenangan, nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta, yang kelak berkembang menjadi Jakarta.
Kemunduran dan Warisan Kesultanan Demak
Setelah wafatnya Sultan Trenggana, Kesultanan Demak mengalami konflik internal yang melemahkan kekuatannya. Perebutan kekuasaan antara pewaris tahta menyebabkan perpecahan, hingga akhirnya pusat kekuasaan berpindah ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir.
Meskipun mengalami kemunduran, warisan Kesultanan Demak tetap abadi. Masjid Agung Demak masih berdiri megah sebagai simbol kejayaan Islam di Jawa. Selain itu, penyebaran Islam yang dimulai dari Demak terus berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa.
Kesimpulan
Kesultanan Demak bukan sekadar kerajaan Islam pertama di Jawa, tetapi juga pelopor penyebaran Islam dan benteng perlawanan terhadap penjajah. Kejayaannya di bawah Sultan Trenggana serta perannya dalam mengusir Portugis dari Nusantara menunjukkan betapa besar pengaruhnya dalam sejarah Indonesia. Meskipun kini hanya tinggal jejak sejarah, semangat perjuangan dan dakwah yang diwariskan Demak tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Muslim di Nusantara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.