
Perempuan Talango
Sastra | 2025-03-04 21:59:36

:Syaa
Kau pergi.
Tanpa kata, tanpa jejak. Seperti angin malam yang menyapu Talango; Membawa segala yang kau mau, Meninggalkan aku hancur. Aku mencintaimu Bukan dengan setengah hati, Bukan dengan ragu. Tapi kau memilih untuk lenyap; Seperti ombak yang tak pernah kembali ke pantai yang sama. Talango, tanahmu, Kini terasa asing bagiku.
Lautnya biru, tapi mataku hanya melihat kelam. Kau adalah pelabuhan yang ku sangka aman; Tapi kau justru menjadi badai yang merobek layarku. Aku bertanya: Apakah cintaku terlalu berat untuk kau bawa? Atau kau memang tak pernah berniat Untuk tetap bersamaku? Kau tinggalkan luka yang tak bisa kuterjemahkan; Luka yang tak bisa kusembunyikan. Perempuan Talango, Kau adalah cerita yang tak pernah selesai. Kau adalah mimpi yang berubah menjadi mimpi buruk.
Aku mencintaimu; Tapi kau memilih untuk menjadi bayangan yang hilang. Kini, aku duduk di tepi pantai ini; Menatap horizon yang tak pernah menjawab. Kau pergi, dan aku tetap di sini; Dengan hati yang hancur, Dan kenangan yang tak akan pernah cukup Untuk melupakanmu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook