
Pendidikan Sekuler dan Krisis Mental Remaja: Menuju Generasi Emas yang Hilang Arah
Agama | 2025-02-22 18:40:51
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan bahwa angka remaja dengan masalah kesehatan mental di Indonesia sangat tinggi, mencapai 15,5 juta orang atau 34,9 persen dari total remaja, yang disebabkan oleh tantangan kompleks yang dihadapi generasi muda saat ini, sehingga hal ini menjadi perhatian serius mengingat penduduk adalah modal dasar pembangunan negara. (TEMPO.CO, Jakarta)
Kondisi mental yang terganggu menjadi indikasi bahwa negara belum berhasil dalam membina masyarakat terkhusus generasi muda yang merupakat aset negara. Jumlah remaja yang mengalami masalah kesehatan mental semakin meningkat dan ini merupakan sebuah ancaman bagi masa depan bangsa. Sedangkan slogan “Menuju Generasi Emas 2045 “ semakin merebak ditengah-tengah masyarakat. Jika masalah ini terus diabaikan, maka mimpi untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 akan sulit tercapai. Generasi muda yang sehat mental adalah kunci kemajuan bangsa, sehingga perhatian lebih dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini.
Pendidikan Sekuler Akar Permasalahan Kesehatan Mental Remaja
Negara yang secara sadar menerapkan sistem kapitalisme sekuler telah memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu contohnya adalah pendidikan sekuler, yang cenderung membentuk remaja dengan perilaku liberal (pemisahan kehidupan dunia dan akhirat). Akibatnya, remaja mengalami kesulitan dalam memahami jati diri mereka dan gagal menemukan solusi yang tepat untuk berbagai masalah kehidupan. Hal ini pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kasus penyakit mental di kalangan remaja.
Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan negara telah menciptakan generasi muda yang kehilangan arah. Pendidikan yang tidak berlandaskan nilai-nilai agama dan moralitas telah menghasilkan remaja yang individualistis dan materialistis. Mereka tidak memiliki landasan yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan, sehingga rentan terhadap stres, depresi, dan gangguan mental lainnya. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa, karena generasi muda adalah penerus dan pemimpin masa depan.
Kepemimpinan Islam Pilar Generasi Cemerlang
Berbeda dengan sistem sekuler yang cenderung mengabaikan aspek spiritualitas, kepemimpinan dalam Islam memiliki tanggung jawab yang mendalam untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia. Hal ini diwujudkan melalui penerapan sistem kehidupan yang berlandaskan syariat Islam, yang mencakup pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik. Dengan demikian, Islam berupaya menciptakan generasi yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi.
Pendidikan dalam Islam tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai agama. Generasi muda dididik untuk memiliki keimanan yang kuat, ketaqwaan kepada Allah SWT, dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Sistem ekonomi Islam mendorong terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat, sementara sistem sosial Islam menekankan pentingnya persaudaraan, tolong-menolong, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, Islam berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya cemerlang dalam prestasi, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi umat manusia.
Dalam pandangan Islam, negara memiliki kewajiban untuk membangun sistem pendidikan yang berlandaskan pada akidah Islam. Lebih dari itu, negara juga bertanggung jawab untuk mempersiapkan orang tua dan masyarakat agar dapat mendukung proses pembentukan generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki mental yang kuat dan mampu membangun peradaban Islam yang mulia.
Negara Islam Melawan Pemikiran yang Merusak
Negara menyadari bahwa pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dapat membawa dampak negatif bagi perkembangan remaja. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil langkah-langkah strategis untuk melindungi generasi muda dari pengaruh ideologi yang dapat merusak akidah dan moral mereka. Kebijakan ini akan mencakup berbagai aspek, seperti pendidikan, media, dan kegiatan sosial, dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan remaja yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur agama.
Langkah-langkah yang akan diambil oleh negara tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga proaktif. Selain melindungi remaja dari pengaruh negatif, pemerintah juga akan berupaya untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang kuat dalam diri mereka. Hal ini akan dilakukan melalui program-program pendidikan yang berkualitas, kegiatan-kegiatan keagamaan yang positif, serta penyediaan konten media yang mendidik dan inspiratif. Dengan demikian, diharapkan remaja dapat tumbuh menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam, sehingga mereka mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Allahualam bisawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook