Bumi Raflesia: Sambut Ramadhan dengan Totalitas Taqwa!
Agama | 2025-02-19 21:16:26
Ramadhan tinggal menghitung hari. Bulan Istimewa dengan segala kebaikan dan keberkahannya. Kebaikan Ramadhan membuat umat Islam meningkat ketaqwaannya. Taqwa adalah buah manis ibadah puasa selama Ramadhan. Tanpa taqwa kita akan kehilangan segalanya dan dengan taqwa kita akan mendapatkan segalanya. Tentu segalanya yang bernilai di hadapan Allah yaitu kemuliaan seorang hamba berupa pahala, ridho dan surgaNya.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al Hujurat: 13).
Taqwa sebagai buah puasa Ramadhan tentu saja bukan taqwa sembarang taqwa. Taqwa yang kita raih merupakan taqwa yang totalitas yaitu totalitas hidup yang didedikasikan untuk Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.
Ketakwaan totalitas adalah ketika umat Islam mampu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai timbangan kehidupannya baik perkataan, sikap dan perilakunya dalam berbagai perkara. Kehati-hatian dalam berperilaku agar selalu dalam ketundukan pada hukum Allah serta terhindar dari jerat kemaksiatan dan pelanggaran hukum syariat, itulah yang disebut takwa.
Menurut Abu Hurairah, takwa dianalogikan dengan seseorang yang berhati-hati saat mendapati jalan yang ia lewati banyak duri. Tentu agar ia terhindar dari tajamnya tusukan duri di kaki. Maknanya, kehati-hatian dalam menjalani kehidupan agar tetap dalam koridor hukum Allah dan tidak terjerembap ke dalam kubangan dosa.
Dalam kehidupan yang didominasi oleh sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) tentu tidak mudah meraih taqwa totalitas. Lihatlah kehidupan umat Islam selama 1 abad terakhir ini! Ramadhan demi Ramadhan berlalu namun kondisi umat Islam semakin terpuruk dan diliputi dengan kesengsaraan, tentu jauh dari ketaqwaan totalitas.
Bagaimana dengan Ramadhan di Bengkulu, Bumi Raflesia? Tentu suasana Ramadhan tahun ini akan sama suasana Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan yang diliputi oleh krisis multimensi. Dalam bidang ekonomi, Bengkulu merupakan salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Pada September 2024, persentase penduduk miskin di Bengkulu mencapai 12,52%. https://www.rri.co.id/daerah/1289311/bengkulu-masih-termiskin-kedua-di-sumatera Padahal Bengkulu kaya dengan barang tambang yang meliputi perak, emas, dan batubara.
Dalam bidang pendidikan, ada kurikulum yang berganti-ganti, guru yang jauh dari kondisi sejahtera serta sarana prasarana yang jauh dari kata memadai. Salah satunya adalah kondisi ruang kelas yang nyaris runtuh dan bangunan gedung yang sudah tidak layak lagi untuk di tempati. https://beritapemerhatikorupsi.id/2024/09/sungguh-miris-kondisi-bangunan-sekolah-sdn-75-didesa-talang-beringin-butuh-perhatian-pemerintah/ Di Kabupaten Rejang, minimnya gaji guru, menyebabkan sekolah melakukan praktik jual beli Buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang memberatkan para orang tua. https://www.gobengkulu.com/2025/02/03/peringatan-keras-stop-jual-buku-lks-di-sekolah/ Belum lagi problem degradasi integritas guru dengan banyaknya kasus pelecehan seksual yang dilakukan guru terhadap muridnya.
Dalam bidang sosial, Bengkulu termasuk provinsi yang masih tertinggi kasus inces (perzinahan sedarah), kekerasan seksual dan penyimpangan seksual seperti LGBT. Belum lagi degradasi yang terjadi pada perempuan, keluarga dan generasi. Kemiskinan di Bengkulu rupanya menjadi pemicu tingginya angka gugat cerai para istri yang kebanyakan dipicu problem ekonomi. Wajar sekali jika ketahanan keluarga di Bengkulu nyaris rendah dan menjadi sebab utama problem kenakalan remaja seperti begal, narkoba, gaul bebas hingga bunuh diri. https://www.rri.co.id/bengkulu/daerah/1278349/perempuan-bengkulu-mayoritas-ajukan-cerai
Dalam bidang kesehatan, faktor kemiskinan juga menyebabkan tingginya angka penderita penyakit TBC yang selama tahun 2024 tercatat sebanyak 1.264 kasus. https://bengkulu.tribunnews.com/2025/01/10/kasus-tbc-kota-bengkulu-tercatat-capai-1264-kasus Tidak hanya TBC, penyakit lain yang juga memiliki kecenderungan meningkat adalah penyakit diabetes. Sejak Januari hingga akhir 2024 terdapat 22 ribu masyarakat Kota Bengkulu yang mengidap penyakit diabetes mellitus. https://mediaindonesia.com/nusantara/740848/kasus-diabetes-di-bengkulu-meningkat-capai-22-ribu-pada-2024
Carut marutnya kondisi rakyat Bengkulu diperparah dengan buruknya perilaku para pejabatnya yang tidak amanah dengan penyalahgunaan jabatan. Tercatat dalam sejarahnya yang terus berulang, korupsi di Bengkulu telah melibatkan 4 gubernur. Rohidin menjadi Gubernur Bengkulu ke empat yang terseret kasus korupsi, setelah Gubernur Bengkulu periode 2005-2012 Agusrin M Najamudin (kasus korupsi dana PBB dan ditangani Kejati-Kejagung). Lalu Gubernur Bengkulu periode 2012-2015 Junaidi Hamsyah (korupsi pembayaran honor tim Pembina RSMY atas penerbitan SK yang dinilai menyalahgunakan wewenang dan ditangani Bareskrim Polri). Kemudian Gubernur Bengkulu periode 2016-2017 Ridwan Mukti (OTT KPK 2017/kasus suap pembangunan jalan).
Dengan krisis multidimensi yang menimpa rakyat Bengkulu, tentu Ramadhan kali ini harus menjadi momentum untuk menghilangkan krisis yang bersumber dari sekulerisme dengan melakukan perubahan hakiki menuju penerapan hukum-hukum Islam secara totalitas.
Jika umat Islam melaksanakan shalat dengan menggunakan aturan Islam, mengerjakan puasa dan beribadah haji dengan aturan Islam, menikah dengan aturan Islam, memilih makanan dan minuman sesuai dengan Islam, juga mengurus jenazah berdasarkan aturan Islam. Mereka pun terlihat bergembira dan bersegera menyambut seruan Allah, “ kutiba ’alaykum ash-shiyâm.” Seharusnya dalam urusan pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, dan pidana, mereka pun mengambil aturan Islam sebagai pegangan. Mereka pun juga bergembira dengan seruan Allah “kutiba ’alaykum al-qitâl” dan “kutiba ’alaykum al-qishâsh”. Mereka pun bergembira menyambut seruan penegakan syariat Islam kaffah dalam bingkai Khilafah.
Inilah sebenarnya hakikat totalitas taqwa sebagai buah manis ibadah puasa kita pada bulan Ramadhan. Harapan terbaik, selama dan selepas Ramadhan, semangat dakwah dan perjuangan menegakkan syariat dan Khilafah makin menggelora. Ramadhan tidak hanya dipenuhi oleh kebajikan-kebaikan spiritual sebagai individu muslim namun juga dipenuhi kewajiban memperjuangkan syariat Islam kaffah untuk diterapkan oleh negara. Semoga Ramadhan tahun ini, Allah SWT segera menurunkan pertolongan dengan tegaknya Khilafah di muka bumi ini. Aamiin.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
