Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zaimudin Al Mahdi Mokan

Makna Spiritualitas Penciptaan Alam dan Cahaya Aqidah Islam

Agama | 2025-02-19 08:35:26
Sumber: https://ganaislamika.com/pengumpulan-mushaf-al-quran/

Dalam perkembangan Sejarah umat manusia, pendidikan dan ilmu pengetahuan menempati posisi khusus sebagai salah satu elemen penting pembentuk peradaban. Diawali ketika sebagian kecil Masyarakat mulai mempertanyakan tentang eksistensi, rahasia dan tujuan dari kehidupan mereka sendiri dan ketika mereka mencari tau mekanisme dan kekuatan tersembunyi yang tak terlihat dibalik kemegahan alam semesta yang ada di hadapan mata mereka sendiri. Di masa Yunani kuno, orang-orang hidup dalam kepercayaan penuh mitos yang mendasarkan peciptaan alam dan berbagai peristiwa didalamnya sebagai akibat dari campur tangan dan konflik para dewa-dewa mitologi Yunani. Begitupun Masyarakat India kuno, Masyarakat memiliki kepercayaan kepada dewa dewi Hindu sebagai tokoh-tokoh yang memiliki sifat-sifat “Pencipta”. Di Eropa Utara, terdapat kepercayaan terhadap mitologi dewa-dewa Nordik yang hari ini banyak diadaptasi kedalam berbagai bentuk film-film superhero ataupun drama kolosal yang sering ditonton masyarakat dunia. Berbagai macam bentuk kepercayaan ini – meskipun berbeda-beda secara deskripsi- namun memiliki sebuah pola kesamaan di satu tempat dan di belahan bumi yang lain. Suatu konsep yang membicarakan tentang “Ketuhanan”, “kepercayaan”, “nilai-nilai”, dan “sistem kehidupan”.

Adapun Sistem kepercayaan kepada entitas “Pencipta Alam” pun terbentuk dalam berbagai macam keyakinan keagamaan yang dikenal hari ini dengan beberapa istilah, politeisme, monoteisme, pantheisme, dan lain sebagainya. Agama ataupun sistem kepercayaan kemudian dikenal sebagai gerbang pintu masuk untuk memahami bagaimana dunia bekerja dan bagaimana manusia harus bekerja di dunia. Pengaruh agama menjadi pembimbing dan pedoman dalam hidup tentunya menjadi sangat krusial, mengingat apa yang diajarkan, apa yang dilakukan dan bagaimana penerapannya akan menentukan kemana dan bagaimana manusia mencapai tujuan yang diinginkan dan diajarkan oleh sistem kepercayaan itu sendiri.

Agama Islam sebagai ajaran yang dikenal sebagai salah satu agama samawi -agama yang diturunkan dari langit- menurut sejarah Islam sendiri, bahwa pada mula manusia diciptakan itu dalam keadaan mengesakan dan men-Tauhid-kan Allah SWT sebagai “Sang Pencipta Alam Semesta”. Allah Ta’ala menciptakan Adam Alaihissalam sebagai manusia pertama untuk dijadikan sebagai khalifah di muka bumi sekaligus diangkat menjadi Nabi dan Utusan (Rasul) pertama yang akan menyebarkan dakwah Islam kepada anak cucu keturunanya. Seiring berjalannya waktu dan semakin jauh generasi sesudahnya lalu mulai mengenalkan suatu konsep mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara orang-orang salih diantara mereka. Hingga di era Nuh Alaihissalam, manusia pun mulai seutuhnya menyembah berhala dan konsep Tauhid pun menjadi luntur dan sedikit diantara nya yang beriman hingga datang banjir besar yang terkenal diceritakan baik dalam Al-Quran ataupun kitab-kitab keagamaan lainnya.

Ditengah zaman yang panjang hingga sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ, Al-Quran telah berulang kali menceritakan keadaan kaum dan tempat Rasul diutus yang sebagian besar menolak ajaran dan risalah Tauhid yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul dengan penolakan dan alasan yang selalu kurang lebih sama.

Pertama, “menolak ajaran-ajaran yang dibawa karena bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh nenek moyang dan generasi pendahulu mereka”.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Q.S Al-Baqarah : 170).

Kedua, kesombongan karena kekuasaan sehingga menganggap dirinya sebagai Tuhan sebagaimana Fir’aun di Mesir dan Raja Namrud di Babilonia.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْۚ

“Firʻaun berkata, “Wahai para pembesar, aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selainku” (Q.S. Al-Qashas : 38).

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِۦمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. (Q.S Al-Qashas : 38).

Ketiga, sifat pembangkangan dan merusak yang berulang kali ditunjukkan oleh orang orang kafir yang dikisahkan sering melakukan perbuatan keji terhadap para Nabi dan Rasul yang diutus, baik pengingkatan berupa ucapan, perbuatan dan bahkan tindakan membunuh para Nabi dan Rasul.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّۦنَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

“Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al Baqarah: 61).

Keempat, karena menganggap kekayaan dan status sosial sebagai syarat utama diutusnya nabi dan Rasul sebagaimana yang terjadi pada bangsa Quraisy pada masa awal diutusnya Rasulullah ﷺ. Kemudian pengingkaran mereka melihat berbagai macam mukjizat Rasulullah ﷺ sebagai tukang sihir, orang gila, pendongeng, penyair, dan tuduhan-tuduhan lainnya.

أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (14) إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ (15)

“Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala". (Al-Qalam 14-15).

Jauh sebelum studi terhadap penciptaan alam dan sistem kepercayaan dilakukan hari ini, Al-Quran secara jelas menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta dan sistem kepercayaan manusia sebagai satu kesatuan dan dibentuk oleh faktor-faktor dimana manusia itu menetap dan berkembang. Sedemikian besarnya faktor-faktor spiritual dan nilai-nilai yang melingkupi Masyarakat kemudian membentuk pola kepercayaan turun-temurun terhadap apa itu konsep Ketuhanan dan nilai-nilai yang berkembang dan disinilah Aqidah Islam memberikan Cahaya terhadap makna spiritulitas penciptaan alam.

Manusia itu pada hakikatnya rapuh namun mencintai keabadian. Begitu takut kehilangan kenikmatan yang sudah ada, menghindari sebisa mungkin kehilangan kekayaan, kekuasaan, ataupun status jabatan yang sudah ada. Pertama, mereka mempelajarinya dari bapak-ibu mereka, kemudian mengajarkannya kepada anak cucu mereka. Ini lah bentuk kekafiran yang Al-Quran sebutkan bahwa kekafiran itu sebagai akibat dari mengikuti perkataan nenek moyang dan terus menerus dilakukan dari berbagai generasi. Sehingga salah satu tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul adalah memberikan peringatan dan sebagai perantara yang menjelaskan risalah Tauhid kepada manusia. Untuk memutus rantai kekafiran dan mengarahkannya kembali kepada jalan aqidah yang lurus dan benar.

Kedua, kenikmatan duniawi yang melimpah seringkali menyebabkan seseorang merasa sombong dan angkuh dengan apa yang dimilikinya. Ini menyebabkan perasaan bahwa semua kenikmatan duniawi yang diterima itu adalah miliknya sendiri dan diperoleh sebab-sebab usaha yang dilakukakannya. Tidak hanya berupa harta, namun juga kecerdasan akal, ataupun kehebatan dalam urusan dunia sehingga mereka pun merasa bahwa dunia adalah miliknya dan tidak ada satupun yang dapat mencegah kezaliman mereka. Kekafiran seperti ini banyak diceritakan seperti Fir’aun, Namrud dan Kisah Qarun. Dan Al-Quran telah menunjukkan kesesatan, kebodohan dan ketidakberdayaan mereka ketika Fir’aun dihantam bencana paceklik, hujan darah dan belalang, Namrud yang terbunuh oleh seekor nyamuk dan Qarun yang ditenggelamkan di bumi bersama hartanya. Berbagai persitiwa serupa yang Al-Quran sebutkan telah menjadi bukti kelemahan manusia.

Ketiga, bantahan terhadap pengingkaran yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu sebagian besar bernada sama, mereka hanya tidak bisa menerima risalah Tauhid bukan karena akal mereka yang tumpul dan menolak kebenaran, namun juga karena doronga nafsu dan cinta dunia yang menolak segala macam bentuk hal yang akan mengurangi kenikmatan yang saat ini mereka miliki. Pemikiran yang murni dan akal yang sehat akan mengantarkan seseorang pada penilaian yang adil dan objektif terhadap risalah Tauhid secara khusus dan Islam secara umum. Untuk itulah, ketika berkaitan dengan Aqidah, Al-Qur’an selalu memerintahkan untuk “memikirkan”, “mengamati”, “melihat” dan “merenungi” tanda-tanda penciptaan Allah di alam semesta. Akal manusia tidak diciptakan untuk tidak mengenal Tuhan, melainkan ia merupakan perwujudan sempurna dari berbagai keinginan dan pilihan untuk memilih jalan kebenaran melalui jalan yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan. Itulah fungsi dari Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ sebagai dasar ibadah dan muamalah dalam Islam yang jika anda dalami dan pahami dengan baik maka anda akan temukan hikmah, keniscayaan, kebenaran hakiki dan maknawi penciptaan alam semesta didalamnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image