
Suara dari Wamena: Menolak Makan Gratis, Meminta Pendidikan Gratis
Politik | 2025-02-17 21:22:34
Ini ketikan mahasisa pasca sarjana dari kelas yang saya ampuh.
“Bapak di Papua tidak butuh makan gratis tapi butuh pendidikan gratis mohon bisa di teruskan ke mentri terkait pak.
Karena di Papua lebih khusus Papua Pegunungan akan sulit diterapkan makan gratis karena jangkauan medan dan lain" berbeda-beda, Pak. Jadi lebih strategis pendidikan gratis, Pak makasih.”
Ketikan di atas merupakan respon dari laporan lapangan berikut:
Aksi Damai Pelajar Kota Studi Jayawijaya Menolak Program Makan Siang Gratis Dan Menuntut Pendidikan Gratis
Jayawijaya, 17 Februari 2025
Pada hari Senin, 17 Februari 2025, pukul 08.00 WIT, ribuan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan—mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hingga mahasiswa—melakukan aksi damai di Kota Studi Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Aksi ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi mereka terkait kebijakan pemerintah pusat mengenai program makan siang gratis yang digagas oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto Djojohadikusumo.
Para pelajar dengan penuh semangat menyatakan bahwa mereka tidak meminta makan siang gratis, tetapi mereka lebih membutuhkan pendidikan yang benar-benar gratis. Mereka menilai bahwa akses pendidikan yang berkualitas, fasilitas yang memadai, serta biaya pendidikan yang terjangkau merupakan kebutuhan utama bagi generasi muda Papua Pegunungan agar dapat berkembang dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Sejak pagi, peserta aksi berkumpul di berbagai titik strategis sebelum akhirnya berarak menuju pusat kota dengan membawa spanduk, poster, serta atribut yang mencerminkan aspirasi mereka. Beberapa tulisan yang tampak dalam aksi ini antara lain:
• "Kami Butuh Pendidikan Gratis, Bukan Makan Siang Gratis!"
• "Bangun Sekolah, Perbaiki Fasilitas, Bukan Cuma Kasih Makan!"
• "Akses Pendidikan Adil untuk Papua!"
Aksi ini berlangsung dengan tertib dan damai, dikawal oleh aparat kepolisian serta pihak keamanan setempat. Tidak ada insiden yang mengganggu jalannya demonstrasi, dan para peserta dengan disiplin mengikuti aturan yang telah disepakati sebelumnya.
Dalam orasi yang disampaikan oleh perwakilan dari masing-masing jenjang pendidikan, para pelajar menegaskan bahwa masalah utama di Papua Pegunungan bukanlah kelangkaan makanan siang, tetapi sulitnya akses terhadap pendidikan yang berkualitas.
Mereka menyoroti minimnya fasilitas sekolah, kurangnya tenaga pengajar yang kompeten, serta biaya pendidikan yang masih menjadi beban bagi banyak keluarga di daerah tersebut.
Seorang mahasiswa yang turut berorasi menyampaikan:
"Kami menghargai niat baik pemerintah untuk membantu pelajar. Namun, kami lebih membutuhkan pendidikan gratis agar kami bisa belajar tanpa harus khawatir tentang biaya. Kami ingin sekolah yang layak, guru yang berkualitas, serta akses yang mudah ke fasilitas pendidikan. Mohon dengarkan suara kami!"
Setelah berjam-jam menyampaikan aspirasi, para peserta aksi damai membubarkan diri dengan tertib. Aksi ini menjadi bentuk nyata dari kesadaran generasi muda Papua Pegunungan terhadap hak mereka dalam memperoleh pendidikan yang layak dan setara dengan daerah lain di Indonesia.
Harapan besar disematkan kepada pemerintah pusat dan daerah agar segera menindaklanjuti aspirasi ini dengan kebijakan yang berpihak kepada masa depan pendidikan di Papua Pegunungan. Para pelajar menegaskan bahwa mereka akan terus menyuarakan hak mereka hingga pendidikan gratis benar-benar dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa di wilayah mereka.
Aksi damai ini menandai sejarah penting dalam perjuangan pendidikan di Papua Pegunungan, sebuah langkah besar menuju masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda di wilayah tersebut.
Penulis Mr Yikwa
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook