Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dahlia-Ku

Catatan Cinta Sebuah Perjalanan

Curhat | 2025-02-05 08:58:24
Picture : canva

Kita semua pasti pernah melakukan sebuah perjalanan, bersama beberapa atau banyak orang. Tahukah jika sifat asli seseorang akan nampak salah satunya saat berada dalam sebuah perjalanan?. Maka wajar sekaliber Umar bin Khattab ra. jika ingin mengetahui akhlaq dan karakter asli seseorang, beliau akan bertanya pada orang yang sudah pernah melakukan perjalanan (safar) bersama.

Umar bin Khatthab ra. jika ada seseorang yang merekomendasikan temannya, beliau bertanya, "Apakah engkau pernah melakukan safar (perjalanan) bersamanya?. Apakah engkau telah bergaul dengannya?". Jika jawabannya "iya." maka Umar pun menerimanya. Jika jawabannya "belum pernah", maka Umar akan mengatakan, "Engkau belum mengetahui hakikat senyatanya tentang orang itu".

Luarbiasa bukan cara mengetahui sifat seseorang?. Maka dari itu, ada beberapa catatan yang perlu kita ingat saat melakukan sebuah perjalanan.

Yang pertama, prinsip memudahkan maka akan dimudahkan. Di dalam aqidah seorang muslim, ada sebuah hadist dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "...Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan untuknya kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat".

Hadist ini selayaknya terus diingat untuk menjadi motivasi bagi diri kita terutama saat melakukan perjalanan agar bersemangat memudahkan urusan orang lain. Jangan sampai tebersit niatan atau sikap untuk menyulitkan orang lain, karena konsekuensinya akan mendapat kesulitan juga entah di dunia ataupun di akhirat.

Kedua, memupuk kesabaran. Dalam kamus kehidupan, namanya ujian hidup selalu mendadak sifatnya tidak ada jadwalnya. Saat melakukan perjalanan bersama, adakalanya kita menghadapi teman yang terkendala sehingga terlambat datang. Maka disitulah ujian berlangsung, apakah mau membuka komunikasi lantas menunggu sembari memberikan solusi alternatif, ataukah mengedepankan ego, memutus komunikasi dan pergi duluan karena ingin lebih dulu sampai ke tempat tujuan.

Ketiga, manajemen mulut. Tentu bukan hanya uang yang perlu ilmu manajemen. Mulut kita pun perlu diatur, agar selama perjalanan tidak mengeluarkan keluhan-keluhan dan perkataan buruk ke orang lain. Yang mana jika ini dilakukan maka akan mengalirkan energi negatif di tengah rombongan. Teringat sebuah hadist dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mengingatkan kita agar berkata yang baik atau diam.

Keempat, menumbuhkan kepedulian dan empati. Perjalanan bersama menjadi ladang yang menampakkan masihkah ada rasa peduli pada temannya ataukah rasa itu sudah mati. Saat ada teman yang kehabisan bekal, sakit dan tidak mendapatkan tempat duduk misalnya, adakah rasa empati dan kepedulian yang tertancap di hati kita?. Atau justru kita fokus mengurusi diri sendiri dan tidak peduli kesulitan orang lain yang masih dalam satu rombongan?.

Dengan demikian sebuah perjalanan akan memberikan banyak pelajaran, tentu bagi orang yang mau memikirkan. Semoga kita bisa menjadi orang yang menghiasi setiap perjalanan yang ditempuh dengan nuansa penuh cinta kasih, sehingga akan melahirkan ketenangan dan keberkahan. Dimana makna keberkahan adalah perjalanan yang akan menambah amal kebaikan. Terakhir, semoga Allah lindungi kita dari perjalanan bersama dengan orang-orang yang berkarakter buruk.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image