Pop Mart di Puncak Popularitas: Tren Konsumerisme di Indonesia
Gaya Hidup | 2025-01-07 15:27:06
Oleh: Kayla Adristi Julianda, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga
Pop Mart adalah perusahaan mainan asal Tiongkok yang didirikan oleh Wang Ning pada tahun 2010. Perusahaan ini memiliki tujuan untuk merayakan momen sehari-hari melalui mainan rancangan desainer yang memberikan pengalaman menyenangkan. Dengan produk karakter yang unik dan lucu, Pop Mart telah meraih popularitas yang luar biasa di Indonesia. Antusiasme masyarakat ini terlihat dari banyaknya produk pop mart yang selalu sold out di mana mana. Memancing reseller untuk menaruh harga meroket untuk mainan karakter seperti labubu ini. Bahkan, sebuah mainan karakter khas Pop Mart ini dapati ditemukan dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Dengan harga yang sangat tinggi ini, apa sebetulnya yang membuat Pop Mart begitu diminati di Indonesia?
1. Desain yang unik dan menggemaskan
Pop Mart berkolaborasi dengan seniman-seniman berbakat untuk menciptakan karakter dengan desain yang unik dan menggemaskan. Di balik desainnya, masing-masing karakter juga memiliki cerita. Hal ini sengaja dilakukan untuk menciptakan hubungan emosional dengan konsumennya.
2. Perasaan puas ketika membuka blind box
Pop Mart dijual dalam bentuk blind box di mana pembeli tidak mengetahui apa yang akan mereka dapatkan. Hal ini memberikan perasaan menegangkan dan kepuasan saat konsumen membuka blind box tersebut. Perasaan ini membuat konsumen merasa senang dan ingin terus membeli lagi untuk memenuhi perasaan tersebut.
3. Strategi pemasaran yang cerdas
Di tokonya, Pop Mart memajang seluruh koleksi mereka dengan rapi untuk memancing ketertarikan konsumen. Konsumen cenderung menginginkan satu karakter tertentu, namun dengan sistem blind box, tentu saja kemungkinan besar karakter yang diinginkan tidak didapatkan dalam satu kali beli. Hal ini secara tidak disadari memicu pembeli untuk membeli secara berulang hanya untuk mendapatkan karakter yang diinginkan.
4. Terdapat desain limited edition
Pop Mart membuat desain langka di setiap seri karakter mereka. Hal ini menjebak konsumen dalam siklus konsumtif, yaitu membeli dalam jumlah banyak sekaligus atau secara berulang hanya untuk mencoba peruntungan untuk mendapatkan karakter limited edition ini.
5. Sengaja di buat langka?
Popularitas Pop Mart yang meroket di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah produk yang tersedia. Akibatnya masyarakat saling berebut untuk mendapatkan 1 mainan karakter Pop Mart. Kondisi ini memicu masyarakat lainnya yang tidak mau ketinggalan atau fomo ikut berebut. Menciptakan sebuah tren nasional di mana mainan berkarakter ini seakan menjadi kebutuhan wajib terutama di kalangan remaja.
Tren Pop Mart tentu membawa banyak dampak bagi masyarakat Indonesia. Dampak positifnya adalah masyarakat yang kini lebih menghargai karya seniman. Mereka yang memiliki bakat di bidang seni juga termotivasi untuk mengembangkan kreativitasnya. Selain itu, banyaknya komunitas kolektor yang bermunculan dapat dimanfaatkan untuk menjalin relasi berskala nasional. Namun, jika tidak dapat mengontrol diri, tren ini juga membawa pengaruh buruk seperti meningkatnya sifat konsumerisme. Banyaknya artis, selebgram, serta orang sekitar yang membuat konten tentang unboxing Pop Mart memicu orang-orang yang takut ketinggalan atau fear of missing out ikut membeli secara impulsive tanpa memikirkan fungsinya lebih jauh. Jika dibiarkan, sangat dikhawatirkan jika masyarakat akan terjebak dalam sifat konsumerisme terutama terhadap produk barat.
Pop Mart telah menunjukan kekuasannya dengan menjadi tren terpopuler Indonesia di tahun 2024. Dengan popularitasnya yang terus meroket, apakah tren ini akan tetap berlanjut di tahun 2025? Atau masyarakat mulai memiliki kesadaran dan membuat tren ini meredup layaknya tren lainnya?
Bagaimanapun ke depannya, sebagai generasi cerdas sudah seharusnya kita dapat memanfaatkan sisi positif dari sebuah tren dan menghindari sisi negatifnya. Alih-alih terjebak dalam sifat konsumerisme, tren ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri dan membangun relasi. Jangan hanya jadikan Pop Mart sebagai sarana untuk menghambur-hamburkan uang, tetapi jadikanlah tren ini sebagai wadah untuk mengekspresikan diri lebih baik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
