Menonton Manchester United Dari Burjo ke Burjo

Image
Zuliyan M Rizky
Olahraga | Monday, 14 Feb 2022, 18:57 WIB

Tidak ada yang lebih tabah dari fan Manchester United, bahkan “Hujan Bulan Juni” sekalipun. Andai saja memungkinkan, sepertinya saya akan mengajukan proposal kepada mendiang Pak Sapardi untuk mengubah diksi dalam puisinya yang magis tersebut.

Kawan, tidak mudah menjadi penggemar MU di masa yang penuh ketidakpastian ini. Konon kata orang roda akan selalu berputar. Namun, beberapa tahun terakhir, roda sepertinya enggan berputar untuk MU. Dari Ole yang ‘nyaris’ mustahil dipecat, sebagaimana mustahilnya Lewandoski menang Ballon D’or. Kembalinya legenda hidup yang nyaris mampir ke Manchester City, Ronaldo. Hingga datangnya Rangnick yang disebut suhu-nya para pelatih Jerman.

Melelahkan bukan menyaksikan MU akhir-akhir ini?

Mental plus ketabahan super kuat itu saya saksikan di muka-muka orang yang menonton MU dari meja-meja burjo. Baik mereka yang punya duit lebih, dengan magelangan dan pesanan es yang biasanya lebih dari satu. Atau mereka dengan dana sempit yang hanya pesan air putih, lebih tepatnya sekedar cari tempat untuk nonton dan nongkrong. Semuanya setara.

Berikut adalah pengalaman saya menyaksikan MU dalam tiga pertandingan di tiga burjo yang berbeda. Baik saat kontra Manchester City, Wattford, dan Aston Villa.

Manchester United vs Manchester City

Tulisan ini dimulai ketika MU masih diasuh oleh yang tercinta, Ole Gunnar Solksjaer. Saya bersama teman seorang fan MU datang ke sebuah burjo kebanyakan, bercat kuning dan bangkunya panjang-panjang. Karakteristik ini digunakan untuk burjo yang lebih merakyat.

Saat itu di burjo cukup ramai, beberapa cuma mau makan, beberapa main game sambil mepet tembok untuk charge, beberapa sekedar ngopi sambil ngerokok, dan beberapa seperti kami yang sekedar mencari tempat untuk nonton.

Burjo seperti ini biasanya kurang ramah untuk mereka yang pacaran, apalagi kalau ada bola yang sedang main. Jadi saat itu, spesies demikian tidak ditemukan.

MU saat itu terlalu baik ‘menjamu’ City di kandangnya. Belum juga es dan air putih kami sampai, satu burjo sudah misuh-misuh akibat MU langung kebobolan. Kurang ajarnya gol bunuh diri pula, MU terlalu totalitas membuat para fansnya kecewa.

Situasi di burjo tidak kondusif, beberapa masih mengumpat, beberapa tertawa ngakak, beberapa mendadak jadi pandit amatir, beberapa walkout, bahkan aa burjo memaksa ikut nonton tanpa risau kompor menyala dan pesanan masih banyak.

Di tengah keributan yang terlalu dini itu, hanya orang yang main game yang tidak peduli.

Gol bunuh diri yang terlalu dini membuat permainan United semakin ampas. Seiring pengunjung burjo yang banyak pulang dan menyisakan yang ngakak. Sekian banyak pemain MU hanya De Gea yang main ‘beneran’. Tapi setegar-tegarnya De Gea, dia rapuh juga. Benar saja, Benardo Silva menjebol gawang Setan Merah sebelum babak satu berakhir.

Habis sudah, kami berdua pun walkout dari burjo. Mereka yang pacaran dengan budget ngepas mulai mengisi bangku-bangku burjo yang kosong. Dan lagi-lagi, hanya orang yang main game yang paling konsisten bertahan, dan tidak peduli.

Manchester United vs Wattford

Hujan di tengah jalan membuat saya ‘tidak sengaja’ kembali nonton MU. Saya melipir ke sebuah burjo yang lebih menengah, sedikit next level dari burjo sebelumnya. Burjo ‘menengah’ ini biasanya digambarkan telah terpapar oleh sistem ekonomi dan digitalisasi terbaharu. Biasanya menerapkan sistem franchise dengan warna tembok yang disesuaikan oleh merk-nya, sudah mendaftar online delivery sehingga banyak abang-mbak ojol wara-wiri, bahkan agak lebih canggih juga menyediakan pembayaran lewat hitam-putih barcode.

Penampakan burjo pada waktu sedang tidak banyak orang, memang karena hujan. Beberapa di antaranya yang juga terpaksa mampir, beberapa lain kumpul sebuah tongkrongan yang sudah datang duluan, di sisi lain seorang bapak-bapak yang bertanya pada aa burjo terkait barcode namun tetap membayar dengan uang tunai, dan yang terakhir adalah misuh abang ojol yang malah dapat pesanan di tengah hujan deras dan sebelum kickoff dimulai.

Selain abang ojol tadi, yang menarik perhatian saya adalah seorang fan MU yang militan duduk di antara tongkrongan tadi. Saya mengira demikian dari baju yang ia kenakan, dan belakangan dugaan saya memang tidak salah. Malam itu, baik saya dan dia, tidak ada yang menyadari jika MU akan lebih lawak dari sebelumnya.

Kemelut sudah terjadi di gawang MU, lagi-lagi di menit-menit awal. Tapi De Gea masih tegar dengan menepis dua tendangan penalti yang dilesatkan oleh Ismailia Sarr. Seperti laga dengan Manchester City sebelumnya, saya kira De Gea masih memiliki kekuatan magis untuk setidaknya menutup kebobrokan pertahanan MU. Namun di menit 28, De Gea kecolongan juga.

Adalah Joshua King yang membuka gol di pertandingan tersebut. Tendangan pelan yang dilakukannya bahkan mengecohkan empat pemain MU di depan gawang, termasuk De Gea yang menjadi terhalang. Lepas gol oleh King, MU kemudian menjadi bulan-bulanan Watford.

Gol kembali dilesatkan oleh Ismailia Saar, Joao Pedro, dan digenapkan oleh Emmanuel Bonaventure Dennis. MU hanya mengambil satu gol dari Donny Van De Beek, pemain yang lebih sering dicadangkan di bawah kepelatihan Ole Gunnar Solksjaer. Belum selesai dengan kebobolan empat gol, MU masih harus menanggung kartu merah yang diperoleh Harry Maguire. Sungguh, sebuah kebobrokan yang paripurna.

Berbeda dengan sebelumnya, selain karena hujan, saya menolak walkout dari burjo dan memilih untuk tetap menonton. Berbeda dengan Manchester City kemarin, kali ini MU lebih totalitas untuk kalah. Tentu hal tersebut menjadi tontonan yang sangat menarik. Berbeda dengan fan MU tadi, ia keluar dari tongkrongan dan tetap walkout dari burjo walau hujan masih sangat deras.

Setelah pertandingan itu, baik di Sleman maupun Manchester, kita sama-sama tahu jika akhirnya yang tercinta Ole Gunnar Solksjaer didepak. Sebuah keajaiban.

Manchester United vs Aston Villa

Apakah MU akan segera membaik tanpa Ole? Awalnya saya berpikir begitu. Untuk membuktikannya saya kembali menonton bersama seorang teman fan MU yang sama di sebuah burjo yang rada borjuis.

Sebab pertandingan baru mulai tengah malam, kami sengaja mampir ke burjo menengah ke atas ini. Terlalu ke atas hingga satu level lagi layak menyandang status sebagai cafe. Burjo model ini tidak banyak dan biasanya fokus menawarkan ‘tempat’ alih-alih makanannya. Beberapa tandanya adalah tersedianya WiFi serta jumlah stop kontak yang hampir tersedia di setiap meja.

Penampakan burjo malam itu rumayan ramai. Meja-meja yang mepet tembok biasanya diisi oleh para pemain game dengan badan menyender dan handphone yang dicas ke stop kontak. Meja-meja di tengah diisi oleh mereka yang pacaran, juga beberapa di antaranya grup-grup tongkrongan. Menariknya, terdapat spesies baru yakni mereka yang datang untuk belajar atau kerja. Biasanya meja akan diisi oleh laptop yang juga dicas ke stop kontak serta beberapa berkas yang terjejer sebagai manis.

Semakin malam beberapa orang pacaran dan tongkrongan datang silih berganti. Beberapa kalangan produktif pergi, atau tetap bertahan namun berubah menjadi tongkrongan. Lagi-lagi, hanya orang main game yang paling konsisten. Televisi di burjo ini juga lebih besar dan modern, mencolok, dan semakin menjadi perhatian saat kembali menyiarkan kickoff MU lawan Aston Villa.

MU di bawah Rangnick masih prematur. Memang beberapa kali menang, namun masih tidak meyakinkan. Habis isu pelatih, datang kabar kembali jika para pemain MU tidak cocok dengan kepelatihan Rangnick. Bumbu-bumbu drama ini yang mengantarkan laga MU melawan Aston Villa-nya Gerrad.

Berbeda dengan laga-laga sebelumnya, MU langsung unggul di menit-menit awal. Bruno Fernandes melesatkan tendangan yang gagal diantisipasi Evi Martinez. Bruno kembali menyumbang gol di babak kedua pada menit 67. MU di laga itu berada di situasi yang begitu mapan.

Entah mengapa setelah itu kembali suram untuk MU. Jacob Ramsey menjebol gawang De Gea di menit ke 77. Belum habis kecolongan, Coutinho yang baru saja datang sebagai pemain pinjaman langsung menyamakan kedudukan dengan gol di menit ke 81. Gol Coutinho menjadi ironi ganda, tidak hanya untuk MU, tapi juga untuk Barcelona yang tidak kedapatan tuah pemain asal Brazil ini.

Hasil imbang itu tidak membuat situasi dalam burjo berubah. Bukan berarti tidak ada yang nonton. Namun, status ‘menengah ke atas-nya’ lah yang membuat orang-orang yang misuh maupun ngakak tidak bermunculan. Namun, suara misuh tetap terdengar dari dalam dapur burjo.

MU pasca Alex Ferguson mencoba berkutat pada banyak aspek. Pada pelatih, pemain, manajemen, filosofi, dana besar, dan banyak lagi. Mengembalikan legenda hilang, menunjuk veteran klub menjadi juru latih, menggelontorkan dana besar guna mendapat pemain terbaik. Namun roda masih enggan berputar untuk MU. Hanya tersisa suara misuh di level yang paling kecil, di burjo-burjo Yogyakarta yang beragam.

Suara misuh yang sama, yang mungkin juga keluar dari fan MU seantero dunia atas nestapa MU yang tidak berkesudahan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Mencari Pemimpin Visioner PMII Cabang Tangerang

Image

Kuliah Kerja Profesi untuk Mendukung Kerja Sama Dunia Usaha dan Dunia Indsutri

Image

Bersiaplah Menyambut Hiruk Pikuk Pesta Demokrasi

Image

Staff Registrasi Bapas Semarang Siap Menyajikan Data yang Akuntabel

Image

APK Bapas Semarang Turun Ke Ladang Untuk Melakukan Pengawasan Program Asimilasi Dalam Lapas

Image

Tingkatkan Akuntabilitas Bapas Semarang Laporkan Capaian Output Melalui E-Monev

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image