Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syahrial, S.T

Keutamaan Berdzikir dengan Jari-jari Tangan Dibandingkan Tasbih

Agama | Wednesday, 10 Jul 2024, 20:22 WIB
Dokumen pribadi

Dzikir merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melalui dzikir, seorang muslim mengingat dan menyebut nama Allah, memuji-Nya, serta memohon ampunan dan petunjuk-Nya. Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai cara menghitung dzikir - apakah menggunakan jari-jari tangan atau tasbih. Artikel ini akan membahas keutamaan berdzikir dengan jari-jari tangan dibandingkan dengan tasbih, disertai dalil-dalil sahih yang mendukungnya.

1. Mengikuti Sunnah Rasulullah
Salah satu alasan utama mengapa berdzikir dengan jari-jari tangan lebih utama adalah karena hal tersebut merupakan sunnah Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
"Hitunglah dengan jari-jari (tangan), karena sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya (di hari kiamat) dan akan dimintai kesaksian." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk menghitung dzikir menggunakan jari-jari tangan. Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam cara berdzikir.

2. Jari-jari Tangan Akan Bersaksi di Hari Kiamat

Hadits di atas juga mengandung peringatan bahwa jari-jari tangan akan ditanya dan dimintai kesaksian di hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa penggunaan jari-jari dalam berdzikir memiliki nilai lebih di sisi Allah SWT. Dengan menggunakan jari-jari untuk berdzikir, kita memberikan kesempatan kepada anggota tubuh kita untuk beribadah dan menjadi saksi atas kebaikan yang kita lakukan.

3. Lebih Praktis dan Selalu Tersedia
Berdzikir dengan jari-jari tangan memiliki keunggulan praktis dibandingkan dengan tasbih. Jari-jari tangan selalu tersedia dan tidak perlu dibawa-bawa seperti tasbih. Hal ini memungkinkan seorang muslim untuk berdzikir kapan saja dan di mana saja tanpa harus bergantung pada alat bantu eksternal.

4. Menghindari Riya' (Pamer)
Penggunaan jari-jari tangan dalam berdzikir dapat membantu menghindari riya' atau pamer. Tasbih, terutama yang indah dan mahal, terkadang dapat menjadi objek perhatian orang lain dan berpotensi menimbulkan rasa bangga atau ingin dipuji. Sementara itu, berdzikir dengan jari-jari tangan lebih tersembunyi dan pribadi, sehingga lebih mudah menjaga keikhlasan dalam beribadah.

5. Meningkatkan Konsentrasi dan Kekhusyukan
Berdzikir dengan jari-jari tangan dapat meningkatkan konsentrasi dan kekhusyukan. Ketika kita menggunakan jari-jari untuk menghitung, kita secara aktif melibatkan diri dalam proses dzikir, baik secara fisik maupun mental. Hal ini dapat membantu kita lebih fokus pada makna dzikir yang diucapkan, dibandingkan dengan hanya menggeser butir-butir tasbih secara mekanis.

6. Menjaga Kebersihan dan Kesucian
Jari-jari tangan, sebagai bagian dari tubuh kita, lebih mudah dijaga kebersihan dan kesuciannya dibandingkan dengan tasbih. Kita dapat dengan mudah berwudhu dan membersihkan tangan sebelum berdzikir, sementara tasbih mungkin tidak selalu dalam keadaan bersih atau suci, terutama jika sering dibawa-bawa.

7. Fleksibilitas dalam Jumlah Dzikir
Berdzikir dengan jari-jari tangan memberikan fleksibilitas dalam menghitung jumlah dzikir. Kita dapat menghitung hingga 99 dengan menggunakan kedua tangan, sesuai dengan jumlah Asmaul Husna. Bahkan, dengan sedikit kreativitas, kita dapat menghitung lebih dari itu. Sementara tasbih umumnya terbatas pada jumlah tertentu, seperti 33 atau 99 butir.

8. Melibatkan Lebih Banyak Indera
Penggunaan jari-jari dalam berdzikir melibatkan lebih banyak indera dibandingkan dengan tasbih. Selain pendengaran (mendengar ucapan dzikir) dan pengucapan (mengucapkan dzikir), kita juga melibatkan indera peraba dan propriosepsi (kesadaran akan posisi tubuh) saat menggerakkan jari-jari. Hal ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kehadiran dalam berdzikir.

9. Menghindari Ketergantungan pada Benda
Berdzikir dengan jari-jari tangan dapat menghindari ketergantungan pada benda tertentu dalam beribadah. Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman atau kurang lengkap jika tidak menggunakan tasbih saat berdzikir. Dengan menggunakan jari-jari, kita belajar untuk tidak bergantung pada benda-benda fisik dalam mendekatkan diri kepada Allah.

10. Menjaga Tradisi Islam yang Autentik
Penggunaan jari-jari dalam berdzikir merupakan bagian dari tradisi Islam yang autentik dan telah dipraktikkan sejak zaman Rasulullah SAW dan para sahabat. Dengan mempertahankan praktik ini, kita turut melestarikan warisan spiritual yang berharga dari generasi awal umat Islam.

Kesimpulan

Meskipun penggunaan tasbih dalam berdzikir tidak dilarang dan masih banyak dipraktikkan oleh umat Islam, berdzikir dengan jari-jari tangan memiliki banyak keutamaan yang patut dipertimbangkan. Mulai dari mengikuti sunnah Rasulullah, hingga manfaat praktis dan spiritual yang dapat diperoleh, berdzikir dengan jari-jari tangan menawarkan pendekatan yang lebih autentik dan mendalam dalam mengingat Allah.

Namun, yang terpenting dalam berdzikir bukanlah alat atau metode yang digunakan, melainkan keikhlasan hati dan kesungguhan dalam mengingat Allah. Baik menggunakan jari-jari tangan maupun tasbih, yang utama adalah konsistensi dalam berdzikir dan upaya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab: 41-42)

Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya berdzikir dalam kehidupan seorang muslim. Dengan memahami keutamaan berdzikir menggunakan jari-jari tangan, semoga kita dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir kita kepada Allah SWT, serta meraih manfaat duniawi dan ukhrawi dari ibadah yang mulia ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image