Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zela Y

Menatap Bintang, Melihat Keajaiban Masa Lalu di Langit Malam

Riset dan Teknologi | Thursday, 20 Jun 2024, 12:53 WIB
Kredit: NASA, ESA dan N. Bastian (Pusat Fisika Internasional Donostia); Pemrosesan: Gladys Kober (NASA/Universitas Katolik Amerika)

Kamu pernah nggak, malam-malam, duduk di luar dan menatap bintang? Rasanya seru banget, kan? Tapi, tahukah kamu saat kita melihat bintang, kita sebenarnya sedang melihat masa lalu loh. Kedengarannya aneh, tapi itu benar banget! Yuk, kita cari tahu kenapa bisa begitu.

Apa Itu Cahaya Bintang?

Bintang adalah bola gas besar yang bersinar terang karena reaksi nuklir di intinya. Cahaya yang dihasilkan bintang ini adalah hasil dari fusi nuklir, di mana hidrogen diubah menjadi helium, melepaskan energi dalam bentuk cahaya dan panas. Proses ini membuat bintang bersinar terang dan memancarkan cahaya ke segala arah. Cahaya ini kemudian bergerak melintasi ruang angkasa dengan kecepatan sekitar 300.000 kilometer per detik atau lebih tepatnya 299.792.458 meter per detik (Tipler, 2001). Gimana cepet banget, kan?

Jarak dan Waktu dalam Astronomi

Ruang angkasa sangat luas sehingga para ilmuwan menggunakan satuan khusus yang disebut “tahun cahaya” untuk mengukur jarak. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun, yaitu sekitar 9,46 triliun kilometer. Misalnya, Proxima Centauri, bintang terdekat diluar tata surya kita, berjarak sekitar 4,24 tahun cahaya. Artinya, cahaya yang kita lihat dari Proxima Centauri malam ini sebenarnya dipancarkan lebih dari empat tahun yang lalu.

Namun, untuk jarak di dalam Tata Surya, kita menggunakan satuan yang lebih kecil dari "tahun cahaya". Jarak Bumi ke Bulan adalah 1 detik cahaya, Bumi ke Mars 3 menit cahaya,Bumi ke Matahari 8 menit cahaya, dan Bumi ke Pluto 5,3 jam cahaya. Artinya, cahaya dari Bulan butuh waktu sekitar 1 detik untuk mencapai Bumi, sedangkan cahaya dari Matahari butuh waktu sekitar 8 menit. sehingga, saat kita melihat Bulan, kita melihat Bulan sedetik yang lalu, sedangkan saat kita melihat Matahari, kita melihat Matahari 8 menit yang lalu.

Fenomena Melihat Masa Lalu

Ketika kita menatap bintang di langit malam, kita melihat cahaya yang mungkin dipancarkan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Misalnya, Sirius, bintang paling terang di langit malam, berjarak sekitar 8,6 tahun cahaya dari kita. Jadi, cahaya yang kita lihat malam ini dari Sirius sebenarnya berangkat dari sana delapan setengah tahun yang lalu. Keren banget, kan?

Fenomena Lain yang Menarik

Fenomena astronomi lain yang menunjukkan konsep melihat masa lalu adalah supernova. Supernova adalah ledakan dahsyat yang terjadi pada akhir siklus hidup sebuah bintang. Cahaya dari supernova ini bisa memakan waktu ribuan tahun untuk mencapai Bumi. Contohnya, Supernova 1987A, yang terjadi di galaksi tetangga kita, Awan Magellan Besar, yang berjarak sekitar 168.000 tahun cahaya dari kita. Artinya, kita melihat ledakan yang terjadi 168.000 tahun yang lalu!

Selain itu, ada juga bintang-bintang yang mungkin sudah tidak ada lagi tetapi cahayanya masih dalam perjalanan menuju Bumi. Karena jarak yang begitu besar, kita mungkin masih melihat cahaya dari bintang-bintang yang telah meledak atau mati ribuan tahun yang lalu.

Melihat bintang di langit malam adalah pengalaman yang mengingatkan kita betapa luas dan menakjubkannya alam semesta ini. Setiap bintang yang kita lihat adalah jendela ke masa lalu, memberikan kita gambaran tentang peristiwa yang terjadi di luar angkasa bertahun-tahun yang lalu. Ini adalah salah satu keajaiban alam semesta yang membuat kita merasa kecil namun terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar. Jadi, saat kamu menatap bintang, ingatlah bahwa kamu sedang melihat sejarah alam semesta. Seru banget, kan?

Sumber:

 

  1. "Stellar Evolution and Nucleosynthesis," National Aeronautics and Space Administration (NASA). Link.
  2. "Proxima Centauri," European Southern Observatory (ESO). Link.
  3. "Sirius: The Brightest Star," Space.com. Link.
  4. "Supernova 1987A," NASA's Hubble Space Telescope. Link

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image