Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image jok

Dokter Anak: Ibu Pengidap HIV Boleh Menyusui

Info Sehat | Wednesday, 29 May 2024, 15:36 WIB
ASI memberi nutrisi lengkap yang dibutuhkan bayi. Foto: healthmatters.nyp.org.

KELOMPOK dokter anak terkemuka di AS sedang membuat perubahan besar dalam kebijakan tentang aktivitas menyusui oleh wanita yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Kelompok ini mengatakan bahwa wanita yang terinfeksi HIV dapat menyusui bayi mereka asalkan mereka minum obat yang menekan virus yang menyebabkan AIDS.

Laporan baru dari American Academy of Pediatrics (AAP) mengubah panduan yang telah diberlakukan sejak awal epidemi HIV pada tahun 1980-an.

Kelompok tersebut mengatakan obat-obatan yang tersedia saat ini dapat mengurangi risiko penularan HIV melalui ASI menjadi kurang dari satu persen, kata Dr. Lisa Abuogi, ahli HIV pediatrik di University of Colorado dan penulis utama laporan tersebut.

"Obat-obatan ini sekarang sangat efektif dan manfaatnya bagi ibu dan bayi sangat penting sehingga kita berada pada titik di mana penting untuk terlibat dalam pengambilan keputusan bersama," kata Abuogi.

Obat-obatan tersebut dikenal sebagai terapi antiretroviral. Obat ini tidak menghilangkan semua risiko penularan HIV melalui ASI. Menghindari menyusui adalah satu-satunya cara pasti untuk mencegah penularan virus, kata Abuogi.

Selain itu, orang tua hanya boleh menyusui selama enam bulan pertama bayi. Penelitian menunjukkan bahwa berpindah antara ASI dan susu formula dapat mengganggu pencernaan bayi dengan cara yang meningkatkan risiko infeksi HIV.

Sekitar 5.000 orang yang memiliki HIV melahirkan di AS setiap tahun. Hampir semuanya minum obat untuk menekan virus ke tingkat yang sangat rendah, kata Abuogi. Tetapi tingkat virus dapat meningkat jika mereka tidak terus meminumnya.

Obat-obatan ini mulai tersedia secara luas sekitar 10 tahun yang lalu. Sebelumnya, sekitar 30 persen infeksi HIV yang ditularkan dari ibu ke bayi terjadi selama menyusui, kata Dr. Lynne Mofenson, penasihat di Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation. P

ada awal 1990-an, sekitar 2.000 infeksi terjadi pada bayi di AS setiap tahun. Saat ini, jumlahnya kurang dari 30.

Kebijakan baru AAP ini datang lebih dari setahun setelah lembaga pemerintah mengubah saran mereka. National Institutes of Health (NIH) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengubah rekomendasi mereka yang melarang menyusui oleh orang dengan HIV. Panduan baru mengatakan bahwa orang yang memiliki penekanan virus harus diberi nasihat tentang pilihan mereka. Lembaga-lembaga ini juga mengatakan bahwa penyedia layanan kesehatan tidak boleh melaporkan kepada layanan perlindungan anak jika orang tua dengan HIV ingin menyusui.

Penelitian mengatakan menyusui memberikan nutrisi terbaik untuk bayi dan melindungi mereka dari penyakit dan kondisi seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Menyusui juga mengurangi risiko ibu terkena kanker payudara dan ovarium, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan sejak taun 2010 bahwa wanita dengan HIV di negara-negara berkembang menyusui bayi mereka dan menerima terapi antiretroviral. Panduan ini mempertimbangkan risiko bayi terkena HIV melalui menyusui dan risiko bayi meninggal karena malnutrisi, diare, dan pneumonia. Di negara-negara berkembang, pengganti ASI yang aman sering tidak tersedia.

Dr. Lynn Yee, dokter kesehatan wanita dari Northwestern University, yang membantu menulis panduan NIH, mengatakan para ahli di negara maju merekomendasikan untuk tidak menyusui. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan air bersih, susu formula, dan ASI donor manusia yang dapat menghilangkan risiko infeksi HIV, tambah Yee.

Hal tersebut mengecewakan orang dengan HIV, yang tidak diberi pilihan untuk menyusui.

Ci Ci Covin (36), dari Philadelphia, Pennsylvania, mengatakan bahwa dia diberitahu bahwa dirinya terinfeksi HIV pada usia 20 tahun. Dia mengatakan dia tidak diizinkan menyusui anak pertamanya, Zion, yang sekarang berusia 13 tahun.

Covin mengatakan tidak bisa menyusui anaknya menyebabkan depresi pasca melahirkan. Ketika dia hamil anak perempuannya, Zuri, yang sekarang berusia 2 tahun, petugas kesehatan membantunya menyusui dengan sukses selama tujuh bulan. Covin minum obatnya, dan bayinya diberi obat untuk mencegah infeksi.

"ASI memiliki segalanya yang dibutuhkan bayi saya," kata Covin. "Itu adalah hal yang indah."

Abuogi mengatakan laporan AAP memberikan panduan penting bagi dokter anak, perawat, dan spesialis laktasi yang bekerja dengan anak-anak dan keluarga.

Beberapa penyedia layanan mengabaikan rekomendasi sebelumnya dan membantu wanita yang sedang diobati untuk HIV menyusui bayi mereka. Panduan baru ini diharapkan dapat memperluas aktivitas menyusuidengan cepat, kata Abuogi.***

Sumber: Associated Press, Voice of America

--

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image