Mempertanyakan Kecintaan dan Pengamalan Kita terhadap Kandungan Al-Qur’an

Image
Ade Sudaryat
Agama | Sunday, 16 Jan 2022, 02:34 WIB

APABILA melihat kondisi fisik dan aksesorisnya, kitab suci Al-Qur’an pada saat ini semakin beragam dan semakin indah. Beragam ukuran dan nuansa baru aksesoris yang menghias keindahan tampilan cetakannya selalu hadir hampir setiap masa. Demikian pula dengan ragam metode cara mengajarkan dan menghafalnya selalu hadir dengan beragam inovasi.

Tak kalah menariknya adalah semakin memasyakatnya kebiasaan menghafal Al-Qur’an. Kini semakin banyak orang yang tertarik menghafalkannya. Kondisi ini pun mendorong berbagai lembaga untuk mendirikan ma’had atau pondok pesantren khusus penghafal Al-Qur’an.

Keadaan ini tentu saja sangat menggembirakan. Umat Islam begitu memperhatikan akan kitab sucinya yang mulia. Hal ini menunjukkan pula betapa cintanya umat Islam terhadap kitab sucinya. Terlebih-lebih dengan semakin banyak penemuan metode cara mudah mengajarkan membaca dan menghafal Al-Qur’an akan semakin mendorong banyak orang untuk membaca dan menghafalkannya.

Namun demikian, mari kita merenungkan beberapa hal. Dari segi isi, Al-Qur’an pada masa Rasulullah saw, para sahabat, tabi’in, sampai pada generasi kita pada saat ini adalah sama, sangat jauh kemungkinan dari adanya penambahan dan pengurangan isinya.

Pertanyaannya, jika isinya sama, bacaannya sama, mengapa umat Islam pada masa Rasulullah saw dan beberapa abad setelah Rasulullah saw wafat, umat Islam memperoleh wibawa, kemajuan, dan disegani umat dan bangsa lain? Padahal dari segi ketersediaan fisik cetakan Al-Qur’an sangat terbatas.

Bandingkan dengan kondisi pada saat ini. Seperti sudah disebutkan pada awal tulisan ini, dari berbagai sisi, kitab suci Al-Qur’an sudah sangat memasyakat. Pertanyaannya, mengapa umat Islam pada saat ini semakin kehilangan wibawa, tak disegani umat dan bangsa lain?

Mungkinkah kondisi pada saat ini merupakan kondisi yang pernah diprediksi Abdullah Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah saw? Ia pernah mengatakan, “Saya sangat kesulitan untuk menghafal Al-Qur’an, namun saya diberi kemudahan untuk mengamalkan kandungannya. Dan kelak, orang-orang sesudahku akan mudah membaca dan menghafal Al-Qur’an, tapi mereka akan kesulitan untuk mengamalkan kandungannya. (Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid I : 40).

Dari pertanyaan tersebut kiranya ada kata kunci pemahaman kita terhadap Al-Qur’an yang hilang. Kata kunci tersebut adalah pengamalan terhadap kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan keseharian. Diakui atau tidak, kita baru sebatas bangga dengan semakin memasyarakatnya Al-Qur’an dari sisi jumlah pembaca dan penghafalnya.

Keterbatasan penulisan Al-Qur’an dan hadits pada masa Rasulullah saw tidak mengendurkan semangat para sahabat untuk membaca, menghafal, dan terutama dalam mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak para sahabat yang enggan menambah hafalan Al-Qur’an sebelum ayat Al-Qur’an yang dihafalnya dan hadits yang didengar dari Rasulullah saw diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidaklah mengherankan jika pada masa Rasulullah saw, setiap jengkal kehidupan masyarakat Islam itu benar-benar diwarnai nilai-nilai Al-Qur’an yang ditafsirkan dengan sabda Rasulullah saw. Setiap permasalahan diselesaikan dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan sabda Rasulullah saw. Dampaknya, dari hari ke hari banyak orang yang tertarik dengan ajaran Islam. Umat Islam berwibawa, dan ajaran Islam semakin berkembang pesat ke luar dari jazirah Arab.

Kini penyebaran dan pengkajian Al-Qur’an dan hadits semakin berkembang pesat. Demikian pula dengan penyebaran ajaran Islam. Namun demikian, keadaan umat Islam jauh berbeda dengan pada masa Rasulullah saw, masa sahabat maupun masa tabi’in.

Kini, kita seolah tak memiliki kuasa apapun terhadap gejolak kehidupan yang menimpa umat Islam. Gejolak pertikaian di Palestina, Timur Tengah, dan berbagai gejolak lainnya tak kunjung selesai.

Sebagian kalangan ada yang menyalahkan terhadap sistem pemerintahan Islam yang tidak lagi menggunakan sistem kekhalifahan. Para pemimpin umat Islam berebut kekuasaan. Oleh karena itu, sebagian kalangan ada yang bersikukuh berupaya mengembalikan sistem pemerintahan ke sistem kekhalifahan.

Terlepas dari semua itu, inti permasalahan umat Islam pada saat ini adalah belum sepenuhnya mengimplementasikan kandungan Al-Qur’an dan hadits dalam kehidupan sehari-hari. Diakui atau pun tidak, keber-Islam-an kita baru sebatas di atas sajadah, masjid, tanah suci, atau pada bulan Ramadhan. Di luar semua itu, terkadang nilai-nilai Islam kita lenyap dari kehidupan.

Meminjam istilah Gordon W. Allport, salah seorang psikolog, keberagamaan kita baru sebatas ekstrensik. Melaksanakan nilai-nilai ajaran agama baru sebatas melaksanakan kewajiban, namun belum dihayati makna dan nilai-nilai luhurnya. Banyak menggeluti simbol, melupakan makna, dan tidak mengimplementasikannya dalam berbagai lini kehidupan.

Ajaran agama dilaksanakan, namun bukan untuk mewarnai kehidupan. Al-Qur’an dilantunkan dengan suara merdu, tapi tidak menjadikan kehidupan kita semakin merdu sesuai dengan irama kehidupan yang digariskan Al-Qur’an. Pelaksanaan ajaran Islam dan kehidupan kita laksana garis lurus sejajar yang tak pernah menemukan titik singgung.

Pengamalan ajaran agama seperti ini harus segera diubah. Kita harus segera melompat dari melaksanakan ajaran Islam secara ekstrensik ke pengamalan ajaran Islam secara instrinsik (menjadi ruh kehidupan). Kita harus berupaya mewarnai semua lini kehidupan kita sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits.

Setiap pribadi muslim, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya wajib mewarnai kehidupannya dengan ajaran Islam. Jangan yang muluk-muluk dulu, mari kita mengaplikasikannya mulai dari hal yang terkecil. Apakah cara tidur, makan, dan mencari nafkah kita sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam? Apakah kehidupan bertetangga dan perhatian kita terhadap lingkungan sekitar sudah sesuai dengan ajaran Islam?

Orang yang taat melaksanakan ajaran Islam baik dalam hubungan dengan Allah, manusia, dan alam sekitarnya digolongkan sebagai orang shaleh. Kehadiran orang-orang shaleh akan membawa berkah terhadap kehidupan. Kehadiran mereka akan mendamaikan kehidupan di sekitarnya.

Thomas Merton seorang penulis dan aktivis perdamaian mengatakan, “Anda tidak akan dapat mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal shaleh. Anda tidak akan dapat memperoleh tatanan sosial tanpa kehadiran kaum mistik (sufi), orang-orang suci, dan para Nabi.”

Sebagaimana telah kita yakini dalam dua kalimah syahadat, tak akan ada lagi Nabi selepas Nabi Muhammmad saw. Oleh karena itu, sangatlah salah jika ada orang-orang yang mengakui sebagai Nabi. Namun demikian, sangat dimungkinkan apabila kita berusaha menghadirkan orang-orang yang berusaha menyucikan diri, bahkan bisa dimulai dari diri kita sendiri.

Orang yang berupaya menyucikan diri adalah orang-orang yang setiap saat berupaya memperbaiki ketaqwaannya kepada Allah. Orang yang berupaya memperbaiki ketaqwaan kepada Allah adalah mereka yang berupaya berislam, melaksanakan ajaran Islam dalam setiap lini kehidupan, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini.

Keberadaan ajaran Islam yang mulia dan rahmatan lil’alamin hanya akan dirasakan semua orang bahkan oleh makhluk selain manusia, manakala ajaran Islam tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membuktikan kemuliaan Islam, tak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain kita harus berislam sepanjang masa dalam setiap lini kehidupan, sekuat tenaga mengimplementasikan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan.

Ilustrasi : Al-Qur'an (sumber gambar : www.yabangkit.or.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Y2mate, Cuma Tempel Link Download Video Youtube ke HP

Image

YTMP3 2022 : Situs Downloader Videi Youtube Jadi Lagu MP3 Terbaru 2022

Image

YTmp3, Download Musik Youtube Tanpa Aplikasi Terbaru 2022

Image

YTMP3 : Ubah Video Youtube Mnejadi Musik MP#

Image

New Update Version Snack Video, Link Gratis Menghasilkan Uang Tanpa Bekerja

Image

MWC NU Sanden Gelar Syawalan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image