Mencari Ruang Gerak Sosial Islam dalam Dunia Metaverse

Image
Ryan Ardiansyah
Agama | Friday, 14 Jan 2022, 07:06 WIB

Perkembangan abad 21 telah membawa umat Islam di Indonesia menjadi sangat dewasa, sebagaimana yang kita ketahui dengan adanya perkembangan teknologi diseluruh di dunia dapat memberikan dampak yang baik bagi perkembangan informasi sehingga dapat memudahkan seseorang melakukan pertukaran kebudayaan, namun hal ini juga perlu kita garis bawahi bawah perkembangan teknologi bagai dua mata pisau sebab dengan adanya perkembangan teknologi juga membawa bencana dehumanisasi dalam kehidupaan umat manusia. Tentunya ada variable yang mendorong bencana dehumanisasi mencuat ke permukaan kehidupaan.

Hal ini didorong dengan menguat sistem ekonomi dan politik kapitalisme global, dimana aktivitas manusia membentuk “persaingan bebas”. Fenomena ini menjadi benang merah dalam permasalah yang terjadi saat ini. Fenomena digital ini menarik untuk dilihat dengan berbagai paradigma, sebagaimana yang kita ketahui saat ini dunia sedang mewacanakan dunia metaverse.

Wacana ini disinggung oleh Mark Zuckerberg yang bertujuan menyongsong memadukan dunia nyata dan virtual. Dalam satu sudut pandang dunia nyata dalam memberikan informasi dapat terbatas akan tetapi virtual dapat menembus batas. Jika kita melihat dunia nyata dan virtual merupakan dua mata koin yang berbeda tetapi keduanya mencoba merumuskan bagaimana dunia ini akan bekerja sehingga mampu merumuskan “internet yang dibuat nyata”. Pertanyaan mendasarnya bagaimana posisi Islam dalam memberikan paradigma dunia metaverse yang merupakan bagian dari dampak derasnya globalisasi? Lalu bagaimana kerja Tauhid Sosial dalam zaman digital ini.

Paradigma Islam tentang Globalisasi

Dalam buku Islam kiri “Melawan Kapitalisme Modal dari Wacana Menuju Gerakan” ditulis oleh Eko Prasetyo. Mengatakan bahwa Secara kasar, dibagi menjadi empat paradigma hal dalam pendekatan sudut pandang dalam memahami kemiskinan dan globalisasi. Diantara lainnya tradisionalis, moderenis, revivalis dan transformative. Kita dapat melihat keempat paradigm ini dalam wacana keilmuan yang berada dalam lingkungan organisasi Islam di Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, ICMI, Ansor, HMI, PMII dan PII, serta organisasi Islam lainnya yang ada di Indonesia.

Eko Prasetyo menjelaskan keempatnya merespon kemiskinan dan globalisasi secara massif. Mulai dari tradisionalis yang percaya bahwa permasalah kemiskinan berasal dari rencana Tuhan, yang dalam artian bahwa kemiskinan merupakan bagian ujian keimanan seseorang. Akar dari paradigm ini berasal dari teologi Sunni, atau yang lebih dikenal dengan Asy’ariah yang bersandar pada konsep pendeterminasi (takdir), yakni ketentuan dan rencana Tuhan jauh sebelum alam semesta diciptakan.

Lalu yang kedua paradigm modernis atau liberal, bagi mereka kemiskinan yang terjadi akibat dari ketidakterlibatan ummat terhadap pembangunan dan globalisasi. Pandangan ini memberikan dampak pada penganutnya untuk mengedepankan values, kreativitas, dan budaya. sehingga mengantarkan ummat Islam pada teologi rasionalitas dan kreativitas. Dengan paradigma seperti ini mengindikasikan bahwa paradigma modern tidak ada masalah yang bersinggungan kuat dengan globalisasi.

Ketiga pandangan revivalis atau fundamentalis, paham ini merespon globalisasi. terjadinya kemiskinan ummat Islam justru banyaknya mengunakan banyak paham “isme” yang dijadikan sebagai pijakan ketimbang Al-Qur’an dan Hadis itu sendiri. Menganggap pandangan lain (isme) merupakan agenda non-muslim.

Dan yang terakhir teologi transformasi Islam kiri, penganut paham ini berpandangan kemiskinan dan globalisasi terjadi dikarenakan adanya penyimpangan sistem dan struktur ekonomi. Fokus dari pandangan ini menitik beratkan pada prinsip fundamental yakni keadilanm yang dalam artian bagaimana konsep ekonomi dan politik memihak kaum tertindas. Dari empat pandangan yang terdapat dalam buku Eko Prasetyo, memberikan ruang diskusi yang panjang terkait dengan kemiskinan dan globalisasi. Sehingga nantinya memberikan formula bagi gerakan sosial keagamaan umat Islam dalam membentuk ruang bersama.

Generasi Islam dan Globalisasi

Perkembangan teknologi yang secara dinamis memberikan dampak keterbukaan informasi yang sangat membeludak dalam media digital, sehingga secara langsung membentuk budaya kota. Nurcholis Madjid menyebutkannya sebagai “ Masyarakat Madani” sebagai masyarakat berkemajuan dan berperadaban.

Penulis sejalan dengan apa yang disebutkan Nurcholis Madjid atau Cak Nur. Dalam perkembangan pemutahkiran teknologi memaksa desa-desa menjadi seperti di kota. Hal ini atas pertimbangan bagaimana di daerah pedesaan atau tingkat kabupaten terdapat pabrik, hotel, café-café dan perguruan tinggi yang biasanya pembangunan seperti itu berada di kota.

Dalam buku Inkulturasi Islam “ Menyamai Persaudaran dan Emansipasi kemanusia karangan Abdul Mu’ti. Menyebutkan Generasi Pop lahir dari rahim globalisasi setelah jalan perkawinan kompleks antara kebudayaan, nilai-nilai agama. Tetapi yang menariknya lembaga keagaaman yang terbentuk dalam lingkungan keluarga, menjadikan generasi pop Islam mempunyai ciri khas tersendiri dalam membentuk karakter kebudayaan Indonesia.

Visi Sosial Al-Qur’an

Secara garis besar ketika seorang muslim menjalankan ibadah akan memberikan dampak kepada kehidupaan sosial. Hal ini menekankan pada nilai-nilai Islam tidak hanya bergaris horizontal tetapi juga vertical. Namun pada perkembangan teknologi ini kita merefleksikan kembali visi sosial Al-Qura’an dalam dunia digital.

Dalam buku Politik Identitas Umat Islam yang ditulis oleh Kuntowijoyo. Mengatakan bahawa Tauhid Sosial rangkaian sebuah kesatuan, dari keesaan Tuhan, kesatuan ciptaan (QS. Ar-Ra’ad ayat 13), kesatuan manusiaan (QS Al-Hujjarat ayat 13), kesatuan orang beriman dan kesatuan ummat (QS Al-Hujjarat ayat 10). Sehingga simpul-simpul tersebut membentuk hablun minallah qa hablun minas.

Secara garisbesar kesalehan bukan semata-mata menjalankan ibadah ritual, tetapi lebih dari itu kesalehan adalah memberikan yang terbaik kepada mustadhafi. Tentu hal ini sangat jelas bahwa konsep Tauhid Sosial menghantarkan manusia sebagai Insan Kamil, yang mampu mengejewantahkan nilai-nilai sifat dari Tuhan dalam berkehidupaan di bumi.

Dengan demikian konsep Tauhid Sosial masih sangat relevan dalam dunia digital. Hal ini tentu terlihat saat pandemi 19 bagaimana lembaga organisasi Islam maupun pemerintahan berkerja gerakan sosial digital mengumpul suatu alokasi bantuan terdampak covid, pendidikan, modal usaha ekonomi mikro bagi masyarakat. Gejala ini membuktikan bahwa ummat Islam di Indonesia sedang membentuk karakter masyarakat madani dalam menyelami zaman metaverse.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa semester 9, jurusan Sejarah Peradaban Islam, UIN Syarif Hidatullah Jakarta. Mengisi kegiatan dengan menjadi penulis lepas

Jika Aku bukan Aku

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

MP4Juice: Situs Download Lagu dan Musik MP3 Selain di MP3Juice

Image

Y2Mate, Download Video Dari Youtube Mudah Dan Gratis Terbaru 2022

Image

GB Whatsapp Pro V19.50 Download Apk Terbaru 2022

Image

Lapas Kayu Agung Kemenkumham Sumsel mengikuti Zoom Obrolan Peneliti (Opini)

Image

MP3 Juice : Solusi Download Lagu Tren Mudah Dan Cepat

Image

Pengembalian Aset Negara Bagi Pelaku Korupsi di Bawah 50 juta Tanpa Dipenjara

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image