Kasih Ibu di Antara Pilihan
Sastra | 2024-01-31 13:45:33
Ruang tengah di rumah besar itu sejenak hening. Suara malam khas alam pedesaan memainkan simponinya. Semua penghuni rumah larut dalam pikirannya masing-masing. Ada kepedihan mendalam yang dirasakan semuan penghuninya, setelah tiga hari yang lalu Sang Nakhoda rumah berpulang dalam tenang. Gundukan tanah merah itu masih basah, namun komplek pemakaman umum yang tadinya sunyi kini ramai dgn orang-orang yang melantunkan ayat suci disamping pusara makam baru itu. Selama tujuh hari kedepan, sekelompok orang bergantian mengkhotamkan Al Qur’an. Terbagi dalam 3 shif pagi, siang, dan malam Tak ada masalah soal biaya, toh semua anak-anaknya orang berpunya.
Kembali ke ruang tengah rumah besar bertiangkan kayu jati, Arman Sang Putra sulung memecah keheningan dengan suaranya yang penuh wibawa.
"Aa bukan bekerja tapi mempekerjakan, jika perusahaan aa tinggalkan, maka ada ribuan nasib karyawan yang dipertaruhkan, belum ada yang bisa aa percaya untuk memegang tampuk tertinggi perusahaan". Arman menghentikan ucapannya lalu matanya memandang satu persatu keempat adiknya.
"Sebagaimana yang Aa dan Ayi-ayi tau, bahwa saat ini restoran saya sudah ada sembilan cabang di sembilan kota, cabang ke sepuluh sedang dibangun di Bekasi. Sebagai owner, saya harus turun tangan mengurus bayak hal, tidak bisa diwakilkan, saya yakin Aa dan Ayi- ayi faham".
Arif putra kedua membuka suara. Wajahnya kembali tertunduk, wibawa Arman hampir serupa bapak mereka.
Bagimanapun Armanlah yang turut andil dalam kesuksesan adik- adiknya.
Sesaat kemudian terdengar suara Aminah,
"Saya seorang istri a, suami saya bekerja di perusahaan asing, seringkali harus bepergian keluar negeri, dan selalu saya temani, Aa dan Ayi tau sendiri, selain sebagai istri, Saya juga sekretaris pribadi yang turut mengurus pekerjaan suami".Aminah tentunduk, air mata kepedihan menganak sungai di kedua pipinya.
Aminah tau, sebagai satu-satunya anak perempuan, seharusnya ia yang tinggal di rumah ini, menemani dan merawat ibu di usia senjanya, tapi statusnya sebagai seorang istri dan tanggung jawab yang dipikulnya kini blum memungkinkan untuk ditinggalkan.
Semua berawal disaat bapak akan menghembuskan nafas terakhirnya. Semua anak mantu sudah berkumpul, tak ada yang berani menentang saat bapak memanggil, apalagi saat itu kondisi bapak memang sempat beberapa kali kritis.
"Bapak tidak akan meninggalkan warisan harta apapun pada kalian, jika diantara kalian ada yang mau silahkan minta sekarang, selagi Bapak masih hidup. sebagian akan Bapak wakafkan, dan sisanya akan Bapak hibahkan sepenuhnya untuk satu orang diantara anak-anak Bapak, sayaaratnya cuma satu, rawat dan temani ibu disini, jangan bawa ibu keluar dari tanah kelahiran nya, kalian dilahirkan di sini, tumbuh besar disini, jangan lupa sama kampung sendri. Apalagi ibumu wanita kampung, dia tidak akan tahan udara kota, jangan paksa ibumu untuktinggal bersama kalian, tapi salah satu dari kalianlah yang harus kembali ke sini. Kebahagiaan ibumu ada disini, teman, dan keluarga, baraya, semua ada dikampung ini, bahagiakan ibumu dengan kebahagiaannya jangn paksakan kehendak kalian".
Semua tertunduk dan terisak. Bapak menyampaikan pesannya dengan tegas meski terbata. Kecintaan pada wanita yang tengah melahirkan ke 5 putra - putrinya, dan menemaninya lebih dari setengah abad itu tak diragukan lagi, bahkan dipenghujung hidupnya, Bapak masih memikirkan ibu. Sebuah cinta yang luar biasa.
"Saya tidak minta apapun dari harta Bapak, dan saya setuju dgn keputusan Bapak" Suara Arman terdengar serak, menahan tangis. "Saya juga", Arif, Aminah, Aiman, dan Aksan, mengiyakan bersamaan.
Bapak tersenyum, memeluk putra putri nya satu persatu, lalu memandang istrinya yang penuh air mata diwajah keriputnya
"Ibu tidak akan kesepian sepeninggal Bapak, ibu sing ridho, doakeun Bapak, hampura, maafkeun Bapak kasalahan Bapak". Innalillahi wainnailaihi roji'un. Bapak wafat dalam tenang dihadapan istri, anak, cucu dan mantunya.
Keputusan bapak inilah yang kemudian membuat gelisah ke 5 anaknya. Tak masalah soal harta, karena semua memang berpunya. Tentang siapa yang akan merawat ibu di kampung, inilah yang sulit diputuskan karena masing-masing punya tanggung jawab yang sedang diemban dan sulit dilepaskan. Andaikan Ibu mau di bawa ke kota, mungkin itu akan lebih mudah, tapi sebagai mana wasiat bapak dan keinginan ibu, ibu ingin tetap di tinggal dikampung.
"Aa dan tetehpun tau, jika saya baru saja dilantik sebagai walikota dua bulan lalu, ada janji-janji yang harus saya tepati kepada masyaarakat, jika saya tinggalkan itu artinya saya inkar terhadap janji dan sumpah jabatan saya" Aksan sang putra bungsu berucap.
Semua mata kini tertuju pada Aiman, putra ke 4 ini seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Diantara kakak dan adiknya memang dialah yang paling mungkin meninggalkan kehidupan nya saat ini, dan kembali ke kampung halaman nya untuk merawat dan menemani ibu di usia senja nya. Aiman ikhlas sangat ikhlas, harta, pangkat, jabatan apapun tak mungkin bisa menggantikan jasa seorang ibu. Tapi ia tidak sendiri, ada istri dan ketiga buah hatinya, si sulung sudah tinggal di pesantren, kedua anak lainnya masih kecil, tapi bagaimana dgn istrinya. Apakah istrinya mau tinggal dikampung yang sunyi, berada di lereng gunung dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan modern di kota. Selain mantan model yang sudah hijrah, istrinya adalah putri seorang pejabat di jajaran kepolisian, terbiasa hidup mewah dan instan, apa mau masak bersuluh kayu dan berkomporkan tungku.
Unik memang keluarga ini, jika kebanyakan anak berebut harta selepas orang tuanya meninggal, tapi kakak beradik ini malah tak menyoal sama sekali masalah harta. Ini bukan tentang harta tapi tentang keputusan berat antara merawat ibu yang telah mengandung dan melahirkan dengan tanggung jawab kehidupan yang kadung di tanggung.
"Biar saya dan Mas Aiman yang tinggal disini, merawat dan menemani ibu". Suara merdu Salsa, istri Aiman. membuat semua kaget dan juga plong. Serasa semua mendapat solusi dari kegelisahan di hati. Aiman terharu, kekhawatiran dihatinya sirna sudah, ia peluk istrinya penuh cinta
"Terimakasih sayang". “Salsa bukan orang baik A, Salsa sudah banyak berbuat dosa selama hidup Salsa, banyak orang yang Salsa sakiti, pada ayah dan juga bunda yang keburu berpulang sebelum Salsa minta maaf. kesempatan untuk merawat ibumu yang juga ibuku adalah kesempatan untuk menebus kesalahan Salsa di masa lalu. Salsa tidak faham agama A, Salsa hanya tau keridhoan Alloh ada pada keridhoan orang tua, semoga niat tulus Salsa di ridhoi Alloh SWT, dan Salsa ingin bertemu bunda di surga".
Ah, pecah. Seisi rumah menangis haru. Ada penyesalan mendalam pada tiap hati yang tak punya keberanian sehebat Salsa dan Aiman, semua sayang ibu, semua ingin merawat ibu, tapi bagaimana dengan kehidupan yang tengah mereka jalani?..., ah seharusnya memang tidak ada tapi bagi kasih seorang ibu.
Suara isak tangis terdengar lemah dari balik kamar. Perempuan penuh keriput terbaring lemah diatas dipan jati. Arman, Arif, Aminah, Aiman dan Aksan berhambur kepelukan perempuan bertubuh renta itu. Anak beranak itu larut dalam tangis yang panjang. Tiada kasih abadi di dunia, selain kasih ibu pada anaknya. Tiada harta, tahta dan wanita yang sebanding dengan jasa ibu pada anaknya. Selagi bisa kasihilah, selagi sempat bahagiakanlah.....
#Selamat Hari ibu Mah..
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
