Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Badri Munir Sukoco

Jendela Peluang Mengejar Ketertinggalan Teknologi

Teknologi | 2023-12-13 08:56:31

Visi Indonesia Emas 2045 memiliki sasaran salah satunya adalah mengantarkan pendapatan per kapita setara dengan negara maju. Untuk mewujudkannya, transformasi ekonomi dengan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi menjadi keniscayaan. Teknologi menjadi salah satu pengungkit nilai tambahnya.

Dinamika geopolitik dunia saat ini didominasi persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China, sebagian besar bermuara pada persaingan teknologi. China memanfaatkan Windows of Opportunity (Jendela Peluang) dengan baik untuk mengejar ketertinggalan, bahkan mengungguli AS, seperti pada solar panel atau baterai mobil listrik.

Bagaimana dengan Indonesia?

Jendela Peluang

Dunia menjadi saksi silih bergantinya perusahaan dan negara yang memiliki keunggulan teknologi dalam beragam industri. Keunggulan teknologi seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Pasca Perang Dunia II, banyak negara Asia keluar dari middle income trap dengan mengejar ketertinggalan (catch-up) teknologi yang bernilai tambah tinggi. Terbukanya Jendela Peluang (Perez dan Soete, 1988) yang merepresentasikan negara pendatang baru yang mengalahkan negara yang telah berkuasa sebelumnya, tentu dalam konteks tekno-ekonomi.

Konsep Jendela Peluang dipertajam lagi oleh Lee dan Malerba (2017) menjadi 3: teknologi, permintaan, dan institusional. Teknologi mobil listrik yang didominasi akan kebutuhan baterai mengantarkan China menjadi pemimpinnya saat ini. Besarnya pasar otomotif domestik mendorong beragam produsen memiliki ruang menawarkan beragam model dan harga sebelum ditawarkan ke pasar global. Dan tekanan untuk net zero emission menjadikan pemerintah, akademisi, dan pebisnis terdorong untuk menjadi yang terdepan dalam green technology.

Iran dan Nanoteknologi

Nanoteknologi semakin krusial dan prospektif untuk membuat dunia lebih baik, melalui pengelolaan material yang berskala nano (1 meter setara dengan 1 miliar nanometer). Beragam potensi kegunaannya, misalnya energi yang bersih dan murah, material yang ringan dan kuat, deteksi dini kanker dan pengobatannya yang lebih presisi, keamanan pangan dengan terkendalinya hama dan serangga, atau nanobots yang dapat menyerang logam atau pelumas tertentu yang digunakan oleh negara musuh pada alat perangnya.

Salah satu negara yang berpotensi menjadi pemimpin nanoteknologi adalah Iran. Berdasarkan laporan Iran Nanotechnology Innovation Council (INIC), terdapat 281 perusahaan Iran yang menghasilkan produk nanoteknologi dan 65 perusahaan yang memproduksi peralatan nanoteknologi. Jumlah produk yang dihasilkan tumbuh signifikan dari 12 sektor industri, Sebagian besar di konstruksi dan pertambangan minyak dan gas bumi. Nilai yang dihasilkan mencapai US$1,125 miliar. Beragam embargo harus dihadapi, namun berhasil mengekspor produk nanoteknologi secara ekstensif ke Irak, Turki, dan Lebanon.

knowledgenile.com
knowledgenile.com

INIC didirikan tahun 2003 guna merespon ketergantungan pada non-renewable resources dan besarnya potensi nanoteknologi untuk perekonomian Iran di masa depan. Beroperasi dibawah koordinasi Wakil Presiden, INIC mulai menerima pendanaan dari pemerintah mulai tahun 2004, reratanya US$16 juta hingga 2009. Program strategis disusun tiap 10 tahun. Tahap I (2005-2015) menitikberatkan pada peningkatan kesadaran publik akan pentingnya nanoteknologi, menyiapkan SDM dan infrastruktur yang diperlukan. Tahap II (2016-2025) fokus pada pengembangan bisnis dan komersialisasi hasil riset melalui peningkatan kerjasama internasional. Tahap III (2023-2035) menitikberatkan pada peningkatan dampak sosioekonomi dan posisi yang kuat secara global, baik secara saintifik dan komersial.

Tahap I telah diawali sejak 2001 yang menargetkan siswa SMA melalui Nanoclub, saat ini terdapat 1,6 juta siswa SMA yang familiar dengan nanoteknologi. Platform online yang memperkenalkannya dengan bahasa sederhana, sebagai pendalaman dari Seminar dan Workshop yang dilakukan. Kompetisi juga disiapkan, dengan peserta Olimpiade nanoteknologi lebih dari 100 ribu siswa dalam 12 tahun. Sekolah, institut penelitian, dan perusahaan sebanyak 210 organisasi berperan dalam pendidikan tersebut, dengan 91 laboratorium yang siap digunakan.

Kebutuhan tenaga terampil dan berpengetahuan dipasok oleh 76 universitas yang mendidik mahasiswa master berspesialisasi nanoteknologi dan 24 universitas pada level doktor. Sejak tahun 2010 dilakukan National Nanotechnology Competition yang telah diikuti 29.105 mahasiswa level sarjana, 15.639 mahasiswa magister, dan 7.195 mahasiswa doktor. Mulai 2017 telah diselenggarakan kompetisi NanoStartup untuk membuat minimum viable product (MVP).

Saat ini terdapat 40 ribu lulusan Magister dan Doktoral yang aktif terlibat dalam riset dan hilirisasi nanoteknologi. Data Scival menunjukkan bahwa topik terbanyak publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh ilmuwan Iran terkait dengan nanoteknologi. Sepanjang 2018-2022, menghasilkan 7.308 publikasi, terbanyak kelima di dunia setelah China, Amerika Serikat, India, Korea Selatan. Iran bahkan mengungguli Jepang. Hampir sepertiga paten Iran yang terdaftar di US Patent Office berasal dari riset nanoteknologi. Hal ini menunjukkan nilai strategis nanoteknologi dan tentunya nilai ekonomi dari industri strategis yang sedang dikembangkan.

Peran Iran Nanotechnology Laboratory Network (INLN) sebagai platform berbagi laboratorium di seluruh Iran menarik untuk dicermati. Terdapat 86 laboratorium yang digunakan oleh 25 pusat riset, 51 universitas, dan 10 perusahaan. Dari beragam tema, hanya 5 teknologi prioritas yang dikembangkan didalamnya: energi, Kesehatan, lingkungan dan air, material, dan konstruksi.

Saat ini, Tahap II dan Tahap III memasuki tahapan peralihan. Mempertahankan posisi nomor 5 secara global, baik secara saintifik maupun komersial adalah target hingga 2035. Target realistis ditengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang dikuasai AS dan sekutunya.

Rekomendasi

INIC didirikan berdasarkan surat ilmuwan Iran yang berkarya di Amerika Serikat pada tahun 2001. Pemilihan nanoteknologi sebagai industri masa depan Iran pengganti minyak dan gas bumi karena: memiliki dampak yang luas terhadap kualitas kehidupan rakyat, memiliki pasar yang besar di masa depan, dan Iran masih belum tertinggal pada teknologi ini dan dapat mengejarnya (Ghazinoory dkk., 2012). Mengandalkan kapabilitas dalam negeri, ekosistem industri nanoteknologi berkembang sesuai dengan tahapan dengan berbagai penyesuaian yang diperlukan.

Untuk Indonesia, industri strategis apa yang akan dikembangkan? Terdapat 3 windows of opportunity (Lee dan Malerba, 2017) yang dapat digunakan: teknologi (seperti Iran memanfaatkan nanoteknologi yang relatif baru), pasar (seperti China memanfaatkan besarnya pasar domestiknya), dan perubahan pemerintahan. Apapun industri strategis yang dikembangkan Indonesia, harus memanfaatkan ketiga jendela peluang diatas dengan tahapan pengembangan yang jelas sebagaimana Iran. Tahapan yang sebenarnya terinspirasi keberhasilan Indonesia membangun ekosistem industri pesawat terbang pada zaman Orde Baru.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image