Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Deffy Ruspiyandy

Berbuat Baik Tanpa Harus Menghitungnya

Agama | Tuesday, 17 Oct 2023, 05:27 WIB

Kebaikan sekecil apapun yang dilakukan oleh pelakunya tentu akan ada dampak bagi yang bersangkutan. Kapan itu akan dirasakan. Tak ada yang tahu, akantetapi jika melakukan kebaikan tentu akan mendapatkan balasannya. Ibarat menanam sesuatu, maka jika dipelihara atau dilakukan secara baik maka kita akan dapat memanennya suatu hari kelak.

Berbuat kebaikan seperti menyediakan makanan untuk orang lain (Foto : Dokumen Pribadi)

Surat Al-Isra’ ayat 7 tersebut artinya, “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat keburukan berarti keburukan itu bagi dirimu sendiri...”

Baik buruk memang sesuatu yang pasti dan ada di dunia ini. Oleh karenanya jika kebaikan itu lebih banyak manfaatnya maka buat apa keburukan itu harus kita lakukan. Kebaikan dan keburukan kita ibaratkan seperti melempar bola tenis ke sebuah tembok dan bola tenis itu akan kembali kepada siapa yang melemparnya.

Di sini terlihat semakin nyata, kebaikan yang dilakukan oleh kita takkan pernah sia-sia. Artinya setiap apa yang kita lakukannya Allah senantiasa akan membalasnya dengan kebaikan lain dan juga pahala. Jadi merupakan sebuah kerugian yang teramat besar jika selama hidup selalu saja melakukan keburukan karena satu keburukan yang dilakukan maka hasilnya akan kembali kepada pelakunya.

Melakukan kebaikan tak perlu dengan sesuatu yang sifatnya besar. Cukup saja dengan melakukan yang kecil tetapi manfaatnya akan dirasakan oleh orang lain. Misalnya tetangga kita ada yang tidak mampu, maka berikan uang bekalnya sama dengan apa yang diberikan kepada anak kita. Maka balasannya adalah selalu ada kecukupan untuk anak kita saat anak kita sekolah. Sehingga untuk bisa merasakan semua itu tentu harus melakukannya dengan penuh keyakinan dan ketulusan sehingga akan mendapatkan balasan yang dimaksud.

Dengan begitu maka bagi siapapun untuk melakukan kebaikan itu sesungguhnya hal yang mudah. Tetapi adakalanya kebanyakan orang selalu terbebani dengan keadaannya sehingga sulit untuk melakukan amal kebaikan itu. Percayalah jika ada orang yang meminta pertolongan kepada kita dan kita yakin akan bisa melakukannya melakukannya maka Allah akan permudah urusan yang bersangkutan saat melakukan kebaikan.

Ada cerita di mana seseorang kedatangan seorang wanita yang meminta bantuan di mana anaknya membutuhkan bantuan karena ada gangguan pada alat kelaminnya dan harus dikhitan segera. Orang yang diminta pertolongan memang tak memiliki uang dua juta rupiah. Karena yakin kebaikan akan dibantu oleh Allah maka ia sebarkan kesulitan itu agar ada orang lain ada yang membantunya melalui media sosial. Ternyata dalam satu minggu banyak orang yang membantu sehingga anak tersebut kemudian dapat dikhitan.

Jadi terkadang Allah bisa membantu urusan orang lain melalui kebaikan yang kita lakukan. Sesungguhnya terkadang kita sebenarnya tak mampu untuk mengatasi hal itu. Hanya saja Allah yang memampukan semua itu. Sehingga bagi siapapun yang ingin melakukan kebaikan, percayalah Allah selalu ada yang tangan-Nya selalu diulurkan untuk siapa saja yang hendak melakukan kebaikan karena Allah sangat suka kepada orang-orang yang berbuat baik selama hidupnya sebagai bekal di akhirat kelak.

Karenanya ketika Allah memberi kesempatan untuk berbuat kebaikan maka hal itu jangan disia-siakan. Lakukan saja kebaikan yang kita mampu karena kebaikan itu banyak memberi manfaat untuk kita. Sekali lagi, lakukanlah kebaikan selama kita mampu karena dengan kebaikan itu bisa membantu kita mengatasi masalah yang tengah dihadapi dan datangnya dari arah yang tak disangka-sangka. Maka berbuat baiklah karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang baik.***

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image