Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image satrio nurbantara

Perihal Posisi Filsafat

Lainnnya | Sunday, 09 Jul 2023, 15:21 WIB

"Filsafat yang dangkal membuat jiwa orang cenderung kepada ateisme, sedang filsafat yang mendalam mengantarkan jiwa ke pintu gerbang agama."

(Francis Bacon, On Atheism)

Sigmund Freud menganalisis manusia berdasarkan sisi kejiwaannya dan kemudian menemukan genealogi kebudayaan manusia dalam tiga tahapan:

(i) Mitos atau agama, yang diasosiasikan sebagai tahapan masa kecil manusia.

(ii) Filsafat, yang diasosiasikan sebagai tahapan masa remaja manusia.

(iii) Sains, yang diasosiasikan sebagai tahapan masa dewasa manusia.

Di sini agama berada di tahapan paling rendah dari gerak sejarah.

A.N. Whitehead dalam analisisnya mengenai sejarah pemikiran manusia menemukan bahwa agama adalah inspirasi terbesar bagi lahirnya filsafat dan sains. Tak ada filsafat dan sains jika tidak ada agama. Di sini agama diletakkan sebagai batu loncatan bagi seluruh gerak kebudayaan manusia. Di kemudian hari pandangan ini diafirmasi oleh pemikir Maroko Malik bin Nabi dalam analisis-analisis tentang filsafat kebudayaannya.

Arthur Schopenhauer menegaskan bahwa filsafat melangkah ketika sains kehabisan langkah. Agama tidak dibahas oleh Schopenhauer dalam bukunya The World as Will and Representation dan kita tidak tahu di mana tempatnya di antara sains dan filsafat. Apakah agama melangkah ketika filsafat kehabisan langkah? Jawabannya masih misterius.

Apapun bentuk perdebatan antara sains, filsafat dan agama, saya selalu melihat filsafat berada di tengah: entah di tengah sains yang ada di depan dan agama di belakang, maupun sebaliknya. Orang yang menempatkan agama di tingakatan paling rendah melihat gerak sejarah filsafat Yunani yang dimulai dari demitologi, yakni suatu aksi atau gerakan meruntuhkan mitos-mitos dewa Yunani. Orang yang menempatkan agama di tingkatan paling tinggi melihat dari materi subjeknya, yaitu objek material sains yang berupa anteseden, objek material filsafat yang berupa spirit, dan objek material agama yang berupa esensi Absolut.

Karena berada di tengah-tengah antara agama dan sains, filsafat bisa menjadi landasan kritis atas keduanya. Bukan kritik dalam artian meragukan, melainkan kritik dalam kerangka pembagian tugas. Jika sains terlampau objektif dan kemudian mengabaikan sisi-sisi subjektivitas pengkajinya, maka filsafat akan masuk dan mengotak-atik konstruksi sains, sebagaimana yang dilakukan oleh Edmund Husserl di paruh pertama abad 20. Jika agama (tentunya pemeluk agamanya) terlampau subjektif, selalu bersandar kepada keyakinan dan mengabaikan kebenaran objektif, maka filsafat masuk dan memberi nuansa baru, sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammad Iqbal.

Posisi filsafat seperti yang saya ungkapkan mencerminkan tugas filsafat ala C. D. Broad dalam bukunya Scientific Thought. Menurut Broad, tugas filsafat hanya dua: (i) menganalisis dan mendefinisikan konsep fundamental, dan (ii) menjelaskan statemen dan menegaskan krisisme atas keyakinan fundamental. Dengan dua tugas filsafat ini, tak ada lagi ruang bagi sains dan filsafat untuk beradu kebenaran. Keduanya justru saling menguatkan. Apabila filsafat berbicara mengenai substansi dan sebab, maka yang dibicarakannya adalah substansi dan sebab secara umum. Berbeda dari filsafat, sains membicarakan substansi dan sebab secara khusus. Broad menamai filsafat ini dengan Filsafat Kritis (Critical Philosophy).

Dengan pengandaian yang sama, saya bisa mengatakan bahwa, dengan melihat tugas ganda filsafat, tak ada pertentangan antara filsafat dan agama. Tatkala filsafat mendefinisikan substansi alam semesta sebagai spirit (Hegel) yang terlepas dari ruang sejarah tapi sekaligus menyatu dengannya, maka agama mengatakan bahwa sipirit itu adalah suatu Esensi dan bahwa kaitannya dengan alam semesta adalah kaitan Pencipta dan Ciptaan.

Tatkala filsafat mengkritik keyakinan fundamental pemeluk agama, sesungguhnya filsafat ingin mengetes keyakinan itu. Ketika suatu proposisi coba dibuktikan tetapi pada akhirnya tidak terbuktikan, maka kita akan sangat legawa mengatakan bahwa kita harus menolak pengetahuan agar ada ruang bagi iman (Kant), dan bahwa ketidak-mampuan untuk mengetahui adalah pengetahuan itu sendiri (Sufi).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image