Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Alif Fathullah

Merawat Keberagaman dalam Budaya Organisasi

Eduaksi | Sunday, 26 Dec 2021, 13:00 WIB
Sumber Gambar: Binakarir.com

Bagi mayoritas orang, organisasi merupakan salah satu rumah tempat berkumpul dengan rekan-rekan kenalan yang memiliki satu visi, misi dan tujuan dalam mewujudkan suatu impian sehingga masing-masing senantiasa bersikap ideal sesuai dengan peraturan yang ditetapkan organisasi. Selain itu, ada nilai-nilai yang menjadi pedoman anggota untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga tidak asal bekerja atau menyelesaikan tugas. Nilai-nilai yang menjadi pedoman tersebut seringkali disebut dengan budaya organisasi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Davis (1984) sebagai berikut;

“Pola keyakinan dan nilai-nilai organisasional yang dipahami, dijiwai dan dipraktikkan oleh organisasional sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar berperilaku dalam organisasional itulah yang dinamakan budaya organisasi”.

Pola keyakinan atau nilai tersebut tentu tidak sembarang dibentuk dan disusun akan tetapi dirumuskan sedemikian rupa dengan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk salah satunya adalah latar belakang anggota organisasi. Di Indonesia sendiri, yang merupakan negara multikultural dengan multi agama, suku, etnis, bahasa, dan kebudayaan, akan mudah dijumpai organisasi-organisasi yang didalamnya terkumpul anggota-anggota dari berbagai penjuru nusantara. Dari mulai organisasi tingkat sekolah, perguruan tinggi, kabupaten/kota, hingga tingkat nasional sebagaimana yang dimanifestasikan oleh kementerian dan lembaga pemerintahan lain.

Keniscayaan tersebut tentu menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan bagi organisasi agar dapat merangkul dan menyatukan keragaman dalam bingkai organisasi sehingga tujuannya dapat tercapai.

Menyikapi Keberagaman dalam Organisasi

Bagi seorang pemimpin, sangat wajib hukumnya untuk dapat mengetahui secara mendalam seluk beluk organisasi yang dikepalainya. Dalam hal ini, ia melakukan suatu pendekatan guna memahami masing-masing anggotanya entah itu latar belakang agama, bahasa, suku, budaya, hingga tradisi. Selain memaklumi keberagaman yang terdapat dalam organisasinya, ia juga dituntut untuk menyikapinya dengan baik sehingga mampu menyatukan perbedaan tersebut dalam satu kesatuan (to make a unity in a diversity).

Untuk menyatukan dan merawat keragaman budaya dalam organisasi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memperlakukan anggota sebagai individu

Dalam organisasi, seorang pemimpin seyogyanya dapat menerima keberagaman para karyawannya. Meskipun ada satu ras/kelompok yang dominan, pemimpin harus tetap berlaku adil terhadap yang lainnya. Pemimpin yang baik tetap memperlakukan masing-masing rekan organisasi sebagai individu yang utuh. Artinya, apapun yang dilakukan oleh masing-masing individu, ia memiliki tanggungjawab atas konsekuensi perbuatannya dan tidak dapat digeneralisir atau mengkambinghitamkan ras individu tersebut. Tiap orang datang dengan keberagaman sekaligus keunikannya sendiri yang seharusnya bisa jadi aset perusahaan dari segi kreatifitas dan luasnya pengalaman para karyawan tersebut.

2. Memahami perbedaan

Bagi seorang leader, tahu keberagaman yang ada dalam tim adalah hal penting. Unsur perbedaan yang ada dalam komunitas kecil bisa jadi rambu-rambu agar anggota terhindar dari masalah yang membuat suasana organisasi tidak lagi kondusif. Maka dari itu, seorang pimpinan perlu punya rasa peduli dan inisiatif tinggi untuk bersikap bijaksana di lingkungan kerja yang tinggi keberagaman.

3. Pentingnya standar tertulis

Standar tertulis ini menunjukkan adanya keseriusan pimpinan organisasi terhadap apa saja yang hal-hal yang dilarang dan boleh dilakukan oleh anggota dalam bersosialisasi dan bekerja dalam organisasi untuk merawat keberagaman yang ada. Standar ini harus disusun se objektif mungkin dan equal (setara). Tanpa adanya standar tertulis, bisa memberikan kesempatan kepada anggota yang usil untuk melakukan hal yang semestinya tidak boleh dilakukan.

4. Membiasakan sikap sopan santun kepada anggota

Menanggapi keberagaman dalam organisasi, sikap sopan santun menjadi semakin penting untuk dibiasakan. Tidak hanya pimpinan pada bawahannya, anggota pun harus bisa bersikap sopan kepada pimpinan dalam setiap kesempatan. Melatih intonasi bicara agar tidak terdengar seperti sedang membentak adalah salah satu hal yang dapat dibiasakan. Memang beberapa budaya di Indonesia terkenal dengan gaya bicara seperti orang marah, padahal itu hanya intonasi biasa yang sudah menjadi karakter suatu kelompok atau suku, seperti suku Batak. Sementara di lingkungan masyarakat tertentu, suku Jawa misalnya, berbicara dengan nada tinggi sering diasosiasikan sebagai bentuk ekspresi kemarahan. Sekali lagi, ini merupakan ekspresi ragam budaya yang ada dan harus dimaklumi. Akan tetapi, seorang pemimpin wajib menengahi perbedaan tersebut dengan menerapkan etika dan sopan santun kepada para anggotanya.

5. Komunikasi yang jernih

Setelah punya standar objektif, tips selanjutnya bagi pihak manajemen untuk merawat keberagaman dalam organisasi adalah cara komunikasi yang jelas. Selain cara menyampaikan yang sopan dan bahasa yang juga santun, pastikan pilihan kata yang dipakai dalam surat atau saat meeting mudah dimengerti. Keberagaman budaya juga bisa jadi sumber salah paham jika ada ungkapan atau bahasa yang ternyata arti sebenarnya berbeda meski ejaannya sama (homonim). Penggunaan bahasa Indonesia yang umum dan kalimat yang tersusun rapi serta tidak berbelit-belit maksudnya akan jadi cara paling ampuh untuk menghindari adanya salah paham dalam organisasi.

6. Bersikap terbuka

Adanya keberagaman kultur di lingkungan kerja membuat setiap orang datang dengan pola pikir dan cara pandang yang berbeda pula. Sisi positifnya, tentu organisasi akan jauh lebih “hidup” karena selalu ada ide baru dan segar yang masih bisa diolah untuk inovasi baru di lingkungan kerja. Hal ini tidak akan terjadi begitu saja, butuh karakter yang mau menerima pendapat dari orang lain untuk bisa menciptakan lingkungan kerja yang maju dan suportif. Lagi-lagi setiap lapisan manajemen harus bisa mengaplikasikan karakter ini agar keberagaman kultur dalam budaya organisasi bisa dikembangkan menjadi satu hal yang positif.

Memupuk Keberagaman Dalam Budaya Organisasi

Dalam merawat keragaman di Indonesia, mengutip pernyataan Ernest Renan (1882) dalam pidatonya di Sorbonne Université yang juga tercatat dalam bukunya Que’est-ce qu’une Nation? (What is Nation?) bahwa bangsa adalah satu jiwa (une nation est un âme). Artinya, bangsa Indonesia (dengan keragaman yang menyertainya) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai nasib dan penderitaan yang sama pada masa lampau dan mempunyai cita-cita yang sama tentang masa depan. Satu bangsa merupakan satu solidaritas yang besar (une nation est un grand solidarité). Solidaritas bangsa Indonesia terbentuk dari berbagai ragam masyarakat yang berbeda agama, kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat. Kesatuan ini yang mestinya dipupuk dan dikembangkan sehingga menguatkan solidaritas antar anak bangsa dalam berbagai hal, salah satunya dalam berorganisasi.

Untuk menyatukan ragam kelompok manusia yang berbeda-beda itu, kebutuhan dan kehendak untuk hidup bersama-sama (le désir d’ être ensemble) menjadi pengikat utama sebagaimana yang dinyatakan oleh Renan. Kesamaan ini menjadi landasan utama dalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Meski dengan anggota yang berbeda pakaian, bahasa, gaya, budaya, dan tradisi, organisasi harus mampu merawat dan mengakomodir semuanya dalam satu kesatuan nilai atau budaya organisasi sehingga terbentuklah sebuah organisasi yang inklusif, dinamis, dan harmonis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image