Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Bagus Darmawan

Baterai Sumber Energi Baru yang Menimbulkan Masalah Baru

Teknologi | Thursday, 25 May 2023, 16:00 WIB

Dari sekian banyak sumber energi, baterai adalah salah satu yang paling signifikan memainkan peran yang sangat besar untuk kebutuhan manusia. Ketika datang untuk mengoperasikan perangkat elektronik portabel atau dapat dibawa kemana-mana, baterai adalah salah satu sumber energi listrik yang paling dapat diandalkan. Mengingat kewajaran ini, objek dibuat yang dapat menyimpan sumber energi listrik untuk jangka waktu tertentu. Peningkatan teknologi baterai tidak mengambil banyak pertimbangan dari pembuat gadget, termasuk CE (Consumer Electronic).

Baterai primer dan sekunder merupakan dua dari sekian banyak jenis baterai yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memiliki sifat serupa untuk mengubah energi majemuk menjadi energi listrik. Baterai yang dapat diisi ulang, seperti baterai ponsel, berfungsi sebagai baterai sekunder. Baterai primer adalah baterai sekali pakai.. Baterai primer memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga baterai jenis ini banyak dilacak di toko-toko besar dan kecil.

Baterai primer terbuat dari tiga bagian penting, yaitu batang karbon sebagai anoda (poros positif baterai), seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai) dan lem sebagai elektrolit. Baterai memiliki sifat mengubah energi zat menjadi energi listrik. Komponen krusial penyusun baterai sebenarnya mengandung komponen kimia yang termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan berpotensi mencemari lingkungan. Baterai bekas adalah baterai yang tidak digunakan secara umum. Merkuri, timbal, nikel, litium, dan kadmium hanyalah beberapa bahan kimia yang ditemukan dalam baterai. Merkuri, timbal, nikel, lithium dan kadmium dalam banyak kasus terlacak dalam baterai opsional, sedangkan mangan sering terlacak dalam baterai esensial. Jika baterai dibuang sembarangan bahan sintetis yang terkandung di dalamnya akan menurunkan kualitas air tanah terlebih lagi, membahayakan kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang membuang baterai di sembarang tempat terlepas dari bahaya dari limbah baterai itu sendiri.

 

Presiden Jokowi saat meremikan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang(Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)

Pada 15 September 2021, Presiden Joko Widodo meresmikan peletakan batu pertama untuk pembangunan pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat. Pabrik baterai ini diklaim sebagai pabrik baterai pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Pengguna kendaraan listrik di Indonesia akan mencicipi baterai dari pabrik ini setelah produksi baterai dimulai pada 2023. Situasi ini tentu menjadi angin segar bagi industri kendaraan listrik di Indonesia.

Keterlibatan Presiden Joko Widodo tersebut jelas menggarisbawahi niat pemerintah dalam penerapan kendaraan listrik di Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik menjadi salah satu bukti keseriusan pemerintah dalam mendukung teknologi mutakhir ini. Langkah konkret ini mencakup dukungan kebijakan dan insentif produksi komponen kendaraan listrik termasuk baterai.

Salah satu bagian terpenting dari kendaraan listrik adalah baterai. Kehadiran tangki bahan bakar pada kendaraan berbahan bakar fosil bisa dibilang setara dengan pentingnya baterai pada kendaraan listrik. Tanpa baterai, kendaraan listrik pada dasarnya tidak dapat dioperasikan. Biaya komponen baterai, yang dapat mencapai 35-50% dari total biaya kendaraan listrik, semakin menunjukkan pengaruh yang signifikan ini.

Akibatnya, fokus pemerintah pada manufaktur baterai sangat logis. Padahal, baik dari segi teknologi maupun investasi, baterai sangat menggiurkan. Namun, ada sejumlah risiko terkait proses pembuatan baterai yang harus dipahami oleh semua pihak. Bahaya dari pembuatan baterai harus dipikirkan dengan hati-hati sebelum bencana melanda.

Cacat produk merupakan ancaman terbesar bagi produksi baterai. Masalah ini tidak unik untuk pembuatan baterai. Bagaimanapun, mengirimkan baterai membawa pertaruhan yang lebih serius daripada membuat suku cadang lain. Baterai lithium-ion biasanya mengandung cairan elektrolit. Karena kebocoran akibat kesalahan produksi, elektrolit ini mudah terbakar bila terkena suhu tinggi.

Produk baterai yang rusak dapat berakibat fatal. Jika tidak ada standar kualitas yang jelas saat membuat baterai, baterai bisa cepat terbakar saat digunakan. Baterai pada peralatan listrik lainnya serta baterai pada kendaraan listrik membawa risiko ini. Namun, bahaya yang ditimbulkan oleh baterai kendaraan listrik diperparah dengan tingginya kemungkinan terjadinya kecelakaan seperti tabrakan.

Kualitas produk dapat dijaga dengan ketat untuk mengurangi cacat produk baterai. Padahal, pembuatan baterai yang menyoroti kendaraan listrik baru akan dimulai di Indonesia. Jelas bahwa baterai ini tidak dapat diuji keamanan dan kualitasnya selama produksi. Keraguan tentang kualitas produk sering terjadi selama fase awal produksi baterai. Pembuat kebijakan harus memainkan peran evaluasi dan pengawasan dalam produksi baterai untuk mengurangi kemungkinan cacat produk.

Di Indonesia, ketakutan akan produksi baterai bekas bahkan menjadi kenyataan. Kota Buli di Kecamatan Maba, Halmahera Timur, menjadi korban penambangan nikel yang tidak teratur. Sedimentasi limbah tambang nikel di kawasan tersebut tidak tertangani dengan baik. Dengan demikian, sistem biologis di sekitar lokasi penambangan dimusnahkan. Tidak ada gunanya menangkap makarel atau biota laut lainnya. Situasi tersebut jelas berdampak negatif bagi warga Desa Buli.

Kita menyadari bahwa Indonesia pasti menjadi negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, kurang lebih mencapai 21 juta ton. Namun, angka ini tidak bisa menutupi fakta bahwa hanya sedikit proses penambangan nikel di Indonesia yang benar-benar menunjukkan masalah yang menyakitkan. Kerusakan lingkungan akan mempengaruhi kesejahteraan, terutama bagi penduduk di daerah sekitar pertambangan. Jika tidak diatasi, isu ini berpotensi berkembang menjadi bom waktu yang pada saatnya nanti bisa mengakibatkan kematian.

Selain itu, pengelolaan limbah yang ketat diperlukan selama proses pembuatan baterai dari hulu ke hilir. Proses penambangan menghasilkan bijih nikel yang digunakan sebagai bahan baku baterai. Eksekusi penambangan nikel seringkali mengabaikan efek ekologis. Tampaknya proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk dokumen izin pertambangan murni bersifat administratif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image