Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Audhiansa Prameswari Nur Zakya

Pentingnya Menghindari Perilaku Self-Diagnose untuk Kesehatan Mental

Edukasi | Wednesday, 24 May 2023, 14:06 WIB

Di era Industri 4.0 ini, teknologi terus berkembang pesat untuk membantu kehidupan manusia. Salah satu teknologi yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah mesin pencarian atau browser yang dapat mengakses jutaan informasi dari berbagai sumber. Hal ini memungkinkan para pengguna internet atau netizen untuk mencari berbagai hal dengan internet, termasuk informasi mengenai kesehatan fisik maupun psikologis. Sayangnya, kemudahan akan akses internet dan browser ini dapat memunculkan perilaku self-diagnose.

Self-diagnose, atau mendiagnosis diri sendiri, adalah proses saat seseorang mencoba untuk mengidentifikasi atau memahami kondisi medis yang dialaminya berdasarkan informasi yang ditemukan secara mandiri, melalui internet, buku, atau sumber lainnya. Meskipun self-diagnose dapat memberikan dorongan untuk lebih sadar akan kesehatan diri, perlu diingat oleh pembaca bahwa ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait dengan perilaku ini.

Pertama, self-diagnose memiliki risiko kesalahan yang tinggi. Informasi medis yang tersedia di internet seringkali tidak dapat dipastikan keakuratannya. Gejala yang dialami seseorang dapat bervariasi dan menyerupai berbagai kondisi, sehingga sulit bagi individu yang tidak berpengalaman dalam bidang medis untuk secara akurat mendiagnosis diri sendiri. Self-diagnose juga dapat mengarah pada pengabaian atau penundaan mencari bantuan medis profesional yang sesuai. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin mengabaikan gejala yang serius atau mengambil tindakan yang tidak tepat untuk mengobati kondisi yang diduga mereka alami. Hal ini dapat mengarah pada kesimpulan yang salah dan mengarahkan perhatian pada kondisi yang tidak relevan atau bahkan memperburuk kondisi yang sebenarnya.

Selain itu, menurut penelitian Maskanah (2022), self-diagnose memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan mental. Setelah melakukan self-diagnose, seseorang biasanya akan merasa sangat cemas dan takut apabila hasil yang ditunjukkan menjadi kenyataan. Dampaknya, pelaku self-diagnose akan mengalami kecemasan berlebih, takut terhadap hal yang belum tentu terjadi, tertekan dan mengalami stres. Kondisi ini tentu saja dapat mengganggu kehidupan sehari-hari kita, belum lagi akan adanya kemungkinan timbul masalah psikologis lainnya yang dapat berakibat fatal pada kesehatan mental.

Referensi:

Aaiz Ahmed, & Stephen S. (2017). Self-Diagnosis in Psychology Students. International Journal of Indian Psychology, 4(2). https://doi.org/10.25215/0402.035

Maskanah, I. (2022). Fenomena Self-Diagnosis di Era Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental The Phenomenon of Self-Diagnosis in the Era of the COVID-19 Pandemic and Its Impact on Mental Health. JoPS: Journal of Psychological Students, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.15575/jops.v1i1.17467

Masyah, B. (2020). Pandemi COVID-19 terhadap kesehatan mental dan psikososial. Mahakam Nursing Journal, 2(8), 353-362. http://dx.doi.org/10.35963/mnj.v2i 7.180

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image