Menggurat Cinta Pendis Natsir
Pendidikan dan Literasi | 2023-05-17 19:36:47
Jalan Lengkong Besar Nomor 16. Sekolah itu diberi nama Pendidikan Islam (Pendis), atas dukungan mentornya, A Hassan, pada 1932 Ia memimpin sekolah kecil tersebut. Pendis merupakan bentuk pendidikan modern yang mengkombinasikan kurikulum pendidikan umum dengan pendidikan pesantren, sebuah proyek idealis sekaligus otopis pada zaman itu. Pada masa itu, model sekolah yang dikenal masyarakat hanya ada dua; sekolah umum dan sekolah agama (pesantren). Belum ada sekolah modern ala Natsir, kecuali Persis.
Dalam waktu 10 tahun, Pendis berkembang pesat, dan memiliki sekolah dari jenjang TK hingga Sekolah Dasar. Yang kelak menjadi cikal bakal dari pendirian Pesantren Persatuan Islam pada tahun 1936 yang didirikan oleh Ahmad Hassan di Bandung tepatnya di Pajagalan. Sebagai sekolah partikelir yang tak mendapat subsidi pemerintah Hindia Belanda, uang iuran bulanan menjadi satu-satunya tumpuan penghidupan sekolah tersebut.
Dalam terbitan majalah Tarbawi Edisi Khusus yang bertemakan Keajaiban Surat Cinta, melalui surat yang lain, Ida baru mengetahui riwayat "keakraban" gelang emas ibunya dengan pegadaian. Dalam surat yang ditulis pada 15 September 1958, Natsir bercerita tentang ke- sulitan keuangan yang kerap menghampiri sekolah Pendis yang didirikannya, "....Pendis seringkali menghadapi kesulitan-kesulitan yang pahit. Ummie ada mempunyai satu gelang mas (bukan pembelian Aba, sudah dipunyai Ummie sebelum Ummie berjuang bersama-sama dalam Pendis. Aba, sampai saat itu belum pernah dapat membelikan sepotong barang perhiasan untuk Ummie). Maka gelang mas Ummie yang satu itu mempunyai riwayat. Kalau Pendis sudah dalam kesulitan maka gelang mas Ummie berpindah tempat dari tangan Ummie ke lemari Pak Gade (istilah Natsir untuk pegadaian-Red.) Kalau keadaan agak senggang sedikit ditebus kembali. Tidak berapa lama, dia pindah pula ke penginapannya yang hampir permanen di Pak Gade.
Sudah berapa kalinya Ummie membuka gelang itu dari tangannya tak ingat Aba lagi. Yang Aba masih ingat benar ialah, bahwa tidak pernah air muka Ummie berobah atau mendung diwaktu-waktu Ummie terpaksa melurutkan perhiasan itu dari tangannya untuk dikirim ke tempat penyimpanannya yang terkenal itu. Tidak pernah! Begitulah Ummie! Semuanya untuk cita-cita, hendak berbakti kepada Allah dan berkhidmat kepada Islam."
Natsir dan Nur Nahar bertemu dalam bingkai tekad yang sama: menyebarkan pendidikan buat rakyat jelata, meski risikonya harus siap miskin. Dalam surat yang ditulis pada 9 Agastus 1858, Natsir berkisah soal kesamaan tekad mereka."....Pada pertengahan tahun 1931 Aba masuk kursus guru itu. Tamat pertengahan tahun 1932. Selama Aba dalam kursus guru itu, dapatlah Aba menyusun rumusan atau rencana Pendidikan Islam mulai dari sekolah rendah S.M.P. nya, dan sekolah gurunya. Sementara itu kursus sore Aba jadikan Pendidikan Islam bagian Mulo. Untuk ini cukup teman-teman yang dapat turut mengajar, antara lain Ir. Ibrahim (sekarang jadi direktur Pabrik Semen Gresik), Ir. Indra Cahya, Oom Fachruddin. Yang lebih sulit ialah untuk teman mengajar di bagian H.I.S. nya dan taman kanak-kanaknya. Disinilah Ummie datang menyumbangkan tenaganya (Natsir sudah mengenal Nur Nahar ketika ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond cabang Bandung. Ketika itu Nur Nahar menjadi anggota pengurus "Jibda" atau Yong Islamicten Bond bagian putri-Red.).
Ummie waktu itu sudah menjadi guru pada sekolah "Arjuna" yang bersubsidi pemerintah. Ummie sudah mendapat penghasilan tetap, kalau tidak salah Rp.70; sebulan, Sebenarnya Aba tidak berani meminta Ummie supaya turut mengajar pada Pendidikan Islam sebab sekolah ini adalah termasuk, apa yang dinamakan orang, "sekolah liar", yaitu sekolah partikulir yang tidak bersubsidi jadi tak tentu nasibnya. Diwaktu itu sekolah-sekolah partikulir banyak yang tumbuh seperti cendawan sesudah hujan, tapi lekas bubar satu demi satu, lantaran kekurangan uang dan kekurangan guru yang cakap. Maklumlah murid-murid yang masuk sekolah partikulir itu hampir semua dari rakyat yang tidak mampu. Uang sekolah kadang-kadang masuk, kadang-kadang tidak. Menjadi guru sekolah partikulir itu artinya tidak mempunyai penghasilan yang cukup dan tetap. Itulah makanya agak berat bagi Aba meminta Ummie jadi guru pada Pendidikan Islam.
Akan tetapi bagi Ummie pun, rupanya soal penghasilan itu tidak menjadi soal yang penting benar. Ummie melihat dalam pendirian Pendidikan Islam ini satu cita-cita. Ummie dengan rela menyumbangkan tenaganya kepada Pendidikan Islam dan melepaskan pekerjaan yang penghasilannya lebih terjamin itu. Ummie datang mengajar ditaman kanak- kanak sambil membawa dua orang murid yang pertama, yaitu Ros dan Irwan (keponakan Ummi -Red.)
....Anak-anakku yang ku-cintai, sebagaimana telah Aba ceritakan lebih dulu, yang mendorong Aba mendirikan sekolah itu, bukanlah sekedar untuk menambah banyaknya sekolah partikulir yang tumbuh seperti jamur diwaktu itu. Kalau sekedar untuk mencari nafkah, banyak jalan yang lain yang lebih baik dari pada membuka sekolah. Bukan!......
Rasa-rasanya tidaklah sia-sia korban yang telah kami, Ummie dan Aba beserta teman-teman seperjuangan lainnya berikan untuk Pendis dikota Bandung itu, dalam masa 10 tahun lebih. Agak banyak juga, anak-anakku, korban yang diberikan, walaupun tidak banyak orang luar yang mengetahuinya. Sudah Aba ceritakan bahwa yang menjadi murid Pendis, hampir semua dari keluarga yang tidak mampu. Tidak sanggup membayar uang sekolah yang besar-besar. Ada pula yang sudah diafkir oleh sekolah pemerintah lantaran malas atau bodoh, katanya. Dengan sendirinya uang sekolahnya, tidak banyak yang tetap masuk. Diantara mereka ada yang tak dapat membayar sama sekali, lantaran itu dibebaskan dari uang sekolah. Tidak sampai hati kami mengusir dari sekolah, lantaran tidak mampu membayar.
Dalam pada itu maka pendidikan harus dipelihara.. Kredit buku dari J.B. Walters (salah satu penerbit buku pada saat itu-Red) harus dibayar dengan tertib, walaupun oleh murid-murid tidak teratur pembayarannya. Kalau tidak J.B. Walters tidak bersedia lagi memberi kredit sete- rusnya. Kalau hari sudah mendekati bulan Ramadhan hati sudah kuatir. Murid-murid, kebanyakannya, tidak dapat membayar uang sekolahnya sebab perlu membeli pakaian lebaran. Tetapi para guru justru perlu benar menerima gaji yang cukup, sebab maklum bulan puasa dan hari akan lebaran.
Ditengah-tengah kesulitan yang semacam itulah berlangsung perkawinan Ummie dan Aba, dengan sangat ssederhana (pada tanggal 20 Oktober 1934 -Red). Kami tinggal disatu rumah kecil dekat surau di jalan Rana. Diadakan juga walimah sedikit tapi tamu makan di atas surau di depan rumah kecil itu.
Ummie tahu bahwa jalan hidup yang Aba tempuh, sama sekali tidak memberi jaminan hasil yang tetap. Tidak mempu nyai "toekomst", kata orang waktu itu, yakni hari depannya: wallahu a'lam! Akan tetapi Ummie rela dan berani naik perahu Aba yang oleng itu, sama-sama menempuh samudera hidup yang penuh resiko!
Begitu Ummie ini, anak-anakku! Sebagai teman hidup dan teman seperjuangan kami sama-sama menggulamkan gigi menghadapi bermacam kesulitan itu. Cita-cita harus dilaksanakan menjadi kenyataan.
Demikianlah, energi cinta dari sang istri, teman hidup dan teman seperjuangan Natsir, memperkuatnya menyongsong cita-cita. Ada kisah tersendiri tentang ke kuatan yang muncul dari kebersamaan mereka setelah menikah. Setelah menceritakan keakraban gelang emas Ummi dengan pegadaian, Natsir menulis, "Anak-anakku yang kucintai, dalam keadaan semacam itulah kamu lahir ke dunia. Dalam keadaan yang serba sempit, akan tetapi yang kami Ummie dan Aba hadapi dengan hati yang gembira. Kamu lahir tidak dalam rumah yang satu saja. Lies di Lengkong Besar 72, Maniangko (almarhum -Red.) Hanif di Gang Mursaid, Ida di rumah lain pula, begitu seterusnya, Has, Abi dan Auzie. Kami pindah dari gang ke gang, mencari sewa yang agak murah.
Aba masih ingat, diwaktu Ummie mengandung Ida, Aba diperkarakan orang yang punya gedong sekolah (Pendis-Red.), sebab sudah banyak menunggak sewaan. Sudah tentu Aba mengaku kalah memang hutang belum terbayar. Lalu vonis jatuh, harus keluar dalam tempo satu hari, andai kata tidak dibayar sebelum itu. Sudah tentu Aba tak sanggup melunaskan hutang itu (ratusan rupiah) dan harus segera pindah. Kalau tidak salah Tuan Ahmad Kemas, bapak dari Mahar (Pak Aneta) pernah diwaktu itu menemui kuasa rumah yang memungut sewa setiap bulan (namanya Aba tak usah sebut) dan minta pertimbangan kepada kuasa rumah itu, mengingat Ummie sedang akan melahirkan anak; dan sementara itu dicari juga rumah tempat sekolah Pendis (dengan sekitar 200 murid) dan tempat Ummie dan Aba juga sekalian.
Dijawab oleh tuan rumah itu kepada Tuan Ahmad Kemas; tidak bisa, mesti pindah pada waktunya, kalau tidak kami akan bongkar semua bangku-bangku sekolah, dan buka semua genteng gedong itu! Begitu jawabnya. Payah Aba menutup-nutup agar kata-kata yang semacam itu jangan sampai terdengar oleh Ummie, tapi kesudahannya sampai juga ke telinga Ummie yang sedang mengandung itu. Syukur pulalah Ummie bersikap teguh tidak berkeluh kesah, walaupun pahit rasanya.
Setelah batas waktu 2 hari semakin dekat juga, sedang sekolah dan kami belum juga dapat pindah rumah, satu hari datanglah seorang deur-waarder, yaitu orang yang akan melaksanakan pengusiran itu. Katanya, bila pada waktunya tidak juga meninggalkan persil ini, saya, "katanya" terpaksa membongkar sendiri bangku-bangku ini keluar dan mengangkat atap genteng ini. Saya hanya menjalankan tugas. Sebenarnya, bagi saya agak berat juga menjalankannya. Oleh karena itu baiklah saya atur mengerjakannya diwaktu hari Minggu, sedang anak-anak tidak bersekolah.
Lalu Aba jawab silakan tuan melakukan kewajiban itu. Jangan ditunggu hari Minggu diwaktu anak-anak tidak belajar. Datanglah dihari sekolah diwaktu murid-murid hadir. Diwaktu itu saya akan kumpulkan semua murid dimuka tuan dan saya terangkan, bahwa buat sementara kita terpaksa menutup sekolah menunggu dapat rumah lain. Sebab orang yang punya rumah tidak membolehkan kita lebih lama disini lantaran kita sudah banyak menunggak sewa rumah.
Lalu Aba teruskan, sebenarnya yang punya sekolah ini bukan saya sendiri. Saya bukan pemilik perusahaan. Ini adalah miliknya masyarakat termasuk murid-murid itu semua.
Kami ini hanya khadam dari masyarakat itu. Ini bukan suatu perusahaan untuk mencari nafkah atau untung. Ini adalah lapangan untuk berkhidmat kepada masyarakat itu. Kalau orang sampai hati menghancurkannya, baiklah itu dilakukan berhadapan dan setahu semua orang yang berkepentingan langsung dengan usaha ini, yaitu dihadapan semua murid-murid dan guru-gurunya. Baiklah tuan lakukan itu besok pagi diwaktu anak-anak murid dan guru sedang komplit semuanya. Barangkali dengan begitu tak pula perlu mengeluarkan bangku-bangku dan perabot lainnya. Semua murid itu nanti saya anjurkan bergotong royong mengeluarkannya!
Terdiam deur-waarder itu mendengar sambutan dari Aba itu. Dia pergi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak dia berbicara apa-apa. Rupanya tidak sampai hati dia bertindak sampai kesana. Entah bagaimana, dia tidak kembali kembali lagi.
Dalam lembar demi lembar surat, memang kentara betapa Natsir ingin menyampaikan pentingnya ketabahan dan kegigihan pada anak-anaknya dan pada kita semua. Pola pengajaran semacam ini malah sudah ditanamkan seja mereka kanak-kanak.
Surat-surat pribadinya lebih dari sekadar kata hati dan ungkapan cinta. Surat-surat itu adalah penyambung jalinan cinta yang mengalirkan energi bagi perjuangannya. Apa yang ia ajarkan tentang mengisi hidup dengan pendirian dan perjuangan, benar-benar ia jalankan. Maka, seperti yang ia inginkan, agar hayat kita mempunyai arti, telah benar-benar sampai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
