Apa Itu Stunting dan Bagaimana Cara Mencegahnya
Eduaksi | 2023-05-12 14:29:24
Indonesia mempunyai masalah gizi yang cukup mengkhawatirkan yang ditandai dengan banyaknya kasus kekurangan gizi pada balita. Beberapa tahun terakhir ini telah banyak penelitian mengenai dampak dari kekurangan gizi, misalnya meningkatnya risiko terhadap penyakit infeksi yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan mental.
Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, ini terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran), sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah (kerdil) dari standar usianya. Menurut World Health Organization (WHO), stunting dapat ditentukan dengan menghitung skor Z-indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Apabila seorang anak memiliki tinggi badan di bawah -2 standar deviasi median pertumbuhan anak, maka ia dikatakan mengalami stunting. Stunting pada anak dapat mempengaruhinya dari kecil hingga dewasa. Dalam jangka pendek, stunting dapat menyebabkan terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik. Sekilas, proporsi tubuh anak stunting mungkin terlihat normal. Namun, kenyataannya ia lebih pendek dari anak-anak seusianya.
Masalah stunting di Indonesia merupakan ancaman serius yang memerlukan penanganan yang tepat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 27,7% yang artinya, sekitar satu dari empat anak balita di Indonesia mengalami stunting. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu sebesar 20%.
Berdasarkan data WHO pada tahun 2011, Indonesia menduduki peringkat ke lima dari 81 negara dengan jumlah kasus stunting tertinggi di dunia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Myanmar dengan prevalensi stunting sebesar 35%, lalu menyusul Vietnam dengan tingkat prevalensi sebesar 23%, dan Thailand dengan prevalensi stunting sebesar 16%.
Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan cara:
1. Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet zat besi). Namun, kepatuhan ibu hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya 33%. Padahal sebaiknya selama kehamilan mereka harus mengonsumsi minimal 90 tablet.
2. ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya.
3. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
4. Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan
Masalah gizi di Indonesia cukup mengkhawatirkan, ditandai dengan banyaknya kasus kekurangan gizi pada balita. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada beberapa negara di Indonesia. Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan zat gizi ibu hamil, memantau pertumbuhan balita, menjaga kebersihan lingkungan, dan lain sebagainya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
