Masalah Pendidikan dalam Minimnya Sarana dan prasarana di Sekolah
Sekolah | 2023-04-11 07:50:58
Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia yang terjadi dari dulu sampai sekarang adalah masalah sarana dan prasarana. Minimnya sarana dan prasarana ini membuat pembelajaran di sekolah berjalan kurang optimal dan tidak mengarah pada tujuan yang diinginkan. Untuk itu perlu adanya tindak lanjut dari pemerintah, sekolah, lembaga pendidikan, maupun orangtua peserta didik. Menurut saya kondisi pendidikan di Indonesia saat ini memang masih belum merata, terutama pada daerah-daerah seperti didesa-desa yang terpencil, terpelosok maupun daerah yang identik dengan perekonomian yang rendah dalam segi jumlah dan kualitasnya. Fasilitas yang tidak memadai dan tidak layak dipakai yang sudah rusak,, seperti gedung ruang kelas yang bocor, kursi, meja, dan rak-rak yang rusak. Dalam hal ini fasilitas kegiatan belajar dapat mengganggu proses belajar siswa dan tidak nyaman saat pembelajaran berlangsung.
Sarana adalah sesuatu yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh seperti buku bahan ajar, media dan alat untuk mengajar seperti komputer dan sebagainya. Sedangkan Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses seperti bangunan sekolah, kantin, lapangan olahraga dan lain-lain. Sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam dunia pendidikan selain tenaga pendidik. Pendidikan tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana tidak akan dapat terpenuhi tanpa adanya manajemen yang dijalankan dalam lembaga pendidikan yang terkait dan dengan adanya manajemen sarana dan prasarana pendidikan yang dapat memudahkan para peserta didiknya dalam proses pembelajaran disekolah . Maka dari itu, sarana dan prasarana harus diperhatikan dalam Pendidikan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi masalah Pendidikan ini adalah kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Proses pengawasan dan pengendalian Pendidikan oleh pemerintah pusat mungkin tidak sempurna atau tidak menjangkau ke daerah-daerah pedalaman. Sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai akan menyebabkan masalah kurangnya Pendidikan. Masalah ini akan mempengaruhi kinerja siswa akibatnya, munculnya hambatan dalam proses pembelajaran dan Pendidikan, dan siswa itu tidak merasa nyaman. Terlepas dari permasalahan di atas, belum optimalnya pelaksanaan Pendidikan menjadi permasalahan utama yang perlu diselesaikan. Jika pemerintah daerah mau koordinasi dengan pemerintah pusat, keterhambatan sarana dan prasarana di daerah terpencil akan ter atasi.
Minimnya Fasilitas sarana dan prasarana sekolah itu tidak hanya terjadi di daerah terpencil saja, namun juga didaerah yang berdekatan dengan kota besar. Oleh karena itu, kondisi ini memerlukan perhatian lebih dari pemerintah. Sarana dan prasarana yang baik memang memberikan kontribusi terhadap keberhasilan mutu atau sebuah akan kualitasnya Pendidikan. Karena semakin lengkap dan optimal pelaksanaannya, sarana dan prasanana suatu sekolah tentunya semakin mempermudah siswa dan guru untuk mencapai target atau keinginannya secara bersama-sama. Namun harus dingat bahwa sarana dan prasarana yang baik harus dibarengi dengan sumber daya manusia yang baik, karena sarana dan prasana yang lengkap tidak akan bermanfaat apabila guru tidak siap atau tidak mampu mengoperasikan secara optimal. Adanya sarana dan prasarana yang baik menunjukan sebuah kemitraan yang serasi antara sekolah dan orang tua karena tanpa dukungan orang tua sarana dan prasarana tidak akan berjalan bahkan tidak terpenuhi dengan baik.
REFERENSI
Rahmah, A. Z. (2023). Pengaruh kurangnya sarana dan prasarana sekolah terhadap perkembangan anak. 2(1), 43–51.
Rahmiga, S. (2019). Kurangnya Sarana Dan Prasarana Belajar Di Sekolah. Teknologi Pendidikan, 4(2), 1–8.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
