Memaknai Perang Salib, Perang yang Katanya Perang Suci

Image
Fergi Nadira Bachruddin
Sejarah | Tuesday, 21 Dec 2021, 16:36 WIB
Anak-anak ikut serta Perang Salib Pertama // photo: History.com

Perang Salib seringkali dipandang sebagai perang suci untuk membela agama. Tapi fakta sejarah berkata lain, ada berbagai macam hal di Perang Salib yang membuat orang justru jadi bertanya-tanya, apa benar ini perang suci untuk membela agama? Atau sekedar perang yang membawa-bawa nama agama, padahal ujung-ujungnya untuk kepentingan duniawi aja ya?

Berbagai sumber sejarah meyakini bahwa penyebab Perang Salib adalah demi kepentingan agama, politik, ekonomi, dan sosial. Namun faktor agama dipandang sebagai motif utama yang menyulut adanya Perang Salib sekitar abad ke-11 yang lalu itu.

Faktor agama yang mengatasnamakan Tuhan yang menjadi kedok untuk menutupi faktor lain termasuk kekuatan ego penguasa dan kelompok. Oleh karena sejarah berulang, jadi sepertinya butuh penarikan makna dan mengambil pembelajaran dari apa yang dulu pernah terjadi, bukan.

Sejarah Perang Salib

Umat Muslim dan Kristen terlibat dalam peperangan panjang selama hampir dua abad yakni antara 1095-1291 Masehi yang berlangsung sangat masif, destruktif, dan menimbulkan banyak korban jiwa. Dalam sejarahnya dikutip laman History, umat Kristen Eropa, melalui perang ini, tidak hanya ingin mengamankan dan mempertahankan Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur), namun merebut kembali Yerusalem yang diklaim sebagai Tanah Suci dari umat Muslim.

Awal mula Perang Salib merupakan kampanye militer yang didukung, diarahkan, dan diprakarsai oleh Gereja Katolik Roma. Para bala tentaranya meyakini bahwa dengan turut terlibat dalam pertempuran, maka mereka bakal menerima penghargaan spiritual. Terjun menjadi bala tentara Perang Salib merupakan tindakan pengorbanan dan kesalehan untuk Cinta Kristus.

Oleh karenanya mereka menganggap peperangan yang dilakukan itu adalah perang suci. Perang Salib merupakan perang yang panjang. Secara keseluruhan, delapan ekspedisi Perang Salib Besar terjadi antara 1096 dan 1291.

Konflik berdarah, kekerasan, dan sering banyaknya timbul kekejaman mendorong status Kristen Eropa menjadi pemain utama dalam perjuangan untuk tanah di Timur Dekat. Timur Dekat adalah istilah yang sering digunakan arkeolog dan sejarawan untuk merujuk kepada kawasan Levant atau Syam (sekarang Palestina, Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, Tepi Barat dan Yordania), Anatolia (sekarang Turki), Mesopotamia (Irak dan Suriah timur), dan Plato Iran (Iran).

Photo: history.com

Penyebab Perang Salib

Faktor Agama

Agama jadi penyulut berkobarnya Perang Salib, karena orang Kristen Eropa merasa kehilangan kebebasan dan keamanan, untuk beribadah di tanah suci Yerusalem.

Dari situ, Paus Urbanus II menyerukan semangat untuk melancarkan perang melawan kaum Muslimin. Padahal, Dinasti Seljuk hanya menerapkan kebijakan baru agar tidak tercipta ancaman ketika umat Kristiani beribadah di Yerusalem. Kebijakan yang ditanggapi berlawanan inilah yang mendorong sebagian besar masyarakat Kristen untuk berpartisipasi dalam Perang Salib dengan tujuan utama merebut Tanah Suci Baitul Maqdis (Yerusalem).

Para tentara Kristiani juga meletakan simbol salib pada senjata maupun pada barang bawaan mereka ketika gelora berperang mengemuka. Mulai dari rakyat biasa, petani, bangsawan, raja bahkan anak kecil bergabung dalam perang salib, karena mereka percaya dengan ikut perang salib, mereka akan dapat keselamatan, pengampunan dari seluruh dosa dan hadiah di akhirat

Makanya mereka berbondong-bondong dateng ke Jerusalem dengan cita-cita murni bahwa orang Kristen dan situs Kristen harus dilindungi dari orang kafir yakni Umat Muslim.

Faktor Politik

Pencetus perang bersumber dari Paus Urbanus II, Kekaisaran Bizantium, dan peperangan di wilayah Spanyol Islam (Andalusia). Kaisar Bizantium ingin mendapatkan kembali wilayah yang hilang dan mengalahkan negara saingan yang mengancam.

Kemudian kuatnya peran Paus untuk memperkuat kepausan di Italia dan mencapai kekuasaan sebagai kepala gereja Kristen. Ide Perang Salib pun muncul sehingga membuat gereja tak tertahankan menginginkan segera memperluas wilayah pengaruhnya.

Jenderal Alexius Commenus dari Kekaisaran Bizantium juga menggunakan antusiasme rakyat Eropa untuk merebut kembali wilayah Bizantium. Sebab wilayah-wilayah penting berada di bawah kendali umat Muslim sejak kekalahan Bizantium atas Seljuk Turki. Alexis Commaenus dan Paus Urbanus II kemudian bekereja sama mengobarkan semangat genderang Perang Salib untuk mencapai tujuan politik ini.

Faktor Sosial

Rakyat Eropa pada masa itu sempat dilanda masalah sosial oleh karena adanya sistem kasta yang menimbulkan kesenjangan yang melebar. Kasta ahli agama menempati posisi tinggi diikuti panglima ksatria perang, dan cendekiawan.

Sedangkan kasta petani, dan budak adalah golongan rendah yang tak jarang dizalimi dan bekerja keras untuk dua kasta di atasnya.

Dengan demikian, kasta rendah itu meyakini seruan Paus untuk ikut berperang. Para budak, petani yang menjadi milik tuan mereka, bergabung dengan Perang Salib karena Paus menjanjikan mereka kebebasan jika mereka pergi.

Paus juga menjanjikan jika mereka kalah dan mati, mereka akan terbebas dari penderitaan dunia yang dialami dan mendapatkan keberkahan Tuhan dan Paus. Dan jika mereka selamat dan hidup, mereka akan mendapatkan keberkahan kehidupan baru yang leibh baik.

Faktor Ekonomi

Salah satu faktor yang mendorong Perang Salib adalah ekonomi yang di mana para pedagang mengincar kekayaan negara-negara Timur. Paus Urbanus dalam khutbahnya juga mengungkapkan pentingnya faktor ekonomi bagi bangsa Eropa.

Para pedagang kemudian memonopoli pusat perdagangan penting yang saat ini berada di bawah kendali Muslim dan mendapatkan uang dengan mengirimkan tentara salib ke Timur Tengah.

Partisipan Perang Salib

Paus meminta orang-orang Kristen Barat untuk berperang sebagai bentuk bantuan ke Bizantium dan merebut kembali Tanah Suci dari kendali Muslim. Permohonan Paus Urban ini disambut dengan tanggapan yang luar biasa, baik di kalangan elit militer maupun warga biasa. Mereka yang bergabung membawa senjata, dan mengenakan tanda-tanda salib pada bahu, lencana ataupun panji-panji mereka sebagai simbol Gereja.

Diperkirakan 90 ribu pria, wanita, dan anak-anak dari semua kelas dibujuk oleh para pemimpin politik dan agama untuk berpartisipasi dalam Perang Salib Pertama (1095-1102 M). Perang Salib kemudian mengatur panggung untuk beberapa perintah militer ksatria agama, termasuk Ksatria Templar, Ksatria Teutonik, dan Hospitallers. Kelompok-kelompok ini membela Tanah Suci dan melindungi para peziarah yang bepergian ke dan dari wilayah tersebut.

Dalam sebuah gerakan populer yang dikenal sebagai Perang Salib Anak (1212), sekelompok orang yang beraneka ragam termasuk anak-anak, remaja, wanita, orang tua, dan orang miskin berbaris sepanjang jalan dari Rhineland ke Italia. Seorang pemuda bernama Nicholas mengatakan bahwa dia telah menerima hadiah ilahi berupa instruksi untuk berbaris menuju Tanah Suci.

.

.

Jadi, ya pada intinya, kita, terutama saya jadi bisa belajar dari kejadian Perang Salib ini. Dan kita harus lebih kritis lagi meliat segala sesuatu.

Hal-hal yang dikemas dengan agama, itu murni untuk agama dan spiritualitas aja? atau sebenernya cuman untuk kepentingan-kepentingan dunia saja ya.

Bukan untuk menyudutkan kelompok, ras atau kepercayaan tertentu, tulisan ini murni sebagai hasil kulikan saya terhadap Perang Salib. Jika ada informasi tambahan atau informasi yang kurang akurat, hemmm boleh DM IG @ferginadirabach atau email ferginadirab@gmail.com, yaaaa.

I love you.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

be here now

Doa Bapak Ibu

Lebih Dekat dari Urat Leher

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

INAIS Bogor Melakukan Pembaharuan Inovasi Pupuk PSB menjadi Pupuk MiTel di Desa Cibitung Wetan

Image

Ajak Semua Pimpinan Universitas Mantabkan Raputasi Lewat RAKERPIM UMS Tahun 2022

Image

KLHK Jerat Direktur Tambang Ilegal di Sultra, Penjara 15 tahun, Denda Rp. 10 Miliar

Image

Longgarkan Budaya Gaul Bebas, Problematis !

Image

Sandiaga Uno Hadiri Peluncuran hibah Matching Fund Kedaireka UI-Kemenparekraf di Gunung Padang

Image

Snaptik - TikTok Downloader

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image