Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image isdiyo

Ibu Muda Menanti Mati (tidak Jadi Mati karena Puasa)

Lentera | Monday, 27 Mar 2023, 17:22 WIB
Seorang ibu muda menunggu kematiannya setelah divonis oleh sang dokter

Ruang praktik dokter berderet antrian pasien salah satunya seorang ibu muda yang agak berisi badannya dan usianyapun kira-kira masih dibawah 40 tahun beberapa saat tibalah nomor antrian dipanggil oleh asisten dokter dengan suara nyaring antrian 13 (tiga belas).

Tanpa ragu ibu muda yang duduk dalam kursi antrian bangkit dari duduknya menuju ruang dokter dengan mengetuk pintu ruangan dan akhirnyapun masuk.

Setelah dipersilahkan masuk oleh dokter ibu muda langung duduk dihadapan dokter, sudah menjadi kebiasaan sang dokter langsung bertanya kepada pasien dihadapannya, apa keluhan yang ibu rasakan. Dengan tenang dan raut muka sedih ibu muda tersebut menceritakan perihal penyakitnya yang sudah bertahun-tahun tidak kunjung sembuh. Bahkan berobat ke semua tenaga medis dengan diberi beraneka ragam obatpun sudah dicoba tetapi penyakit yang diderita dalam tubuh ibu muda tersebut tak kunjung membaik apalagi sembuh.

 

Sampai Isak tangis keluar dari bibir ibu muda tersebut mengeluh sudah bosan saya berobat kesana kemari berganti-ganti dokter dengan iba mengharapkan dokter didepannya memberikan obat yang paling mujarab untuk kesembuhan penyakitnya.

Setelah mendengar ucapan-ucapan ibu muda tersebut dengan nada santai dan tenang dokter mempersilahkan pasien didepannya membaringkan badan di tempat pemeriksaan didampingi asistennya, periksakan medis oleh dokterpun dilakukan.

Berapa saat setelah rangkaian pemeriksaan dilakukan dokter tersebut mempersilahkan ibu muda duduk kembali kekursi didepan dokter dan dengan tutur kata yang lembut serta tenang sang dokter mengatakan, maaf ibu saya tidak dapat memberikan obat apapu kepada ibu karena penyakit ibu, dan mohon maaf sekali lagi jangan marah dan kesal kepada saya serta mohon terima ucapan saya karen ibu akan meninggal tidak lebih dari 30 hari lagi.

Mendengar ucapan sang dokter sontak tanpa pikir apapun ibu muda tersebut mengeluarkan Isak tangis tanpa rasa malu, menjadikan seisi ruangan antrian dokter menjadi terkejut dan bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam ruang dokter.

Setelah menumpahkan tangisannya ibu muda tersebut mohon pamit dan berterima kasih kepada sang dokter, asisten membantu membukakan pintu dan mengantar ibu muda sampai keluar.

Sesampainya di rumah ibu muda hanya menangis tidak mempedulikan keadaan tubuhnya jangankan makan dan minum keluarganyapun tak dihiraukan dalam hatinya menghitung hari yang tinggal tidak lebih dari 30 hari, ibu muda terus menghitung hari menuju kematian. Tanpa disadari sudah melebihi 30 hari dia melewatinya tetapi dia tidak mati, keesokan harinya dia tidak mati juga, dengan membawa emosi ibu muda tersebut langsung menuju ke tempat dokter yang memvonisnya akan mati tidak lebih dari 30 hari, tanpa antri langsung menyelonong ke ruang dokter dan duduk di depan dokter, dan berbicara dokter kenapa dokter memvonis saya akan mati tidak lebih dari 30 hari dari saya datang sebulan yang lalu buktinya sudah lebih dari 30 hari saya tidak mati, dengan santai tenang dan bijak sana sang dokter mempersilahkan ibuuda tersebut menuju ruang periksa, tanpa berkata dan ragu ibu mudapun menurut, setelah diperiksa dokter mengatakan selamat ibu penyakit ibu sudah sembuh, dengan merasa heran senang bercampur tidak percaya mana bisa dokter padahal saya tidak minum obat dan melakukan apa-apa. Dokter menjawab setelah ibu saya vonis akan mati tidak lebih 30 hari apa yang ibu lakukan dirumah, tanpa ragu ibu muda tersebut mengatakan saya tidak melakukan apapun keluargaun saya tidak urus bahkan makan dan minumpun saya tidak hanya menghitung hari menunggu kematian yang dokter ucapkan.

Dengan bijaksananya dokter langsung berkata itulah ibu, selama ibu memikirkan mati, ibu tidak makan dan minum disaat itulah ibu telah melakukan puasa selama memikirkan vonis saya, karena puasa itulah ibu dapat sembuh penyakitnya karena penyakit yang diderita ibu tidak ada obatnya kecuali puasa, apabila saya meminta ibu untuk berpuasa kemungkinan ibu tidak akan melakukan sehingga penyakit ibu terus akan bersarang, dengan memvonis kematian tanpa disadari ibu berpuasa. Dengan puasa itulah penyakit ibu sembuh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image