Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Nur

Nahdlatul Ulama (NU) dan Ruang Publik Perempuan

Lomba | 2023-02-10 21:20:53

Saat ini, tepat satu abad Nahdlatul Ulama (NU) telah berkiprah di Indonesia. NU memang terlahir dari para ulama terkemuka Indonesia yang identik dengan dunia pesantren, santri dan kitab kuningnya. Sejak lahirnya sampai dengan saat ini, NU telah banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan bangsa Indonesia, terutama sebagai bagian dari wadah pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala macam kemajemukan dan ciri khas Kenusantaraannya. Sebagai lembaga ormas Islam resmi dan telah dikenal masyarakat dunia, NU hadir untuk menyampaikan pesan Islam yang rahmatan li al-‘alamin, sebagai bagian dari tradisi keilmuan pesantren yang mengintregrasikan antara Keislaman dan Keindonesiaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Berbicara tentang kiprah NU pastinya kurang lengkap kalau tidak menyinggung tentang isu perempuan. NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia tentunya memiliki agenda khusus untuk menyiapkan kader-kader perempuannya untuk bisa berkiprah lebih luas di tengah masyarakat Indonesia, di antaranya dengan membentuk badan otonom perempuan seperti Muslimat NU (berdiri 29 Maret 1946) dan Fatayat NU (24 April 1950). Sayap lembaga perempuan milik NU ini fokus utamanya sama-sama untuk memajukan peradaban perempuan dan mengkaji serta mencari solusi berbagai macam problem yang dihadapi oleh kaum perempuan.

Muslimat dan Fatayat NU merupakan salah satu garda terdepan dalam hal mendorong transformasi hak-hak perempuan ke arah yang lebih maju dan elegan. Walaupun demikian, ternyata dari hasil riset yang ada, beberapa peneliti menyebutkan bahwa wacana perempuan terutama terkait dengan isu-isu kesetaraan gender di tubuh NU dan lembaga sayap perempuannya tidak diterima begitu saja oleh semua pihak, tetapi di dalamnya terdapat kontentasi dan dinamisasi dari para elit tokoh yang ada. Pergumulan isu kesetaraan gender tersebut pada akhirnya bisa teratasi dengan sinergitas yang dilakukan oleh NU, Muslimat dan Fatayat. Sehingga dari proses kontestasi dan dinamisasi yang terjadi itu, memunculkan figur-figur perempuan yang telah berjasa dalam membangun dan mengembangkan nilai-nilai kesetaraan bagi semua lapisan kehidupan masyarakat, tanpa harus membandingkan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Kiprah Para Figur Muslimat dan Fatayat NU di Masa Pra dan Pasca Kemerdekaan

Dalam beberapa artikel yang telah dikeluarkan oleh website resmi NU, disebutkan bahwa ada beberapa tokoh Muslimat dan Fatayat NU, yang kiprahnya memiliki peranan penting dalam memberikan sumbangsih terhadap kemajuan kaum perempuan. Sebut saja misalnya figur Nyai R. Djuaesih, salah satu perintis Muslimat NU yang merupakan perempuan pertama memberikan orasi secara resmi pada momen muktamar ke-13 tahun 1938 di Menes Banten. Pada saat itu Nyai Djuaesih menyinggung tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan menyerukan kepada para perempuan agar berani memperjuangkan hak-hak perempuan.

Selanjutnya ada nama Asmah Sjachrunie, yang karirnya bermula menjadi seorang pendidik di Sekolah Rakyat sampai dengan tahun 1954. Asmah pernah menjadi ketua umum Muslimat NU tiga kali berturut-turut, sehingga berkat ketenarannya bisa mengantarkannya menjadi seorang politisi yang duduk di parlemen pada masa orde lama. Berikutnya ada nama Mahmudah Mawardi yang menjadi ketua Muslimat NU pada kongres ke-19 tahun 1967. Sebelumnya Mahmudah tercatat menjadi guru di Madrasah Nahdlatul Muslimat hingga tahun 1953, berkat keaktifannya di Muslimat NU membuat pamornya semakin melejit hingga namanya terpilih menjadi anggota parlemen dan terlibat langsung dalam penyusunan RUU Perkawinan pada tahun 1954.

Sedangkan Fatayat NU sendiri memiliki kiprah penting dalam mencerahkan kalangan santri yang berasal dari masyarakat bawah. Program utamanya pada masa perintisannya adalah untuk memberantas buta huruf bagi perempuan NU, dengan cara membentuk lembaga pendidikan dari tingkat Taman Kanak-KanaK (TK) sampai dengan Sekolah Guru. Organisasi Pemudi Islam ini didirikan untuk menampung para kader muda wanita NU, yang awalnya diprakarsai oleh tiga serangkai, yaitu: Chuzaimah Mansur yang berasal dari Gresik, Aminah Mansur dari Sidoarjo dan Murthosiyah dari Surabaya. Pemudi-pemudi tangguh ini sebelumnya telah aktif dalam berbagai forum resmi yang adakan oleh NU.

Selain beberapa figur Muslimat dan Fatayat NU yang disebutakan di atas, sebenarnya masih banyak nama-nama figur lainnya yang memiliki sumbangsih dalam membangun kemajuan bangsa Indonesia, baik yang aktif pada masa orde lama, orde baru, reformasi ataupun saat ini. Semoga perjuangan, semangat dan kiprah para figur yang telah memprakarsai Muslimat dan Fatayat NU, bisa terus dilanjutkan oleh generasi muda Indonesia khususnya keluarga besar NU yang baru saja memasuki abad kedua. Selamat memasuki abad kedua untuk keluarga besar NU, semoga kiprahnya bisa tetap terus eksis dalam menyuarakan dan memperjuangan nilai-nilai Keislaman, Keindonesiaan dan Kemanuisaan di bumi pertiwi ini.

#lombanulisretizen, #lombavideorepublika, #satuabadnu, #akudannu

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image