Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohamad Su'ud

Mendidik Empati Anak

Agama | Wednesday, 25 Jan 2023, 08:34 WIB
Ilustrasi oleh Mohamad Su'ud (retizen.republika)

Seorang ibu dalam obrolan santai sambil guyon mengatakan, bahwa anaknya sering cuek dengan pekerjaan rumah. Kalau waktu libur ngumpet di kamar.

Ada lagi orang tua yang curhat bahwa anaknya kalau pulang dari pondok kerjanya hanya HP, tidur dan bermals-malasan.

Yang tidak kalah serunya, seorang ibu juga menyampaikan keluhannya. Anaknya kalau sudah di rumah yang dilakukan hanya fokus belajar, belajar. Tidak mau diganggu waktunya.

Inilah realitas sosial dalam keluarga. Saya sendiri menyaksikan secara langsung. Anak tidak tahu bagaimana sibuknya ibu di dapur. Betapa capeknya ibu menyiapkan makanan untuk makan keluarga.

Sementara di tempat lain ada anak-anak yang sebelum bangun shubuh sudah bangun membantu ibunya menyiapkan dagangannya. Ada anak sebelum berangkat sekolah mengantar ibunya belanja di pasar.

Ada anak memiliki prestasi pas-pasan namun empati kepada keluarga sangat besar. Ada anak yang berkebutuhan khusus, tapi peduli dengan pekerjaan rumah. Apa yang salah?

Menanamkan kepedulian pekerjaan rumah

Orangtua jangan tinggal diam. Cobalah melakukan planning atau list pekerjaan yang bisa dilakukan anak. Tidak masalah bersikap tegas sedikit. Mulai dengan hal yang kecil dan sederhana, semisal mencuci piring, membeli barang rumah tangga, memperbaiki kran, membeli air, dan seterusnya.

Tentu tidak mudah. Butuh kesabaran dari orangtua. (bahasa jawa: jangan gampang mutung). Lakukan dengan persuasif dan bahasa yang pas bagi mereka.

"Kan sudah ada pembantu". Justru di sini akar masalahnya. Anak tidak selamanya dalam kondisi enjoy. Mungkin saja anak akan menghadapi masa-masa yang sulit. Anak perlu belajar kemandirian, agar siap mengahdapi perubahan zaman. Jangan abaikan hal sederhana.

Tunjukkan sedekah harian

Dalam hal tertentu, orang tua perlu menunjukkan kebaikannya pada anak. Agar anak terobsesi melakukan hal yang sama.

Allah swt memotivasi setiap hamba-Nya untuk melakukan kebaikan dengan cara bersembunyi atau terang-terangan.

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيرٌ لَّكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS Al Baqarah : 271).

Aspek psikologis akan membekas kepada diri anak.

من سنّ سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة

“Barangsiapa yang membuat contoh yang baik maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang beramal dengannya sampai hari kiamat” (Dikeluarkan oleh Muslim 4/2060).

Hal ini bermanfaat agar anak selalu mengingat dan melanjutkan kebaikan orangtuanya kelak.

Nasrun Minallah

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image