Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image David Efendi

Sudah Miskin Tertimpah Gunungan Sampah: Do it Yourself

Politik | Thursday, 19 Jan 2023, 14:52 WIB

Tak benar "tuduhan" Yogyakarta sebagai daerah termiskin. Gelar tak sedap daerah miskin, ancaman tuna wisma, jogja berhenti nyaman, jogja asat, dsb sering menghantui daerah dua kerajaan islam di tlatah pulau jawa bagian tengah ini. Akan tetapi hantu-hantu itu gampang diusir dengan deheman dan sajen harian glenak glenik begini: wong jogja selalu gembira, panjang umurnya. Mitos miskin dan bahagia adalah keseharian yang ditertawakan. Seperti negeri teaternya Clifford Geertz.

Tahun 2001 masuk Jogja terkesan kota sederhana sekali. Mahasiswa UGM berjalan kaki ke sana kemari, naik bus kopata dan aspada muter kemana-mana, dari umbul harjo ke tempel muter lagi ganti jalur menuju ugm padar terban malioboro- PKU gedung Muhammadiyah dan seterusnya. Kota kecil yang sebentar saja bisa kita kelilingi. Tak ada keangkuhan pengendara motor dan mobil mewah yang karnafal klakson. Orang orang yang gampang hilang kesabaran dan suka melempar plastik tisu dari jendela mobil tak pernah ada. Perilaku "nyampah" kelas menengah sungguh besarlah dampaknya baik di jalanan, perumahan, dan lokasi wisata.

foto: dokumen pribadi/aksi kaum muda Yogyakarta untuk iklim

Populasi manusia yang tak pernah resah oleh sampah akibat konsumsinya makin meroket jumlahnya. Tak terkecuali civitas akademika di kampus kampus mentereng. Green campus adalah gelar(das sein), bukan kapasitas empirik (das sollen) sehingga ada gap antara idealitas dan realitas.

Tidak ada damai dan kebahagiaan dalam kondisi tragedi sampah. Prahara manusia dan juga prahara iklim jelas akan semakin memperparah keadaan lahir dan bathin. Mitos bahagia dan mitos sejahtera akan menjadi saksi bisu di tengah masyarakat yang kian kompleks resikonya. Kalau negara tak hadir urusan sampah? Kalau tak hadir cegah kemiskinan dan kesenjangan? so, Do It Yourself! Tapi berat kan?

Dari drama ke tragedi Sampah

Pak Maryono, Ketua Paguyuban Mardiko TPST Piyungan binaan MPM PP Muhammadiyah, menyebut ada 446 pemulung, pengepul ada 15, sapinya ada 110, kambingnya ada 200. Upaya menyediakan akses air bersih berupa padasan pernah dibangun MPM tapi negara kurang hadir di urusan ini hanya slogan pengelolaan sampah saja. Kenapa tak kunjung membaik padahal miliaran uang APBD dipakai? Bahkan pusat pun hanya memberi dana untuk perluasan area. Laporan beritanya pemerintah pusat menggelontorkan dana Rp 109 miliar bagi DIY untuk membangun Tempat Pembuangan Sampah Sementara di kawasan Piyungan dengan luasan 1,9 hektare. Pembangunan direncanakan tiga tahun mulai 2020 hingga 2022.

TPST Piyungan menampung sampah dari tiga wilayah di Yogyakarta: Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Setiap harinya, sekira 630 ton sampah ditumpahkan ke TPST yang memiliki luas 12,5 ha tersebut. Bauh methan menyengat dan sering terjadi ratusan ton menggunung jika TPA ini ditutup 3 hari saja.

Selama ini prakarsa publik memang ada. Banyak "anak muda sudah mulai bergerak untuk pilah sampah menuju jogja zero sampah an organik," perlu kita syukuri. Ada juga komunitas jogja garuk sampah, warga berdaya, kotaku, penggerak bank sampah dan masih banyak lagi.

Bahkan komunitas agama pun serius berperan seperti gerakan sedekah sampah Brajan. Inisiatornya, mas Ananto sudah keliling kemana-mana mendorong kampanye kurang sampah agar tak jadi bencana. Beliau membuat kesaksian:

Sependek pengetahuanku, belum ada pemda di yogyakarta atau di kabupaten/kota yang serius urus sampah, mereka tak punya alat kelola sampah yang ada hanya memindah sampah dengan teknologi inovasi yang rendah sekali. Anggaran menguap tampa legasi nyata perkara mengelola sampah. Desa panggung harjo di bantul saja setahuku yang punya alat pilah dan ubah plastik jadi batangan batangan siap pakai tuk material bangunan. Konon hanya butuh sedikit miliar saja kalau mau mulai. Sudah pasti, kalau hanya memilah manual bakal kuwalahan. Perlu inovasi berbekal dukungan kebijakan dan anggaran untuk cegah atasi sampah.

Tahun 2021 sempat saya melihat dari dekat gunung sampah di Piyungan Yogyakarta. Pemerintah hanya mengandalkan sapi dan puluhan pengais rizki yang mengurangi gunungan sampah yang mengalami kenaikan terus menerus. Pertanyaan kritis hari ini adalah bagaimana kontribusi banyaknya jumlah kampus hebat di DI Yogyajarta? Apa betul tak ada terobosan atau tak mampu urus sampah? Tentu saja sangat menggelisahkan jika ini tak pernah jadi perhatian. Isu global diperkuat tapi kehilangan pijakan di bumi. Sangat miris.

Kondisi darurat tapi dinormalisasi. Think globally act locally adalah kekuatan penting untuk atasi krisis sosio ekologis. Saya terfikir, kekuatan masyarakat sipil seperti Kader hijau Muhammaduyah bisa bikin poster satir TPST TPA Piyungan Memanggil rektor dan dosen se Dunia untuk cegah tragedi sampah. Sebagai sindiran agar dunia kampus serius mengurus sampah. Dukungan dana riset besar why not? Apalagi ada kewajiban tridarma perguruan tinggi.

Kita perlu sekarang ini solidaritas sosio ekologis untuk memitigasi dan menyelesaikan tuntas problem ekologi di DI Yogyakarta. Jangan sampai kutukan sumber daya manusia juga terjadi: hilangnya peran intelektual/cendekiawan pada krisis tata kelola sampah. Krisis ini juga bisa karena pentahelix atau apapun namanya yang disebut sebagai modal sosial tidak bekerja (death social capital) dan tercerabutnya dunia kampus (langitan) dengan dunia kenyataan(kebumian).

Tanpa pembangunan manusia yang berkelanjutan, denganya manungguling kawula akademisi maka akan ada banyak problem sosial terbengkelahi dan awet. Kutukan demi kutukan akan menjadi tragedi, drama pun kehilangan tawa jika kondisi di bumi mataram berhati nyaman kini adalah tak lagi nyaman. Di abad ekologi yang ditandai persoalan lingkungan yang semakin akut kondisi buruk itu seperti mimpi muram di siang bolong: sudah miskin tertimpah gunungan sampah.

Saya yang ada di kampus PTM sering menyampaikan juga bahwa inilah saatnya UAD UMY UNISA menunjukkan kepeloporan kelola sampah. Jika tidak, kutukan the tragedy of common sungguh akan mengenai siapa saja. Kritik internal kepada Muhammadiyah sangat penting karena Muhammadiyah komitmennya super kuat akan pelaksanaan risalah risalah peradaban ekologis: teologi, akhlak/etika, fikih air dan penanggulangan bencana. Jadi, inilah saat terbaik untuk bertindak sekarang.

Di organisasi Muhammadiyah, ambisi Berkemajuan di semua bidang bolehlah tapi gagal mengelola sampah adalah kekalahan telak sebagai manusia berperadaban unggul.

DI Yogyakarta adalah ibukota Muhammadiyah, citranya adalah citra Muhammadiyah maka Muhammadiyah setidaknya tidak menjadi bagian dari masalah dan terus bekerja mencari solusinya. Bisakah? kita bantu sampai bisa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image