Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fatimah Azzahra

Siapa yang Lebih Capek

Curhat | Thursday, 19 Jan 2023, 00:14 WIB

"Umi atau abi yang lebih capek?"

"Abi lebih capek karena abi harus kerja, anter jemput anak-anak juga. Umi kan di rumah aja."

Bagaimana tanggapan para umi? Pernyataan ini bisa kita tanggapi dengan berbagai cara. Bisa dengan emosi atau tenang.

Sibuk Siapa?

Jika emosi yang menjawab, tentu kita akan tergoda untuk menyebutkan satu persatu aktivitas kita untuk keluarga dari pagi hingga malam. Mulai dari bangun tidur, menyiapkan air hangat untuk mandi anak-anak, menyiapkan kopi untuk suami, memasak sarapan dan bekal anak ke sekolah juga suami ke kantor, dilanjut memandikan anak yang masih kecil, membersihkan rumah, menyuci baju, dan masih banyak lagi.

Rasanya satu halaman kertas ukuran A4 takkan cukup menuliskan aktivitas para umi seharian. Yang pasti para umi juga merasakan capeknya beraktivitas seharian. Tapi, lelahnya beraktivitas terbayar dengan memandang senyum di wajah anak-anak. Capeknya memasak tak terasa lagi kala makanan dihabiskan oleh anak-anak dan suami. Lelahnya mengajari anak-anak hilang saat mereka akhirnya mengerti dan bisa.

Begitu juga dengan para abi. Yang sedari pagi sudah stand by untuk mengantar anak ke sekolah lalu lekas bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Macetnya jalanan, tekanan pekerjaan, tuntutan kebutuhan keluarga, juga permasalahan lainnya ikut menambah beban pikiran.

Ganti Peran?

Tak perlulah kiranya hingga berganti peran dulu untuk tahu semua umi dan abi merasakan capek. Lelah saat menjalankan kewajiban yang Allah perintahkan. Tapi, bukankah lelah ini akan menghapuskan kesalahan kita jika dijalankan dengan rida? Maka, harusnya rasa syukur dan sabar itu hadir kala lelah dirasa. Sebab momen lelah, pusing, galau dalam menjalankan perintah Allah ini bisa menjadi momen menghapuskan kesalahan kita.

Allah swt. yang menciptakan kita tahu persis bagaimana potensi kita. Allah berikan kewajiban sesuai dengan kesanggupan. Maka, hadlonah (pengasuhan anak), Allah bebankan pada para umi. Sedangkan nafkah dibebankan pada para abi. Karena potensi menjaga, mendidik, mengurus rumah tangga sudah Allah titipkan pada para umi. Begitu pun sebaliknya dengan para abi. Allah sudah titipkan potensi untuk berkorban, berjuang untuk mencari nafkah.

Tidak Produktif

Menurut kacamata kapitalis, mungkin para umi yang hanya menjadi ibu rumah tangga masuk pada kategori tidak produktif. Bahkan, dicap menjadi beban suami. Sakit hati sekali. Karena yang dijadikan timbangan adalah materi.

Padahal, produktif tak hanya dinilai dari materi. Ada karya, rasa, juga tumbuh kembang anak dan pola pikir. Mungkin saat ini para umi yang berstatus ibu rumah tangga tidak menghasilkan uang. Tapi, tahukah kita? Dengan adanya umi di rumah, para abi bisa menghemat pengeluaran yang cukup besar.

Para abi tak lagi pusing harus membayar babysitter untuk mengurusi Bayi, membayar asisten rumah tangga untuk membersihkan, merapikan dan menata rumah, membayar guru privat yang mengontrol pemahaman akademis anak, atau membayar juru masak. Mungkin nanti, suatu saat ketika anak-anak sudah besar dan rida uminya mengejar passion karirnya, umi bisa ikut berkontribusi dalam mendulang materi.

Tapi, sampai saat itu tiba, bukankah lebih baik untuk bersyukur dan bersabar. Bersyukur karena materi yang Allah titipkan pada para abi itu ada untuk umi dan anak-anak juga. Ada peran do'a tiada henti dari umi dan anak-anak untuk abi. Ingatlah kita dengan firman Allah, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu," (TQS. Ibrahim: 7)

Kalaupun kesempatan itu tidak kunjung tiba, maka bersabarlah. Bersabar dalam kebaikan pada umi dan anak-anak juga yang lainnya. Kembalikan bahwa konsep rezeki tak melulu soal materi. Ketenangan rumah tangga, kesehatan yang Allah titipkan juga bentuk rezeki dari Allah untuk kita semua.

Khatimah

Jadi, tak perlu berdebat siapa yang lebih capek. Lebih baik saling menyemangati, memotivasi, agar tetap lillah walau lelah menyapa. Tak perlu pengakuan siapapun, cukupkan Allah sebagai saksi, pihak yang akan membalas semua capek, sakit, pengorbanan kita. Ingat kembali tujuan menikah bukan untuk menang kalah tapi ibadah. Semoga Allah anugerahkan rumah tangga yang sakinah mawadah juga Rohmah hingga ke Jannah. Aamiin.

Wallahua'lam bish shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image