Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Trimanto B. Ngaderi

Masjid-Masjid Megah Tapi Miskin Jamaah

Wisata | Saturday, 14 Jan 2023, 06:24 WIB

MASJID-MASJID MEGAH TAPI MISKIN JAMAAH

“Seorang Muslim masih bisa melaksanakan shalat, sekalipun tidak ada masjid” (Gus Baha)

Setelah mengucapkan salam, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saya sangat terkejut ketika mendapati bahwa shalat jamaah yang sedang saya ikuti ini hanya terdiri dari satu shaf (baris) saja, itupun tidak sampai penuh. Saya pun merasa heran, masjid sebesar dan semegah ini, jamaah hariannya amat-sangat sedikit.

Saya termasuk orang yang senang bepergian. Entah itu urusan pekerjaan atau urusan pribadi. Ternyata fenomena di atas lazim terjadi di banyak tempat. Rata-rata jamaah shalat harian antara 1-2 shaf saja. Padahal masjid itu berlokasi di daerah padat permukiman, bahkan di kota besar.

Sumber gambar: https://matamaduranews.com

Berlomba-lomba Membangun Masjid

Dalam beberapa tahun terakhir ini saya menyaksikan masjid-masjid baru bermunculan di mana-mana. Tidak hanya di kota-kota, bahkan hingga ke desa-desa. Termasuk kegiatan merenovasi maupun merekonstruksi masjid. Masjid yang tadinya kecil dan kurang bagus, dipugar total dan dibangun kembali menjadi masjid yang besar dan megah.

Fenomena baru yang saat ini lagi “tren” yaitu ketika suatu kabupaten/kotamadya tertentu membangun sebuah masjid yang besar dan megah yang berlokasi di jantung ibukota kabupaten/kota tersebut, biasanya di dekat alun-alun atau kantor bupati/walikota, kemudian daerah-daerah lain di sekitarnya melakukan hal yang sama.

Pembangunan sebuah masjid besar dan megah dianggap sebagai sebuah “kebanggaan” dari suatu daerah, termasuk merupakan wujud dari keberhasilan pembangunan daerah. Kini, masjid pun dianggap sebagai ikon suatu daerah yang membedakannya dengan daerah lainnya. Jika perlu, masjid dibangun dengan desain yang unik dan khas, syukur-syukur bisa melampaui atau mengungguli daerah lain.

Anehnya lagi, suatu daerah sebenarnya telah memiliki masjid agung yang cukup dikenal masyarakat luas. Sebab masjid tersebut merupakan bukti sejarah dari peninggalan kerajaan Islam di masa lalu dan sekaligus simbol syiar Islam. Akan tetapi, karena merasa belum puas dengan apa yang telah dimiliki, pemerintah daerah setempat membangun lagi masjid agung berikutnya yang tentu lebih besar dan lebih megah.

Demikian halnya di tempat-tempat lainnya, termasuk di desa-desa sekalipun. Kita sering menjumpai bangunan masjid yang lokasinya cukup berdekatan.

Menjadi Sebuah Atraksi Wisata

Dulu, masjid hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata. Orang-orang yang datang ke masjid pastilah seorang Muslim yang akan menjalankan ibadah shalat lima waktu atau ibadah-ibadah lainnya, seperti membaca Al Qur’an, berdoa, berdzikir, mendengarkan kajian, dll.

Akan tetapi, kondisi sekarang sudah berubah. Orang-orang yang berkunjung ke sebuah masjid tertentu belum tentu ingin melaksanakan suatu ibadah. Mereka pun belum tentu beragama Islam. Mereka mengunjungi sebuah masjid lebih kepada ketertarikan terhadap bangunan fisik masjid itu sendiri. Bisa jadi mereka tertarik akan nilai sejarahnya, keunikan bangunan, desainnya yang khas, lokasinya yang menarik, pemandangan alam di sekitar masjid yang indah, dan berbagai alasan lainnya.

Inilah yang saya sebut masjid sebagai sebuah atraksi wisata. Atau dengan kata lain, orang pergi ke masjid dengan tujuan untuk berwisata. Dengan demikian, masjid tak berbeda jauh dengan destinasi-destinasi wisata lainnya seperti pantai, gunung, danau, kolam renang, taman bermain, taman bunga, kebun binatang, dll.

Di masjid tersebut para pengunjung melakukan foto selfi, bercengkerama, makan bersama, dan sebagainya. Mereka merasa bangga setelah mengupload foto selfi di media sosial dan mendapatkan Like atau Comment yang banyak. Mereka ini termasuk tipikal orang yang senang berselfi ria. Mereka biasanya tak lagi fokus terhadap obyek wisatanya, sehingga justeru tak dapat menikmati keindahan dari obyek wisata itu sendiri. Bahkan, saking asyiknya melakukan foto selfi, bagi yang Muslim sampai lupa melaksanakan kewajiban shalat.

Tak Diimbangi Dengan Anjuran Shalat Berjamaah

Jikalau hanya ingin berlomba-lomba membangun sebuah masjid yang besar dan megah, siapapun bisa melakukannya. Pemerintah daerah manapun mampu mewujudkannya. Yang terpenting dana tersedia, semuanya menjadi mudah.

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah membangun fisik masjid tak semudah membangun manusianya. Mengajak seseorang untuk mau shalat berjamaah ke masjid bukanlah perkara yang mudah. Bahkan, ketika kebetulan rumah dia berada di depan atau samping masjid sekalipun. Sebab, pergi ke masjid dibutuhkan sebuah kesadaran iman. Iming-iming pahala 27 derajat sekalipun belum tentu menarik buat mereka.

Inilah menjadi PR bagi kita semua, terutama buat para ulama dan kiai, bagaimana caranya agar umat Islam ini memiliki kebiasaan melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Terlebih saat ini jumlah masjid semakin banyak dan jaraknya juga semakin dekat dari rumah. Jangan sampai kaum Muslim yang laki-laki menjadi “lelaki shalihah” karena lebih suka shalat di rumah daripada di masjid, hehe

Jangan hanya sekedar memperbesar atau mempermegah bangunan masjid , tapi perbesar (perbanyak) pula kegiatan-kegiatannya. Kegiatan masjid diperluas lagi, tidak hanya sebatas ibadah rutin saja. Buatlah kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial, ekonomi, maupun budaya. Ada santunan anak yatim-piatu dan kaum dhuafa, ada pemberdayaan ekonomi untuk ibu-ibu, ada diskusi untuk kaum remaja, ada pelatihan kesenian yang bernafaskan Islam, dll. Insya Allah akan banyak orang yang tertarik untuk datang ke masjid, bahkan hatinya akan terikat dengan masjid.

Kuantitas penting, namun kualitas jauh lebih penting.

*****

Betul sekali kata Gus Baha dalam pembukaan tulisan ini. Sekalipun tidak ada masjid, orang Islam masih tetap bisa menjalankan shalat. Orang bisa shalat di dalam rumah, di tanah lapangan, di rerumputan, di bebatuan, di atas kapal, dan di manapun. Terlebih shalat lima waktu adalah sebuah kewajiban, sesuatu yang mau tidak mau harus ditunaikan, dalam situasi dan kondisi yang bagaimana pun juga.

Jangan sampai terjadi, masjid-masjid yang besar dan megah itu tak lebih hanya sebatas bangunan fisik semata, tak ada ruh di dalamnya. Tak lebih hanya sebatas monumen yang menjadi ikon dan kebanggaan belaka. Apalagi hanya sebatas atraksi wisata sebagaimana obyek wisata-obyek wisata lainnya.

Jangan sampai bangunan yang teramat besar dan megah, tapi sesungguhnya kerdil dan rapuh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image