Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hamdani

Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Politik | Monday, 05 Dec 2022, 08:13 WIB
Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Ahytar menyerahkan bantuan sembako di lapngan Blang Padang Banda Aceh, Ahad, (4/12/2022).(KOMPAS.COM/DASPRIANI Y. ZAMZAMI)

4 Desember merupakan hari (kemarin) yang penuh arti dan memiliki nilai sejarah bagi mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada hari ini kelompok pejuang kemerdekaan Aceh tersebut memperingati hari kelahirannya atau Milad GA sekaligus sebagai hari kemerdekaan Aceh.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah Aceh hingga saat ini masih merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lantas kemerdekaan Aceh mana yang sedang diperingati?

Tulisan ini tidak mengulas tentang bagaimana kemerdekaan Aceh itu diperingati dan rayakan. Namun lebih mengurai apa sesungguhnya kemerdekaan itu?

Memaknai kemerdekaan bisa saja berbeda oleh setiap orang. Mungkin sebagian mereka melihat kemerdekaan itu dari aspek kebebasan dari bentuk penjajahan oleh siapapun. Penjajahan secara fisik maupun psikis.

Meskipun saat ini model penjajahan baru sedang berlangsung di berbagai belahan dunia, dan tidak selalu dalam bentuk penjajahan fisik. Contohnya penjajahan ekonomi melalui skema hutang atau menciptakan ketergantungan lainnya.

Dalam konteks Aceh, kemerdekaan yang diinginkan oleh masyarakat nya adalah adanya kebebasan dalam menjalankan dan menerapkan syariat Islam dalam berbangsa dan bernegara tanpa dipersulit oleh kekuasaan yang lebih tinggi hirarkinya.

Tidak saja itu, Aceh juga menginginkan daerahnya dapat dikelola secara mandiri dan otonom dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan. Tidak seperti sekarang ini, kendatipun sudah tertulis secara implisit dalam undang-undang namun sulit dijalankan karena berbagai macam alasan.

Maka tidak heran jika ada yang bilang, Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) hanyalah pepesan kosong atau dagelan politik pusat belaka. Meskipun UUPA itu diajukan oleh dengan mengatasnamakan rakyat Aceh kala itu.

Lalu apa sesungguhnya kemerdekaan yang ingin diperjuangkan? Tidak lain adalah satu kondisi dimana rakyat Aceh dapat hidup sejahtera dan bahagia lahir batin serta dapat menjalankan apa saja yang dianggap baik bagi kehidupan rakyat Aceh saat hingga mendatang.
Kehidupan sejahtera yang dimaksud adalah terbebasnya rakyat Aceh dari kemiskinan, kebodohan, dan kemunduran ekonomi.

Sedangkan kebahagiaan yang dambakan yaitu kebebasan berekspresi dalam wujud Islam serta dapat mengembangkan potensi diri untuk mencapai cita-cita luhur indatu yakni menjadikan Aceh sebagai negara yang baldatun tayyibatun warabbul ghafur. **

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image