Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Santuso

Menduplikasi Metode Pengajaran Rasulullah dengan Talaqqi Fikriyyan

Eduaksi | Saturday, 26 Nov 2022, 15:35 WIB
Talaqqi fikriyyan

Ayah dan Bunda, banyak yang menyusun teori tentang metode pengajaran. Hari ini, umat Islam disilaukan dengan aneka gagasan dari Barat yang belum tentu sahih. Tentu kita harus waspada, karena hal-hal tersebut belum tentu sesuai fitrah dan sesuai Wahyu.

Islam memiliki kekhasan tersendiri dalam memandang anatomi akal dan jiwa manusia yang tidak lain adalah ciptaan Allah ta'ala. Karenanya hanya Allah Yang Maha Mengetahui cara membentuk dan memperlakukan manusia.

Allah telah mencontohkan tahap-tahap pendidikan manusia yang sesuai dengan fitrah. Contoh tersebut ada pada diri Rasulullah Saw. Allah menjadikan tugas kenabian beliau meliputi aktivitas berdakwah dan mengajar. Bahkan, Rasulullah Saw sendiri menegaskan bahwa dirinya diutus sebagai pendidik, dalam hadits riwayat Ibnu Majah dengan sanad dhaif

 

إنما بُعثت معلِّمًا

"Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik"

Sebagai pendidik, Rasulullah Saw membawa metode baku pendidikan yang merujuk kepada wahyu. Bagaimana metode itu? Tidak lain, metode tersebut adalah talaqqiyan fikriyan.

Metode tersebut terdiri dari dua kata, yaitu talaqqi dan fikriy. Talaqqiy(an) merupakan mashdar dari kata talaqqa-yatalaqqi yang artinya mengambil sesuatu. Fikriy adalah kata sifat dari fikr (pemikiran). Maka fikriy bermakna bersifat pemikiran. Karena itu belajar secara talaqqiyan fikriyan artinya belajar dengan cara mengambil ilmu dari guru dan memahami ilmu sebagai sebuah pemikiran yang akan berbuah mafahim (pemahaman) sebagai landasan bagi sudut pandang dan perbuatan.

Dengan kata lain, metode Talaqqiyan Fikriyyan adalah metode pemindahan ilmu kepada orang lain sebagai sebuah pemikiran dengan cara mentransfer hasil penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak kemudian dihubungkan dengan informasi sebelumnya yang telah terbukti benar kepastiannya dan digunakan untuk menginterpretasi fakta tersebut.

Metode pembelajaran talaqqiyan fikriyyan adalah adalah suatu cara untuk mengaplikasikan atau merealisasikan sebuah ide sehingga dapat diaplikasikan dan bukan hanya sekedar teori atau falsafah kosong dengan cara memahami akan hakikat fakta yang diperoleh dari proses sebagaimana dijelaskan di atas.

Selanjutnya, otak memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Hasil dari penilaian itulah yang disebut pemikiran atau kesadaran rasional. Dari pemikiran tersebut diambil dan dijadikan sebagai sebuah pemahaman yang integratif terhadap kehidupan dengan mengaplikasikan pemikiran tersebut.

Maka terlihat dari definisi di atas bahwa metode talaqqiyan fikriyan mensyaratkan empat hal, yaitu adanya guru, adanya murid, adanya pertemuan antara keduanya, dan adanya transfer ilmu dari guru ke murid yang dilakukan dengan cara mengaktifkan akal dan indera, serta pengaitan antara ilmu dengan fakta kehidupan.

Rasulullah saw sendiri mencontohkan praktek talaqqiyan fikriyan tersebut. Hal ini tercermin dalam firman Allah ta'ala dalam QS Ali Imran 164,

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

Ayat di atas memberikan gambaran bagaimana manhaj dalam penyampaian ilmu dalam Islam. Rasulullah saw menemui manusia lalu membacakan ayat Allah dan memahamkan mereka kandungan ayat Allah tersebut. Metode inilah yang menghasilkan generasi sahabat yang mengubah wajah padang pasir Arabia menjadi episentrum peradaban dunia selama berbelas abad berikutnya.

Hari ini jika kita melihat adanya gagasan-gagasan yang mencoba melepas peran guru dan pentingnya pertemuan guru-murid dalam pendidikan, hanya akan menggiring generasi menuju kejiwaan yang tidak sesuai fitrah. Ditambah lagi ketidakpahaman guru akan posisi dirinya yang seharusnya bukan sekedar pengajar melainkan pendidik yang men-tatsqif anam didiknya, membuat proses pendidikan menjadi hambar, ritual yang tidak punya ruh dan jauh dari keberkahan. Tidak heran, jika hasilnya jauh dari harapan. Fenomena tawuran, pergaulan bebas, perilaku alay dan nirakhlak menghiasai generasi kekinian. Alumni pendidikan menjadi generasi korup, menjadi akibat tak terhindarkan dari hilangnya ruh pendidikan di dunia pendidikan.

Talaqqiyan fikriyan menjadi jawaban mutlak atas persoalan pendidikan hari ini.

STP KHOIRU UMMAH JEMBER

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image