Sudahkan Perusahaan kita menjadi Organisasi Pembelajar (Learning Organization)?

Image
Hery Wibowo
Eduaksi | Friday, 25 Nov 2022, 05:14 WIB

Sudahkan Perusahaan kita menjadi Organisasi Pembelajar (Learning Organization)?

Learning Organization atau organisasi pembelajar pertama kali dipopulerkan oleh Peter Senge dalam bukunya The Fifth Discipline (1990). Menurut Senge, keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengembangkan institusinya menjadi organisasi pembelajar.

Secara umum, Learning Organization (LO) muncul ketika beberapa riset (sumber: bdkmalang) menemukan bahwa suatu organisasi harus secara terus menerus beradaptasi dengan linkungan melalui pembelajaran yang cepat dan efektif, sehingga pembelajaran dalam organisasi ini harus sama cepatnya atau bahkan melebihi kecepatan proses perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi

Khususnya pada konteks revolusi industry 4.0 hari ini, dimana kecepatan berkompetisi (yang harus diawali dari kecepatan belajar) adalah segalanya.

Maka, organisasi pembelajar merupakan wadah bagi orang-orang yang terus menerus meningkatkan kapasitasnya untuk menciptakan hasil yang benar-benar diharapkan (dikutip dari pusdiklat.perpusnas.go.id). Idealnya di dalam organisasi pembelajar, setiap individu mampu mengembangkan berbagai pemikiran barunya, bebas menyampaikan aspirasinya, dan bagaimana masing-masing individu terus belajar bagaimana belajar bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut, Senge menyarankan penggunaan 5 komponen teknologi, yaitu: pemikiran sistem (System Thinking), penguasaan pribadi (Personal Mastery), model mental (Mental Model), visi bersama (Building Share Vision)dan pembelajaran tim (Team Learning).

Maka berikut kupasan singkat dari masing-masing komponen

System Thinking

Dimensi ini mengupas bagaimana caranya berpikir sistem. Berpikir sistem, berarti berpikir dengan memperhatikan seluruh komponen sistem, baik global maupun detail, baik analisa jarak dekat maupun jarak jauh (helicopter view). Berpikir sistem mensyaratkan pemahaman tentang bagaimana sebuah sistem bekerja, hubungan antar unit, arus pekerjaan dan lain-lain.

Personal Mastery

Dimensi ini dinamakan penguasaan pribadi, yaitu seberapa besar pribadi-pribadi dalam organisasi mampu menampilkan etos dan kinerja terbaiknya, bagi dirinya dan orang lain. Istilah ilmiah yang menggambarkan ini adalah personal effectiveness, yaitu seberapa besar individu bersedia berjuang untuk menghasilkan daya dorong (etos) dan kinerja terbaik, bagi dirinya dan tim-nya. Inilah salah satu faktor penting dalam organisasi pembelajar.

Mental Model

Dimensi ini berbicara tentang cara pandang atau mentalitas anggota organisasi. Secara khusus ini adalah isu tentang bagaimana masing-masing individu melihat dunia (nya). Hal ini menjadi penting karena bagaiman kita memandang/mempersepsi dunia, akan mempengaruhi bagaimana berperilaku terhadapnya. Sebagai contoh, akan sangat berbeda perilaku individu yang menganggap sesuatu ‘gangguan dalam pekerjaan’ sebagai masalah yang menghambat, atau sebagai tantangan pembelajaran. Sejumlah mental model positif telah dirumuskan oleh praktisi NLP seperti:

A. The Map is not The Teritory

B. There is no failure, only feedback

C. If someone can do something, than we can learn to do it too

Building Share Vision

Seperti layaknya sejumlah pedayung dalam satu perahu, maka perahu akan meluncur dengan cepat ke tujuan, ketika mereka semua mendayung ke arah yang sama. Inilah amanah penting dari pemimpin organisasi.

Maka, sangat penting kiranya bagi pemimpin untuk mampu menterjemahkan visi personal menjadi visi bersama. Hal ini akan berjalan dengan lebih baik jika disertai kejelasan tujuan, antusiasme dan komitmen untuk bekerja sama

Team Learning

Sebuah tim, sejatinya adalah lebih dari kumpulan unit di dalamnya. Sebuah tim seyogianya, dapat menghasilkan berkali lipat dari sekedar akumulasi unit di dalamnya. Tim yang baik, sejatinya mampu menampilkan kinerja terbaiknya, dengan berbasiskan pada sejumlah hukum-hukum tertentu, seperti yang dipopulerkan oleh Maxwell berikut ini

1. Hukum Nilai Kerjasama

2. Hukum Posisi yang tepat

3. Hukum Gambaran besarnya

4. Hukum Gunung Everest

5. Hukum Keterandalan

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image